Senin, 30 April 2007

Air

Kemarin, kudengar hiruk pikuk
Berarak tak sabar melintasi rumahku
Tahan ! Satu suara berdesau gusar
Pak tani tak menginginkan mereka

Hari ini, mereka berderak ke rumahmu
Melintasi pipa-pipa tak berperasaan
Lalu keluar lagi dengan wajah kuyu membiru
Sebab terkecup bibir mercurymu

Lekas ! Lekas ! Lekas !
Sekelompok beriak parau
Satu menjerit, dua menggelepar
Yang lain mati dalam teriak mendesis
Sebab tanah yang dipijak hendak mendidih

Kini mereka mereka menjadi monster
Hantu yang bergentayangan di dekat rumahku dan rumahmu
datang dalam rupa-rupa elok
Sebentar lagi mahal, membuat kita tercekik

Belumkah kau menyaksikan
Airku, airmu, air kita saling kenal
Lihatlah, mereka saling berpelukan
Beramah tamah di lautan sejak dari gunung-gemunung
Berkumpul dalam kumpulan arus yang besar
Lalu berderak ke segala arah

Maka marilah bersulang kawan
Karena jus lumpur spesial jadilah hidangan
Bahan-bahannya adalah seluruh isi rumah dan binatang ternak
Bahkan anak-anak kita
Juga diriku, dirimu
Minumlah, sedotlah lagi biar lenyaplah dahaga
Maaf, agak amis dan nyinyir
- dream blog -

Sabtu, 21 April 2007

Selamat Tinggal Ego Masa Muda!

Saya telah memecat Tuan Kekalahan dari dalam pikiran saya. Saya tidak membutuhkannya. Dia tidak membantuku sama sekali ke tempat yang akan kutuju. Maka kupecat ia. Sekarang saya akan menggunakan Tuan Kemenangan di dalam pikiran saya. Saya limpahkan semua divisi pikiran kepada Tuan Kemenangan. Dia bisa selalu memperlihatkan bagaimana saya bisa berhasil. Saya akan mempercayakan dan menggunakannya dalam setiap kesempatan.

Hari ini hari baik! Nah, Tuan Kemenangan, aku isyaratkan Anda untuk maju!

"Hari ini baik sekali, Tuan Imhaya. Cuaca cerah. Hidup ini menyenangkan sekali. Betapa segarnya hujan ini. Betapa hangatnya sinar matahari. Ini membuat kita senang menjalani hidup. Hari ini Anda dapat mengejar sebagian aktivitas Anda. Terus maju, Tuan! Hidup ini indah!"

*****

Aku berjanji kepada diri ini untuk selalu berubah, kepada jiwa raga yang lebih baik dan terbaik. Menyongsong masa depanku yang cerah, demi keluargaku, dan anak-anakku kelak. Untuk mereka yang kucintai, agar dapat hidup lebih layak. - dream blog -

Rabu, 18 April 2007

Sarimin Minta Sekolah

(2nd Cerpen)
Bungkam, bukanlah diam. Bungkam, ingin meledak. Bahkan sebuah rumah yang kita sepikan di pojok itu menyimpan lidah api. Akan membakar rerumputan kering di suatu saat, tak terkira.

---

“Sekolah, hanya bikin orang malas dan rakus, jahat, juga suka menipu. Lihat saja, anak-anak muda di dekat pasar itu! kerjanya hanya menggoda perempuan, kalau tidak mabuk-mabukan lalu memalak kuda. Ingat kau, sawah kita yang sekarang berdiri kantor desa? Dulunya, orang-orang sekolahan itu bilang untuk kesejahteraan kampung kita. Tapi apa? Tempat untuk mengumpulkan upeti dari rumah kita sendiri. ”katanya dengan berang.

“Apa itu berarti sekolah yang membuat mereka seperti itu dan karenanya anak kita tak boleh sekolah?“

“Jangan bilang mereka itu tak sekolah sepertiku, aku kenal mereka seperti semua orang-orang di kampung ini juga mengenali kebodohanku”

“Aku pernah sekolah di SD, tapi aku tak seperti mereka?”

“Kubilang tidak, si Olan tetap tak boleh sekolah. Mereka bukan saja sudah sekolah di SD, bahkan lebih tinggi dan paling tinggi. Kau tidak seperti mereka karena kau isteriku.” Katanya gusar pada isterinya.

“Apa kau tidak kasihan pada anak kita?”

“Belikan dia seragam yang paling bagus, tapi bukan untuk sekolah.” Katanya lebih lunak.

“Lalu untuk apa?” isterinya bingung.

“Untuk menggembalakan kerbau, dia akan suka. Oh ya, tembakauku hampir habis, jangan lupa.” ujarnya menutup pembicaraan.

Ia berangkat dengan memanggul kapak di punggung, nampaknya hendak ke hutan. Dari kejauhan, terlihat olehnya si Olan anaknya yang baru berumur 6 tahun sedang becengkrama bersama beberapa kawannya di atas punggung kerbau. Hatinya kembali galau oleh percakapannya dengan isterinya, percakapan yang telah berulang sampai puluhan kali. Wajah orang-orang kampungnya melintas di kepalanya, membuat bulu kuduknya bergidik dongkol dalam kemuakan. Ia tak habis pikir. Dahulu, ketika baru beberapa orang yang bersekolah, tak ada kebencian sedikitpun terhadap mereka. Kini, saat hampir dirinya saja yang tak pernah sekolah kecuali anak-anak kecil itu, semua orang menganggapnya dungu dan bodoh. “Apa untungnya bisa baca dan tulis? Apakah bisa menghasilkan makan untuk anak dan isteri? Padahal aku mampu lakukan semua hal yang bisa mereka lakukan kecuali membaca dan menulis. Dan lagi, belum tentu mereka bisa lakukan apa yang bisa aku lakukan seahli aku.” gumamnya.

Bias-bias matahari pagi mulai menembus lubang-lubang langit di pepohonan. Badannya basah oleh peluh sedangkan embun pagi belum lagi menguap dari urat-urat daun yang berserakan di tanah. Ranting-ranting kayu dikumpulkannya, beberapa pohon kayu kering tumbang oleh kapak lalu dibelahnya. Binatang-binatang hutan kaget dan ketakutan akibat kegaduhan yang dibuatnya pada pagi itu, beberapa ekor burung berkelebat panik dari sebuah pohon dan dua ekor burung hantu menjerit-jerit marah seolah merasa terancam tapi tak diacuhkannya. Kayu-kayu yang dikumpulkannya sudah menumpuk setinggi lutut, ia mulai lelah. Tapi ia tidak berhenti dari pekerjaannya. Kini ia malah mencari rotan kecil buat pengikat. Jerit burung hantu terus mengganggu telinganya, tapi ia hanya bisa mengumpat lalu kembali untuk mengikat kayu-kayunya.

Tumpukan kayu itu dibaginya menjadi dua tempat, ranting pemikul yang cukup kuat sepanjang kedua depa tangannya diletakkannya sebagai antara lalu diikatnya kedua tumpukan itu pada masing-masing ujung pemikulnya. Ia sudah siap berangkat pulang dengan pikulan di punggung, tapi urung oleh suara burung.

“Mungkinkah anak-anak burung itu menjerit-jerit karena terjatuh ke tanah?“ Pikirnya.
“Ah… si Olan mungkin suka punya burung hantu.”

