Senin, 25 September 2017

Abati rahimahullah

Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada bapakku. Beliau adalah sosok sederhana, panutan yang baik sebagai seorang bapak. Sungguh, hingga detik kepergiannya, aku merasa belum begitu mengenalnya. Kisah hidupnya, masa mudanya, perjalanannya di tanah perantauan yang pernah ia singgahi dalam hidupnya, kebanyakan aku dengar dari orang lain; kakak-kakakku, ibuku, paman. Sementara bapakku, beliau lebih memilih banyak diam. Beliau lebih memilih untuk fokus bekerja, mencari rezeki untuk istri dan anak-anaknya. Biarlah pengorbanan dan perjuangan yang pernah dilaluinya, Allah yang akan membalasnya dengan pahala yang banyak, insya Allah. Semoga Allah mengampuni kesahalan-kesalahan beliau di masa lalu.

Bapakku wafat dengan tenang dalam tidurnya. Sungguh, ada janji yang tidak sempat kupenuhi kepada beliau, bahwa aku akan pulang merawatnya selepas istriku melahirkan. Qoddarullah, beliau lebih dulu dipanggil.

Semoga beliau khusnul khotimah, semoga Allah senantiasa merahmati beliau, memuliakannya dan mengampuni kesalahan-kesalahannya.

Saya akan senantiasa mendoakanmu bapakku. Saya akan senantiasa menyisipkan namamu dalam munajatku kepada Allah. Semoga Allah mengumpulkan kita di jannah-Nya kelak.

Selasa, 18 Juli 2017

Permata Usia (2)

» BERBUAT BAIKLAH DI SISA USIA YANG ADA «

Oleh: Al Ustadz Idral Harits Hafizhahulloh

Bismillah.

Al Hafizh Ibnu Rajab Al Hanbali menyebutkan dalam kitabnya Jami’ul ‘ulum wal hikam:

Al Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullahu Ta’ala ketika menerangkan tafsir kalimat istirja’  (ucapan:

إنا لله و إنا إليه راجعن)

Beliau mengatakan: Barangsiapa yang mengetahui bahwa dia adalah hamba kepunyaan Allah, dan dia mengetahui bahwa dia akan kembali kepadaNya, maka dia harus mengetahui bahwa dia  pasti akan berdiri di hadapanNya.

Barangsiapa yang mengetahui bahwa dia akan berdiri di hadapanNya, maka dia harus mengetahui pula bahwa dia pasti ditanya (tentang amalannya di dunia).

Dan barangsiapa yang mengetahui bahwa dia akan ditanya, maka dia harus menyiapkan jawaban untuk pertanyaan tersebut.

Lalu ada yang bertanya:  “Lantas apa daya kita?”

Kata Al Fudhail bin ‘Iyadh: “Sangat mudah,”

“Apa itu?” : Tanya orang tersebut.

Beliau berkata:  “Kamu berbuat baik pada apa yang masih tersisa, niscaya apa yang telah lewat akan diampuni. Sebab, jika kamu berbuat jelek pada apa yang masih tersisa, niscaya kamu akan disiksa karena apa yang telah lewat dan apa yang tersisa.”

Wallahu Muwaffiq

بسم الله الرحمن الرحيم..

قال الحافظ ابن رجب رحمه الله تعالى:

قال الفضيل بن عياض رحمه الله تعالى في تفسير إنا لله و إنا إليه راجعون:

فمن عرف أنه لله عبد و أنه إليه راجع فليعلم أنه موقوف

ومن علم أنه موقوف فليعلم أنه مسؤول

ومن علم أنه مسؤول فليعد للسؤال جوابا..

فقال رجل: فما الحيلة؟

قال الفضيل: يسيرة..

قال الرجل: ما هي؟

قال: تحسن فيما بقي يغفر لك ما مضي. فإنك إن أسأت فيما بقي أخذت بما مضي وما بقي..”

Arsip @happyislamcom | t.me/happyislamcom
http://www.happyislam.com/2015/06/berbuat-baiklah-disisa-usia-yang-ada.html

Sumber :
www.ittibaus-sunnah.net
❂Ashhabus Sunnah❂

Rabu, 12 Juli 2017

Permata Usia

SADARILAH UMUR KITA TERBATAS

Al-Imam al-Muwaffaq Muhammad as-Safarainy rahimahullah

"فاغتنم رحمك الله حياتك النَّفيسة، واحتفظ بأوقاتك العزيزة، واعلم أن مدَّة حياتِك محدودةٌ، وأنفاسك معدودةٌ، فكلُّ نفسٍ ينقص به جزء منك

Manfaatkanlah -semoga Allah merahmatimu- hidupmu yang berharga, jagalah sebaik-baiknya waktumu yang mahal, dan ketahuilah bahwa masa hidupmu terbatas, nafas-nafasmu bisa dihitung, jadi setiap nafasmu akan mengurangi bagian dirimu.

والعمر كله قصير، والباقي منه هو اليسير، وكل جزءٍ منه جوهرةٌ نفيسةٌ لا عدل لها