Ia lalu mencari suara itu, berputar-putar sambil menyibak semak-belukar. Tak beberapa lama yang ditemukannya bukannya anak burung hantu dengan sayap dan bulu-bulu coklatnya melainkan sesuatu yang hitam seperti bayi.

“Ai, orok setan?” Ia terpekik bergetar, lalu diperhatikannya lagi lebih dekat. Rupanya seekor bayi lutung yang ditinggal kawanannya. Dengan ragu-ragu ia meraihnya, ada kengerian kalau-kalau makhluk itu tiba-tiba saja menggigit tangannya. Tapi tidak, bayi lutung itu seperti acuh saja.

Pikulan kayu dihempaskannya didekat tangga dapur lalu bergegas menuju beranda rumah, isterinya menyambutnya dengan tatapan bertanya-tanya. Ia membuka sarung yang dikalungkannya di lehernya.

“Bayi monyet?” isterinya bertanya.

Ia hanya mengangguk kebingungan tanpa suara. Isterinya cekikikan melihat tingkah suaminya dan lalu tersedak karena tawa yang ditahannya di leher, sebab wajah suaminya terlihat gusar merasa ditertawakan.

“Si Olan pasti senang, tapi bagaimana kita memeliharanya?” katanya mengembalikan suasana. Suaminya menggeleng lalu berkata sambil berlalu kalau ia hendak memanggil si Olan.

Tak beberapa lama kemudian si Olan muncul bersama kawan-kawannya. Mula-mula tak ada yang berani terlalu dekat, tapi lama-lama anak-anak itu bergantiaan mengelusnya.

“Ia minta susu!” kata seorang anak.
“Bu, ia minta susu!” seru Olan pada ibunya.
“Hah?” ayahnya kaget.
“Kasih saja susu kerbau,” kata ibunya dari dapur.
Ayahnya kemudian bergegas menuju kawanan kerbau, hendak memerah susunya.
“Siapa namanya bu?” Olan bertanya.
“Panggil saja Sarimin.” Kata ibunya yang teringat pementasan topeng monyet di pasar.

Hari itu dunia kanak-kanak di kampung si Olan geger terbahak-bahak. “Si Olan punya adik berwajah lutung, namanya Sarimin.” Begitu bunyi kabar yang menggemparkan itu. Tetangga-tetangganya banyak yang datang, ada yang tersenyum dikulum, ada pula yang mengumpat dan mencibir. Ayah si Olan seharian seperti orang linglung, ia kembali menjadi pusat perhatian dan bahan olok-olok orang kampung. “Keluarga itu tak bisa membedakan manusia yang hidup di rumah dan lutung yang hidup di pepohonan, monyet dikasih susu kerbau, monyet pakai baju.” Begitu kata celaan yang keluar dari mulut orang-orang kampung sambil terbahak-bahak.

---

Beberapa bulan telah lewat, keluarga itu mulai terbiasa dengan keberadaan monyet Sarimin. Tapi ada yang berubah, Ayah si Olan kini lebih sering diam dan agak kurus. Isterinya terus-menerus dihantui rasa cemas melihat perubahan suaminya, karena itu ikut kurus. Sarimin si monyet kini lebih besar serta kuat dan lebih sering bergantung di ketiak Olan, sedangkan anak itu juga agak kurus karena perhatiannya kini terbagi kepada kerbau dan monyetnya. Kian hari keluarga itu makin terkucil saja dari kehidupan kampungnya. Selain karena tidak tahan oleh gunjingan, juga karena semakin menarik diri dari pergaulan. Hanya Ibu si olan saja yang tetap ke pasar untuk menjual dan membeli keperluan yang benar-benar dibutuhkan, kadang disertai bonus umpatan gratis.

“Si Olan dengan kerbau-kerbaunya sudah kelas berapa?” atau “Si Olan dapat nilai berapa hari ini dari gurunya si kerbau?”. Ia hanya menjawab bahwa jumlah kerbau si Olan kini enam ekor ditambah empat anaknya yang masih menyusu. Begitulah, keluarga itu sudah menjadi bahan olok-olok yang nikmat. Dijamin, bahkan oleh tukang cerita yang terburuk sekalipun akan sanggup membuat perut terkocok sampai keram sehingga saraf-saraf yang tegang setelah seharian berburu kesempatan dalam persaingan bagaimanapun ketatnya akan kembali santai.

---

Pada suatu hari Olan mulai jenuh dengan seragamnya yang mulai lusuh, karena itu ia meminta dibelikan yang baru. Maka Ibunya pun membelikannya pada keesokan harinya. Seragamnya yang lama kini dikenakan oleh Sarimin si monyet. Tetapi hanya beberapa lama kemudian Olan mulai merajuk lagi minta disekolahkan bersama kawan-kawannya, si Sarimin ikut-ikutan. Ibunya hanya mengatakan kepadanya agar bersabar, bahwa ia akan bersekolah juga seperti yang lain bila sudah waktunya. Olan malah merengek, ia merajuk sampai ayahnya tiba. Mata Ayahnya merah oleh amarah melihat Olan dan si Sarimin yang berseragam itu minta sekolah dan ia lebih marah lagi karena mendengar langsung permintaan itu dari anaknya sendiri. Sekelebat ia meraih rotan lalu mencambuki dan mencincang-cincang tubuh anaknya itu bagai kesetanan sambil menumpahkan kekesalan yang sekian lama tertumpuk di hatinya:

“Bahkan kau anakku sendiri, hendak menjadi bahagian dari mereka? Tidakkah kau lihat mata mereka menatap kita seperti kotoran, Hah? Kau anakku hendak minta sekolah lalu setelah berpendidikan maka kembali mengumpat kami yang tak tahu apa yang kau tahu? Kalianlah yang mengadakan kedunguan lalu meletakkannya di wajahku sambil terbahak-bahak dengan telunjuk di hidungku! Aku tidak dungu, Ibumu tidak bodoh, keluargaku bukan keluarga binatang!”

Disepaknya jauh-jauh Sarimin si monyet yang terjatuh dari ketiak Olan, binatang itu menjerit melengking karena kesakitan. Olan berteriak ampun. Ia tenggelam dalam lautan pedih dan ketakutan melihat keberingasan ayahnya. Tubuhnya lunglai tak bertenaga, terhempas telentang ke lantai. Seragamnya sobek-sobek terkena sabetan rotan. Ibunya hanya bisa histeris sedari tadi, tak mampu melindungi anaknya. Ayahnya kemudian menyudut di pojok bertelekung lutut, dan menangis. Amarah yang sekian lama dipendamnya, akhirnya tumpah pada anak yang ingin dijaganya dari yang menurutnya kejahatan sekolah. Beberapa tetangga yang mendengar keributan itu berseliweran di jalan, mengintai. Mereka mulai bergunjing lagi bahwa keluarga dungu itu mulai sakit gila.

Orang-orang di rumah itu diliputi nelangsa, sendiri merasai penderitaannya.

Keadaan sunyi senyap, sudah malam. Lengang. Hanya sesekali terdengar suara sesengukan. Sariminlah yang pertama kali membuat gerakan dengan mengorek-ngorek tubuh Olan yang akhirnya siuman. Ia tersadar tengah terbaring di pangkuan ibunya. Ayahnya di sudut ruangan, mulai menyadari dirinya.

“Kerbauku belum kuantar pulang” kata Olan sambil merintih. Ayahnya yang mendengar itu lalu menyergapnya tiba-tiba dengan pelukan, tangisnya pecah lagi, ibunya juga.

“Maafkan ayah nak, ayah tak bermaksud menyakitimu”

“Tapi ayah mencambukiku sangat keras” Olan protes.

Ayahnya tak tahu harus mengatakan apa, ia memang tak bermaksud dan tidak pernah mau menyakiti anak yang dicintainya, tapi kenyataannya ia menyakitinya.

“Ayahmu tidak sadar” kata ibunya, ayahnya mengangguk membenarkan tetapi anak-anak tak paham apa itu sadar dan tidak sadar. Ia terdiam sementara nafasnya masih tersengal sesengukan. Keesokan harinya matahari datang seolah tak terjadi apa-apa. Semua terlihat biasa saja kecuali luka di sekujur tubuh si Olan.

Ibunya sudah pulang dari pasar, mereka baru saja usai makan siang ketika disodorkannya sebuah seragam baru kepada anak semata wayangnya itu, tetapi ditolaknya.

“Aku tak mau sekolah lagi, seragamnya kasih ke Sarimin saja”

“Tidak apa-apa kalau tidak mau sekolah, belajar tidak harus sekolah. Ibu bisa mengajarimu apa saja, bapakmu juga.”

“Bapak dan ibu jadi guruku?” katanya girang.

Ibunya mengangguk.

“Kalau begitu, aku dengan Sarimin jadi muridnya”

Olan mulai riang lagi. Diceritakannya pada kawan-kawanya kalu ia pun akan segera sekolah, ibu dan bapaknya yang jadi gurunya. Kawan-kawannya yang masih berseragam sebab baru saja pulang dari sekolah terbahak-bahak mendengar itu.

“Ibumu jadi guru apa, bapakmu bisa mengajar apa?”

“Ibuku pandai membaca, menulis dan bernyanyi seperti guru yang kalian ceritakan, bapakku bisa mengajariku olahraga berenang, berburu, memanjat, menombak, lari. Semua itu olahraga juga, bukan?”

“Tapi di sekolah kami bermain bola, kami punya seragam olahraga dan ruang kelas.” Kata seorang anak.

“Aku dan Sarimin bakal dibelikan, juga bola. Ruang kelasku adalah alam ini. Apa di sekolah kalian juga belajar berenang di sungai dan berburu di hutan?”
Anak-anak itu terdiam menggeleng.

“Kalau begitu, sekolahku nantinya lebih baik dari sekolah kalian. Kalian musti minta agar diajari berenang dan berburu.”
Anak-anak itu mengangguk setuju.

Sejak hari itu kawan-kawan Olan lebih banyak mendengarkan Olan dan tidak lagi menjadikannya bahan olok-olok. Kadang ketika sedang bercengkrama dengan keluarga mereka masing-masing tak jarang mereka melontarkan pujian pada Olan yang disambut protes dari orang tua mereka.

Kini Olan benar-benar sudah berhenti menginginkan untuk sekolah bersama kawan-kawannya. Ia benar-benar menikmati kesibukan barunya itu. Pelajaran yang paling disukainya adalah berenang dan berburu. Ia kembali ke keriangan-keriangan lamanya yang tanpa seragam. Hanya si Sarimin saja yang seolah sudah kepincut menjadi anak sekolahan, sebab seragam yang dikenakannya tak mau dilepaskannya sama sekali meskipun telah kumal dan kotor. Bila sesekali saat bermain Olan berusaha mengambil seragam itu, Sarimin akan marah.

Seperti itulah, kemana pun mereka pergi si Sarimin tak pernah alpa dengan seragamnya. Si Sarimin pulalah yang seolah-olah sedang mengusik kebanggaan orang-orang kampung pada sekolah. Dalam kepala mereka timbul pula kejengkelan pada keluarga Olan yang dungu itu. Sebab menurut mereka, Ayah si olan sengaja mengolok-olok mereka dengan monyet berseragamnya. Beberapa kali orang-orang kampung mencoba melucuti pakaian si Sarimin tapi monyet itu melakukan perlawanan sehingga selalu saja bisa menyelamatkan diri dan makin jengkellah mereka.

Ayah si Olan, sekarang menjadi lebih menahan diri, hal-hal yang tak disukainya ditelannya saja. Tak pernah lagi ditanggapinya cacian orang-orang kampungnya, juga tentang protes mereka atas seragam si sarimin. Ia menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan-kegiatannya. Ia larut dalam semua kegiatan-kegiatan itu sehingga terlihat jelas keseriusannya dan melimpahlah hasil yang didapatkannya lebih dari yang diharapkannya.

Ia memiliki semangat, yaitu semangat untuk menunjukkan kepada anak dan isterinya bahwa menjadi orang 'dungu' dan 'bodoh' bukanlah sesuatu yang buruk. Lebih dari itu sedari kecil di dadanya sudah terpatri semangat kegeraman terhadap pandangan orang-orang kampungnya yang picik dan kerdil.

---

“Sedikit-sedikit keadaan ini tak tertahan lagi olehku.” Katanya kepada isterinya pada suatu ketika.
“Aku ingin menyerah, aku tahu selama ini kalian menanggungkan penderitaan yang dialamatkan kepadaku.”
Isterinya hanya terdiam.

“Lumbung kita dipenuhi makanan, kerbau-kerbau Olan selalu bertambah sepanjang tahun. Tak akan pernah habis lalu membuat kita mati dalam kekurangan kecuali kita tak mampu menjaganya. Tetapi apa arti semua itu bila hati ini tak tenteram?”

Isterinya tetap diam, ia juga diam. Kini hanya suara Olan dan si Sarimin saja yang memecah keheningan rumah itu, mereka bergulingan sambil cekikikan geli tertusuk rumput halaman.

“Lihatlah keceriaan anak itu, seperti tak menanggungkan apa-apa. Tetapi aku tahu ia mengetahui semuanya. Ia tahu kenapa kawannya yang paling akrab hanyalah si Sarimin. Andai monyet itu tak ada, aku tak akan sanggup melihat kemurungan di wajahnya.”

“Ia sudah tak menginginkan sekolah bersama kawan-kawannya lagi.” Kata isterinya.

“Ia mencintaiku. Aku pernah seperti dirinya, makanya aku tahu. Aku lebih memilih ayahku ketimbang keinginan mereka atasku untuk menjadi seperti mereka meskipun akhirnya terenggut dariku.”

“Apa rencanamu?”

“Membuat orang-orang kampung berhenti membenci kita.”

“Si Olan boleh sekolah?“ Tanya isterinya.
Suaminya hanya menggeleng.

“Sepanjang hidupku telah kuhabiskan membuat mereka tidak mengolok-olok kita dengan memperlihatkan bahwa kita sungguh tidak bodoh dan dungu melalui apa yang kita punya. Tapi keadaannya tetap sama. Meskipun begitu, Olan tetap tidak boleh sekolah selama aku masih sanggup membuat kita mampu menghindarkan diri dari kehidupan mereka.”

---

Beberapa hari kemudian, di suatu pagi ketika ia hendak berangkat ke hutan mencari kayu, seseorang berseragam muncul dan memberitahukan agar semua orang kampung berkumpul di balai desa. Awalnya ia urung hendak ikut. Tetapi isterinya membujuknya, maka ia pun berangkatlah. Di sana orang-orang kampung telah hadir di depan Pak Camat yang baru saja mulai berpidato.

“Di kampung ini ada yang suka berburu?” Tanya Pak Camat dalam pidatonya.

“Ada Pak!!!” koor penduduk kampung sambil menunjuk Ayah si Olan dengan mata. Ayah si olan mukanya merah padam.

“Kalau Penebang kayu?”

“Ada Pak!!! Ini orangnya, sedang bawa kampak.” Teriak salah seorang penduduk lagi. Wajah Ayah si olan semakin gelap saja.

“Akhir-akhir ini, daerah kita banyak dilanda bencana. Kalau bukan banjir, kekeringan. Betul tidak?”

“Betuuul!” koor hadirin lagi.

“Itu semua disebabkan oleh rusaknya lingkungan kita, yaitu habisnya pohon-pohon di hutan akibat penebangan liar seperti yang dilakukan oleh bapak ini. Selain kerusakan itu, satwa-satwa liar juga semakin punah oleh banyaknya perburuan liar.” Katanya sambil mengarahkan pandangannya ke arah Ayah si Olan dengan maksud supaya kata-katanya dicamkan. Tetapi, ekspresinya terlalu kelihatan sehingga membuat hadirin mentertawakan Ayah si Olan sebagai tanda setuju akan makna tatapan itu ditambah kejengkelan mereka terhadapnya.

Ayah si olan semakin merah padam, ia marah lalu berdiri, katanya:
“ Kalian orang-orang sekolahan, melihat kebodohan dan kedunguanku, aku mengenali kecerdikan kalian. Kecerdikan yang sama sejak ayahku dan nenek moyangku. Memang, saya selalu ke hutan hendak mengambil kayu bakar untuk dapur isteriku. Memang, saya sesekali berburu ke hutan untuk makanan anak dan isteriku. Kalian menanggungkan semua kerusakan itu atasku dan saya tidak bisa mengelak. Saya mengambil kayu dan berburu binatang, senjataku kapak dan tombak, tetapi kalian menggunakan mesin dan senapan. Saya hanya mampu mengambil sedikit dengan kapak kecilku ini, kalian mengambil semuanya. Saya mendapatkan satu ekor saja sudah bahagia dan merasa beruntung, kalian mendapatkan sepuluh belum juga puas malah merasa sial. Kalian memang hebat dan pintar.” Katanya marah sambil menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan, tetapi para hadirin malah cengengesan meskipun dipaksakan. “Bisa juga dia bicara.” Begitu bisik-bisik mereka.

“Tenang! Tenang!” Pak Camat menenangkan suasana.

“Aku sudah tahu, ada di antara kalian yang tidak akan terima. Tetapi ini bukan tuduhan tak beralasan, banyak atau sedikit yang kalian ambil, tetap kalian adalah perusak. Karena itu kalian harus berhenti.” Katanya tegas.

Ayah si olan sedang berpikir tentang dengan apa isterinya akan memasak makanan bila ia berhenti mengambil kayu, ketika Pak Camat melanjutkan pidatonya lagi.

“Perusakan hanya pekerjaan orang-orang bodoh dan tolol yang tak berpendidikan sehingga tak mampu berpikir bahwa semua itu tidak hanya merusak dirinya saja tetapi semua orang.” Hujat Pak camat lantang.

Kontan tawa pecah di seluruh ruangan itu mendengar kata-kata ‘bodoh dan tolol’ serta ‘tak berpendidikan’ dari Pak camat, keriuhannya menghujam kehormatan Ayah si Olan. Perasaan terhina yang telah dirasakannya sepanjang hidupnya kembali terluka.

“Dia memang tidak pernah sekolah Pak!” seru salah seseorang melampiaskan kekesalannya pada Ayah si Olan, disambut tawa hadirin. Pak camat manggut-manggut dengan senyum dikulum.

Ayah si olan seperti tersengat kemarahannya yang membuncah. Tanpa kesadaran lagi diayunkannya kapaknya ke arah orang itu sambil menghambur ke arahnya, buk!

Orang itu tersungkur berlumuran darah sebab terkena lemparan tepat di kepalanya. Dengan cepat, Ayah si olan meraih kampak itu lagi lalu mengejar Pak camat yang sedang panik dan bingung menyaksikan peristiwa itu.

Bret!

Sabetan kapak yang keras itu menyobek pipi kanan Pak camat hingga tembus ke sebelah kiri. Kapak itu masih hendak berayun ketika dua orang pengawal camat menangkapnya dari belakang lalu melumpuhkan ayah si Olan.

Kejadiannya begitu cepat, hadirin yang tadinya tunggang-langgang kini mengerumuni mobil polisi yang hendak mengangkut ayah si Olan itu. Umpatan dan cacian kembali mengiringinya.

---

EPILOG

Sebelas tahun berlalu sejak kejadian di balai desa itu, gerbang sebuah Rumah Tahanan terbuka dan seseorang dengan tubuh ringkih melangkah gontai. Ia berpikir, mungkinkah anak dan isterinya sedang menanti-nantikan kedatangannya? Angin segar dihirupnya nikmat di sepanjang jalan menuju rumahnya, pulang. Sebelas tahun, tak sekali pun terlihat olehnya wajah mereka, juga rumahnya. Diingatnya, sesekali bila kawan seselnya menerima kunjungan keluarga dan orang-orang yang dicintainya, keinginannya untuk bertemu mereka juga muncul dengan sangat kuat. Tapi akhirnya dimakluminya juga keadaannya, sebab ada begitu banyak kemungkinan yang tak dapat dipahaminya dengan pasti.

“Olan!” serunya di tangga rumah yang samar-samar mulai tak dikenalinya lagi. Seorang perempuan, muncul di pintu diikuti oleh seorang pria pula.

“Ah… aku kira rumah ini bukan rumahku lagi!” serunya senang. Tapi wanita setengah baya itu tiba-tiba pingsan tak sadarkan diri.

Dari pria yang semula dikiranya anaknya itu diketahuinya kalau perempuan yang dahulu isterinya itu bukanlah isterinya kini, sebab ia sudah bersuami lagi. Ia kaget, tetapi berusaha untuk tetap tenang. Jadinya, tak terlihat kegusaran sedikitpun di wajahnya. Ia sekarang lebih matang. Tetapi ketika diketahuinya bahwa si Olan anaknya tinggal di kota karena sedang bersekolah pada sebuah SMU, ia mulai tak tenang. Wajahnya kuyu oleh kesedihan, lalu menitikkan air mata dan menangis. Ia tak habis pikir kalau inilah buah dari segala pengorbanannya.

Seekor monyet mendekat ke arahnya, Sarimin. Bulu-bulunya ada yang sudah berwarna putih. Seragam yang dikenakannya sudah compang-camping, kumal dan bau karena tak terawat. Ia menjadi semakin sedih menyaksikan keadaan itu, semua telah berubah, tetapi dirasanya seperti baru kemarin. Perasaan hampa memenuhi hatinya, lalu berkata:

“Tak ada alasan lagi padaku atas apapun jua.” gumamnya pada dirinya sendiri.

Sementara perempuan yang sudah asing baginya itu belum sadarkan diri, Ia pun meninggalkan rumah itu dengan membawa beberapa perkakas yang masih dikenalinya sebagai miliknya. Ia berjalan hingga kelelahan menuju sebuah rumah sawah yang sudah mulai rapuh dan lapuk, sebuah gubuk yang berdiri di atas sebidang tanah yang dahulunya menjadi sumber nafkah bagi ia dan keluarganya. Dikibaskannya debu-debu ngengat yang mengotori balai-balai, lalu merebahkan badannya di atasnya.

Dilihatnya kelam menari-nari di ujung hari berpesta bersama rona senja, menyambut malam yang gulita. Dan dilihatnya pula, bayang-bayang kenangan berlari mengarak kebusukan di atas kepala yang kuatir, hendak menggerogoti jiwanya. Sebentuk kerinduan akan semua masa-masa itu menyelinap di antara hati, hati yang telah menjadi pengecut, sebab renta oleh waktu. Tapi dengan sisa-sisa ketegaran masa mudanya, dihempaskannya jua godaan-godaan itu lalu bergumam sendiri:

“Oh, dunia! Bagaimana akan kau tebus semua yang telah kau renggut dariku? Karena bahkan seluruh milikmu tak akan kuanggap cukup untuk menyempurnakan hari-hariku yang mulai ditelan getir... agar kembali kegairahanku, demi keceriaanmu?”

Sarimin tua tiba-tiba muncul dan mengambil tempat di sampingnya. Ia menoleh ke arahnya, lalu tersenyum melihat tingkah Sarimin yang kegelian oleh kutu-kutu di punggungnya. Angin gunung berhembus ringan membuai penghuni gubuk yang muram itu dalam mimpi-mimpi yang akan menyata keesokan paginya dan keesokan pagi selanjutnya, setidaknya, di gubuk itu tak akan ada yang mati dalam kesepian kecuali salah satunya...

Sabtu, 31 Maret 2007

Hadiahnya Air Putih

Satu-satu embun menepi
Memberi jalan hari yang tergesa
Hendak kemana hai kembara
Bahkan kasutmu belum lagi terikat?

Garang matahari menumis rambut
Peluh meleleh hampir matang
Bebatu blingsatan melabrak jejari
Hidung mendengus, mulut mengumpat

Waktu berjingkrak memeluk malam
Saat pulang, kuda pacu bernyanyi
Cacing menjerit mendera lambung
Saat tiba hadiahnya hanya air putih; asem
- dream blog -

Kamis, 22 Maret 2007

Hakikat Suka & Duka

Sekali waktu kita akan tertawa, di saat yang sama air mata telah menyiapkan dirinya untuk satu bahkan berkali-kali usapan. Di waktu lain, kita akan larut oleh kemalangan, tangan-tangannya yang mengerikan seolah memerangkap kita begitu kuat sehingga kegelian akan sesuatu yang patut atau tidak patut disunggingi senyuman seperti biasanya terasa hampa saja. Di saat-saat seperti itu kerapuhan seolah menunjukkan dirinya. Akan terlihat seperti apa wajah kekuatan dan bagaimana rupa kelemahan.

Sesungguhnya kehidupan adalah parade kerapuhan! Demikian pesan petaka, datang pada kita lewat makna-makna derita yang mengikutinya. Hanya mata yang awas akan dapat menangkapnya.

Lalu tibalah mereka itu, orang-orang yang telah datang dari lembah kemalangan. Ditanggalkannya luka itu, tapi bukan untuk kembali ke rumah duka melainkan tiada kemana-mana. Sebab sejak saat itu, seluruh sudut kini adalah rumah duka baginya dan seluruh makhluk kini adalah kawan berbagi duka. Tetapi tidak juga ia datang membawa dukanya bagi mereka melainkan mengambil dan mengangkat duka-duka mereka ke atas punggungnya sendiri sehingga terlihatlah oleh mereka itu kalau tiada lagi yang pantas mereka sesali dan tangisi.

Aku terlibat dalam sebuah kelompok pecinta alam atau tepatnya penggiat alam bebas. Semula, aku menjalaninya atas dasar minat. Tetapi apa yang kudapatkan lebih dari yang kuharapkan. Di sanalah kesadaranku yang pertama tentang kehidupan kemanusiaan tergelitik. Bahwa kehidupan di alam luas tidak semata-mata ada kegembiraan, tetapi juga ada kepedihan; kepedihan yang lahir dari kegembiraanku.

Beberapa kali kami melakukan ekspedisi ke gunung-gunung dan pedalaman. Beberapa kampung yang pernah kami datangi akhirnya lenyap tersapu longsor dan banjir. Aku berduka dan sangat menyesalinya.

Di beberapa tempat yang dahulunya kuakrabi itu, aku mendapati sisa-sisa kemalangannya di lembar-lembar koran, berita, di TV, manusia. Sementara aku mengabunginya, ada kulihat empati dan simpati yang mengalir. Tetapi semua itu tak mampu menggantikan rasa yang hilang pada diriku, terlebih pada mereka. Dan hati kita memang sudah busuk, dalam keadaan seperti itu kita masih ingin mengambil manfaat untuk kepentingan diri dan kelompok kita sendiri; promosi dan pencitraan, bisnis dan politik. Bahkan dengan kejam kita masih sempat membuat tuduhan dari balik lembaran-lembaran kertas kerja kita, bahwa petaka itu akibat dari kesalahan mereka sendiri.

Aku berada di antara kehidupan kotaku yang modern dan kehidupan mereka yang sederhana dan bersahaja. Untuk kembali ke kehidupan lamaku yang penuh optimisme dan ambisi kubaui kesia-siaannya, tetapi menjalani kehidupan seperti orang-orang desa aku belum mampu.

Sungguh, hidup ini saling jalin menjalin dan tak ada satupun yang benar-benar lepas satu dengan lainnya; bahwa dalam sepotong kebahagiaanmu terkandung duka derita setiap mahluk, di setiap sudut kepedihanmu ada kepuasan dan kegembiraan semesta. Kebahagiaan dan penderitaanmu adalah masa depan kehidupan, nikmat dan pedihmu itulah kebahagiaan, nikmat dan pedihmu itulah penderitaan. Yang perlu kau kuatirkan hanyalah bila kau sudah mati rasa, sebab itulah petakamu yang sesungguhnya, petaka kemanusiaan.

Maka seyogyanya setiap kegembiraanku tidak membawa penderitaan bagi mahluk lain, atau biarkan kesukaranku merekahkan senyum bagi mereka yang menderita dan lagi, biarkan kesenanganku terbagikan menjadi kesenangan setiap makhluk. Bukankah ini semangat yang telah lenyap itu? - dream blog -

Minggu, 11 Maret 2007

Bea Kedamaian

Malam diam memendam riak
Menyimpan amarah, menumpuk teriak

Tercekik kerongkongan terendam dahak
Telinga tuan tak hendak pekak

Menjulur kelu lidah sahaya budak
Di rerimbun pohon oak
- dream blog -

Minggu, 04 Maret 2007

KKN di PT. Jamsostek

Hari kamis tanggal 1 kemarin adalah hari pertamaku masuk KKN di PT. Jamsostek. Sebelum bisa membayangkan apa-apa, saya sudah mendengar dari teman-teman yang juga pernah KKN di situ, bahwa pekerjaannya paling-paling cuman disuruhi lubangi kertas, menyusun surat-surat yang jumlahnya bejibun, atau mem-fotokopi. Aku dan seorang teman kampusku yang juga KKN di sini, Indin, memilih masuk siang (dari jam 1 sampe jam 5 sore) karena kuliah kami rata-rata pagi, supaya tidak bentrok dengan jadwal KKN. Ternyata bukan cuma kami berdua yang KKN di Jamsostek, tetapi banyak dari universitas lain, seperti Stimik Dipanegara, UMI, Universitas 45, dan Akba. jumlah kami sekitar 12 orang, dan kebanyakan cewek. Cowok cuma saya berdua ditambah seorang lagi dari stimik. Hari pertama itu kami cuma diberi materi mengenai jamsostek secara sekilas. Setelah itu pembagian penempatan divisi bagi peserta KKN. Karena aku dan Indin masuk siang, maka kami belum mulai KKN hari itu, dan divisi kami belum ditentukan.

Dan benar saja, esoknya, hari kedua yang aku lakukan adalah sama seperti apa yang temanku pernah bilang; menyusun surat-surat iuran sesuai nomor urutnya atau stempel surat, dan semacamnya. Busyet, seandainya saja aku tidak ambil 3 matakuliah sambil KKN ini, pasti aku memilih KKN reguler ke desa-desa, yang pastinya seru, tidak terlupakan, dan yang terpenting sangat cocok dengan seleraku. Ya cuma gara-gara nginget klo ada kuliah, mau gak mau ambil KKN profesi ini biar bisa gampang bolak balik kampus.

Hari keduaku masuk itu yang pertama aku (dan teman KKN-ku, Indin) lakukan adalah duduk menunggu selama kurang lebih sejam. Setelah itu kami diajak masuk dan bertemu dengan seorang bapak bersetelan rapi, kumis yang tipis beruban, yang belakangan kutahu namanya adalah pak Syarif. Dia adalah kepala divisi keuangan di PT. Jamsostek ini. Dan ketika kami tahu kalau kami ditempatkan di divisi keuangan ini, tiba-tiba di pikiranku langsung berkelebat bayangan pelajaran-pelajaran akuntansi yang bikin pusing itu. Untungnya kebanyakan aktivitas keuangan katanya sudah terkomputerisasi.

Sekitar sejam kami mendapat penjelasan dari pak Syarif, masih tentang jamsostek, tapi kali ini sedikit lebih detail hingga kegiatan-kegiatan yang dilakukan tiap-tiap divisi, termasuk keuangan ini. Pembicaraan kami bertepuk sebelah tangan, karena aku yang dari kemarin kurang tidur, jadi mengantuk. Indin saja yang sesekali mengomentari penjelasan dari bapak. Susahnya menahan kantuk, saat mau menguap jadi tidak enak sama pak Syarif (takut ketahuan), tapi sialnya dia cuma sekitar satu meter duduk di depanku. Kalau aku akan menguap, terpaksa aku tahan sekuat tenaga, jadinya bukan mulutku yang menguap, tapi lubang hidungku yang melebar hingga kelihatan mirip hidungnya kudanil. Pasti pak Syarif tahu kalau aku bete.

Setelah menit-menit itu berlalu, kami diajak bapak untuk berkenalan dengan staf-staf di divisi ini; ada pak Teguh dan bu Ori. Sekilas wajah mereka ada kemiripan, hingga awalnya kupikir mereka bersaudara. Kedua staf ini jelas orang jawa, dari aksennya kental sekali logat jawanya. Sesekali mereka berdua menggunakan bahasa jawa yang dicampur-aduk dengan bahasa indonesia serta sesekali logat makassar yang terkesan kaku. Kata-kata seperti ini yang sering aku dengar dari pembicaraan mereka: 'sek to', 'yo wes', 'piye to', 'yo gak lah', 'opone'. Ballassi daembecakka. Selain mereka berdua, ada lagi salah satu staf dari divisi umum, seorang pria paruh baya yang gemuk, perutnya buncit. Orang-orang memanggilnya 'haji', padahal penampilannya sama sekali tidak mirip haji pada umumnya. Gerakannya cepat, lincah, dan kancing bajunya sengaja dibuka sampai bulu-bulu di dadanya kelihatan. Sekilas, dan hanya sekilas, bau keringatnya seperti minuman tequila, tetapi saya sarankan untuk sekali-kali tidak mencium bau keringatnya dalam-dalam. Anda bisa kejang-kejang seketika. Mereka semua baik, mudah akrab, seperti pak syarif dan orang-orang lainnya yang ada di sini.

Dan selanjutnya pekerjaan dimulai. Sambil mengerjakan hal-hal yang sama persis seperti yang teman-temanku pernah katakan, Kami duduk di depan jendela yang menghadap tepat kepada universitas 45. Membuatku teringat akan salah satu sahabat terbaikku, Nanang yang dulu DO dari Unhas dan sekarang kuliah di univ. 45. Mungkin di salah satu jendela-jendela itu, Nanang juga sedang menatap bangunan ini, pikirku. Hingga menjelang magrib satu per satu orang-orang mulai pulang, dan kami pun bersiap-siap pulang... sambil berharap hari-hari selanjutnya akan lebih baik dari hari ini. - dream blog -

Jumat, 02 Maret 2007

Ukurlah Bayang-Bayang Setinggi Badan

(cerpen perdana)

Tempat tinggal kami dulunya hingga kini terbuat dari sisa-sisa kayu, bambu, kulit kayu, dan atapnya terbuat dari daun sagu yang dianyam sehingga tak tembus cahaya matahari ataupun air hujan. Bahan-bahan itu disusun sedemikian rupa sehingga menyerupai sebuah rumah. Di ruang tamu, pada sebilah papan yang berfungsi sebagai dinding terpampang tulisan ayahku “Ukurlah Bayang-bayang Setinggi Badan”. Sejak aku bisa membaca, aku selalu berusaha mengejanya berulang-ulang agar bisa menangkap maknanya, tapi tak pernah bisa kumengerti. Pernah suatu kali aku mencoba memikirkannya, kepalaku mendadak pusing; maka semenjak saat itu aku mencoba menghindarinya dan berhenti memikirkannya. Tetapi setiap kali aku berada di ruangan itu, tulisan itu terus menerus menggangguku, dan setiap kali aku mengalihkan pandangan ke sesuatu yang lain, ada perasaan kalau tulisan-tulisan itu sedang memperhatikan aku.

Pernah suatu kali, aku bertanya pada ibuku, mengapa rumah kami begitu jelek dan rumah kawan-kawanku lebih bagus. Tetapi ibu hanya memberi jawaban bahwa biarlah kelak aku yang akan menggantikannya dengan rumah yang lebih bagus. Maka semenjak saat itu, aku mempunyai obsesi sendiri, sebuah rumah bagus tanpa tulisan yang membuatku pusing itu.

Keadaan keluarga kami semakin terpuruk saja. Panen dari sawah kami yang tak seberapa luas semakin berkurang, pekerjaan memburuh juga semakin sedikit, sementara aku sudah hampir sekolah. Ibuku memiliki waktu lebih banyak dirumah, biasanya bila tak membuat anyaman kami belajar membaca. Apa saja yang ada kami baca bersama, koran-koran bekas dari pasar, buku-buku lusuh ayah, ataupun kitab suci.

Tetapi angin segar berhembus dari orang-orang kampung, bahwa sebentar lagi tepat di desa kami akan dibuka sebuah perkebunan kelapa sawit lengkap dengan pabriknya. Orang-orang kampung bermimpi bahwa kehidupan mereka segera akan berubah, akan menjadi lebih sejahtera. Ayahku hanya tenang-tenang saja, bahkan lebih banyak diam. Pada suatu sore, ketika kami baru selesai makan malam, seseorang yang akhir-akhir ini sibuk berkunjung dari satu rumah ke rumah lain singgah juga di rumah kami. Ayahku terlibat pembicaraan serius dengannya, aku tak paham apa yang mereka bicarakan. Juga aku tak paham mengapa tanah kami di kaki gunung itu, yang biasa kami tanami jagung, sayur-sayuran dan lainnya kini ditanami kelapa sawit dan kami tak pernah mengunjunginya lagi.

Pada hari yang lainnya, singgah pula seseorang yang berseragam ke kampung kami dan setelah orang itu pergi, tersiar kabar kalau ia membutuhkan tenaga orang-orang kampung untuk membuka lahan. Karena waktu itu adalah musim kering dan tak ada air untuk mengairi sawah, orang-orang kampung mengambil kesempatan itu biarpun lokasinya sudah sangat jauh dan medannya sulit. Memang ada diantara mereka yang berbisik-bisik, mengapa mereka baru dapat kesempatan setelah beberapa lama dan lahan yang harus dibuka sudah tidak mampu menggunakan alat berat? Tetapi apa lacur, dari pada tak ada kesempatan sama sekali. Toh hitung-hitung partisipasi yang dibutuhkan tatkala yang lain tak mampu melakukannya memiliki kebanggaan tersendiri. Maka para pria, tua dan muda dengan bersenjatakan kampak setiap paginya berbondong-bondong menuju hutan, memenuhi panggilan pembangunan, termasuk ayahku.

Bila senja tiba aku menantikan kepulangan ayah di beranda. Saat-saat itu paling kutunggu, biasanya ayah membawa sesuatu yang selalu aku sukai. Bila bukan madu, buah-buahan atau telur burung-burung. Sebab itu, pekerjaan baru ayahku memberikan kesenangan baru bagiku, juga cerita-ceritanya sebelum tidur. Kadang tentang pohon-pohon yang baru ditebangnya, tentang buah rotan, tentang madu dan banyak lagi.

Baru beberapa lama sejak mereka terlibat pekerjaan itu, hal-hal yang tak pernah dipikirkan dan diharapkan orang-orang desa terjadilah. Satu satu korban berjatuhan, kecelakaan mewarnai hari-hari. Kami anak-anak, menyaksikannya dengan sangat jelas. Korban-korban itu diangkut melalui kampung kami. Ada yang ditandu dengan kayu, ditandu dengan kain sarung, digendong. Ada yang mati, patah dan terluka parah, cacat seumur hidup. Katanya tertimpa pohon, jatuh ke tebing, tertusuk kayu, terperosok ke api pembakaran. Tetapi semua itu tak membuat penduduk kampung jera. Tak ada yang berusaha mencari bantuan pengobatan medis bagi yang masih hidup, tak ada yang meminta sekedar uang penghibur kesedihan bagi keluarga yang berduka. Apalagi asuransi.

Mereka hanya berpikir bahwa hal itu adalah resiko dari pekerjaan mereka, lagi pula mereka tidak dipaksa untuk ikut. Maka begitulah, mereka tetap 'berpartisipasi' dengan semangat pantang mundur. Isi perut keluarga lebih penting dari pada nyawa mereka, begitupun ayahku. Entah sudah berapa di antara mereka yang jadi korban, di kampung kami saja dua orang telah mati, dua orang tidak menentu nasibnya dan empat orang yang pasti cacat belum juga sembuh. Belum lagi di kampung-kampung lain.

Hingga suatu ketika, aku dan beberapa kawan sedang bermain di bawah sebuah pohon, kami mendengar hiruk pikuk orang-orang menuju rumahku, kami segera berlari mendekat. Aku serta merta kaget juga ketakutan, mendengar raungan tangis histeris ibuku. Aku mendekatinya, ia memelukku. Aku melihat ayahku tak sadarkan diri, tapi tubuhnya gemetar dan bergetar hebat tanpa suara apapun dari mulutnya. Aku dengar dari pembicaraan orang-orang yang mengelilingi kami bahwa ayahku tertimpa pohon yang ditebangnya, beliau berlari ke arah yang salah ketika pohonnya tumbang. Ibuku hanya pasrah, aku bingung sementara orang-orang yang mengelilingi kami tak tahu apa yang harus dilakukan.

Tak berapa lama, pamanku pun tiba. Ia lalu membalik posisi ayahku, kemudian terlihatlah tulang belakangnya menyembul. Pamanku hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pertanda seriusnya kecelakaan ayahku dan berkata “hanya Tuhanlah yang akan mampu menyelamatkan nyawanya.” Ia berdoa, kami berdoa. Pamanku mengoleskan minyak dari akar-akaran ke punggung ayahku pagi dan sore, sementara ayahku tetap tak sadarkan diri. Aku dan ibu benar-benar pasrah, tak punya daya. Rumah sakit terlalu jauh, juga jauh dari kemampuan kami. Dua hari kemudian, ayahkupun sadarkan diri, dan enam bulan kemudian, beliau sudah pulih dan mampu berdiri lagi. Selama masa-masa itu, ibukulah yang menghidupi kami, dan kini ayahku telah mampu mengambil tanggung jawab keluarga lagi. Tapi tinggi ayahku kini berkurang lima senti meter, tulang juga menyembul dari punggungnya sebagai kenangan.

Proyek pembukaan lahan dan penanaman sudah selesai dan aku sudah tidak mengingat kebunku lagi, juga ayahku yang sepertinya sudah melupakan hari kemarin begitu saja. Kecelakaan yang pernah dialaminya tak membuatnya membenci keberadaan pabrik dan perkebunan itu sama sekali. Terbukti hanya beberapa hari setelah sembuh, beliau kembali memburuh, menjadi kuli bangunan pada perusahaan itu sampai pekerjaan tak ada lagi.

Pabrik sudah mulai beroperasi, kami sudah lupa bahwa keberadaannya akan membawa kesejahteraan pada kami. Aku sudah mulai bersekolah, ayah dan ibuku kini lebih sering di sawah. Ayahku yang sudah cacat itu, yang gerakannya semakin lambat saja dan sesekali anggota badannya gemetaran tanpa diinginkannya, tetap berjuang keras untuk menyekolahkan aku. Kadang-kadang beliau menjadi bahan olok-olok penduduk kampung, terlebih anak-anak. Semua itu membuat hatiku sakit, aku yang kecil sudah mengenal kebencian oleh rasa malu.

Dan kemalangan-kemalangan lain seolah ingin terus menghimpit kami semakin menepi dari hidup, tetapi kami tak menyerah. Pabrik telah berdiri di samping kami, memuntahi kami dengan bau busuk, membunuh ikan-ikan kami dan membuat padi-padi kami tak mau tumbuh lagi. Saluran yang sampai ke laut itu membuat air tak mau singgah lagi di sawah-sawah kami. Bila musim hujan tiba, kamipun bersiap untuk musim tanam yang baru. Tapi tanah kami hanya basah pada pagi harinya dan kerontang pada sore harinya.

Pada perayaan kemerdekaan berikutnya, Bapak camat yang lain datang lagi bersama orang dinas pertanian, membawa mantra kesejahteraan. Sekali lagi kami menanam kelapa hibrida di tanah kami dan kami tak tahu harus makan apa untuk menunggu buah kelapa itu sampai lima tahun lagi. Tetapi ayahku yang luar biasa memang tahu mengukur bayang-bayang setinggi badannya. mencari lahan bagi hasil untuk diolah biarpun hanya setengah hektar disamping memburuh untuk makan kami sehari-hari. Aku masih belum paham arti tulisan pada dinding itu, aku melanjutkan pendidikan dengan bekerja keras ditambah hasil keringat orang tuaku. Tetapi ibuku mulai sakit sakitan, ayahkupun semakin lemah.

Menjelang perayaan kemerdekaan berikutnya, aku menyelesaikan sekolahku. Tetapi ibuku telah direnggut dariku. Penyakit yang hanya kami kenali sebagai maag menghancurkan ususnya. Ibuku seorang wanita yang luar biasa bagiku. Aku masih ingat, pernah suatu ketika, saat beliau masih sehat aku pulang sebelum jam pulang dengan menangis karena diolok-olok dan dipukuli kawanku. Beliau menyeret aku kembali ke sekolah, memarahi anak-anak nakal itu dan berpesan padaku “kau mesti bisa membela diri sendiri karena kau punya kehormatan; kau tak makan dari tangan mereka, tak mengutip apa-apa dari mereka.” Beliau seorang yang punya kehormatan. Dan aku dengan kehormatan pula berusaha melanjutkan pendidikan dari tenaga yang kumiliki.

Tahun-tahun berlalu, buah kelapa sudah dipanen, tetapi akan diapakan? Penduduk kampung merengut sebab pabrik yang dijanjikan akan menampung buah kelapa mereka tak datang-datang. Banyak diantara mereka yang gelap mata lalu menebangi kelapa-kelapa mereka. Untunglah kakao ayahku sudah memberi hasil, cukup untuk makan dan sekolah adik-adikku. Pendidikan menengahku kuselesaikan dan akupun di terima di sebuah Perguruan Tinggi Negeri. Tetapi hanya kuliah kerja nyata saja yang kuselesaikan, ayah mengeluh kakao kami sudah tak memberikan apa-apa.

Aku kesulitan memperoleh pekerjaan, aku pernah mengusahakan beasiswa tapi rupanya beasiswa di kampus sudah berempunya. Kemudian kuputuskan mundur dari pendidikanku. aku tak ingin mengorbankan apa-apa lagi untuk obsesiku. Aku segera kembali ke kampung, telah banyak yang berubah. Juga pandangan orang-orang kampung terhadapku, tetapi aku tak mau ambil pusing. Aku menoleh pada tulisan itu, ia seperti tersenyum padaku dan akupun tersenyum padanya. Aku sudah memahaminya, tinggallah keinginan akan sebuah rumah baru dalam kenangan mimpiku, tetapi aku tak meyesal.

Perayaan kemerdekaan datang lagi, aku dinyatakan drop out dari perguruan tinggiku. Anak-anak sekolah larut dalam hiruk pikuk perayaannya, lomba-lomba diselenggarakan. Artis-artis ibu kota dipanggil untuk memeriahkannya. Tetapi hatiku hampa, selengang rumah kami. Ayahku kini semakin tua, rumah kami juga. Dengan kayu-kayu sisa, bambu dan kulit kayu yang baru kemudian kubentuk sebuah rumah baru. Lalu pada dinding di ruang tamunya kutuliskan “Ukurlah Bayang-Bayang Setinggi Badan”, sebab aku pun telah paham maknanya. 

Jumat, 23 Februari 2007

Malamku

Malam ini aku merasa sepi. Berjalan menelusuri setapak seorang diri, ditemani temaram cahaya lampu jalanan. Di tengah dunia yang ramai ini, kadang aku merasa sendiri. Seperti sehelai daun yang terbawa aliran sungai yang mahaluas. Nietzche mengatakan, "kesunyian adalah rumahku", tapi tidakkah ia selalu merasa asing di rumahnya sendiri?


Malamlah satu-satunya sahabat yang paling setia menemani kesunyianku. Aku mencintai malam. Aku mencintai kesunyiannya yang setia menemani kesunyianku. Malam menghiburku dengan bintang-bintangnya, dan suara alamnya selalu berdendang untukku. Seandainya malam adalah seorang gadis, tentu aku sudah jatuh cinta.

Hal yang sangat nikmat untuk dialami adalah berfikir sambil berselimut malam. Aku percaya berfikir adalah kegiatan pemanusiaan diri. Dan larut malam, adalah saat di mana Tuhan sejati mendekati kita.

Kadang aku memikirkan hal yang kelihatan sepele ini: Bahwa aku ada. Bagaimana seandainya aku tidak pernah ada? Apa yang ada di dalam ketiadaan itu? Apa yang kuketahui? Selanjutnya, aku akan memikirkan ini: Bahwa aku ada sebagai makhluk berfikir, yaitu manusia. Bagaimana seandainya aku ada sebagai sesuatu yang tidak bisa berfikir? Percuma ada kalau kita tetap tidak menyadari bahwa kita ada. Oleh karena itu, aku bersyukur bahwa aku ada. Dan aku bersyukur bahwa aku ada sebagai manusia. - dream blog -

Jumat, 09 Februari 2007

Long Time No See

Huehe.. Kelihatan dari judul postingnya ada sesuatu yang lama tertahan dan akhirnya terpuaskan juga. Apa itu? Tidak lain dan tidak bukan adalah posting di blogku yg udah berdebu ini. Lumayan lama nih baru posting.. sampai-sampai di dalam tempurung kepala ini banyak yang ingin aku tulis, makanya jadi bingung. Hari-hari yang aku lewati dari postingan terakhir sampai sekarang sebenarnya banyak yang menarik untuk kutulis, tapi sayang terlewatkan begitu saja tanpa diabadikan ke dalam tulisan. Hiks.


Kadang di suatu bulan aku kebanjiran ide untuk nulis, di bulan yang lain justru aku kekeringan ide. Sepertinya fenomena itu ditentukan oleh beberapa faktor, mungkin karena aku sedang tidak mood menulis, mungkin karena aku sibuk. Tapi sesibuk apa sih? Sampai-sampai menulis saja tidak sempat? Menulis itu kan bisa di mana saja, kapan saja. Bahkan di atas angkot atau di dalam wc pun kita bisa sambil nulis. Jadi apa coba.

Sekedar info.. Akhirnya aku KKN juga, dan aku pilih KKN di Jamsostek. Tapi belum fix. Seandainya tidak jadi di situ, mungkin pilihan kedua jatuh pada PT. Telkom. Biar bisa internetan sampe poge. Kenapa pilihan pertama di Jamsostek? Bukankah di Telkom sangat cocok untuk diriku yang maniak akan dunia maya? Tanya ken apa. Karena dari info yang saya dapat dari teman-teman yang dulu KKN di Jamsostek, di sana pekerjaannya relatif lebih singkat, dan tidak terlalu padat. Bukan berarti saya menghindari pekerjaan; saya cinta akan bekerja, karena bagiku bekerja membuat hidup kita lebih nikmat. Alasan saya adalah karena di samping aku KKN, aku juga memprogram 3 matakuliah. Yah.. aku menghindari tabrakan antara KKN dan kuliah. Hehehe.

Aku ingin membanjiri blog ini dengan tulisan... mengenai apapun. Aku ingin menjadikan blog ini sebagai tempatku mencorat-coret sepuas hati. That's all!! - dream blog -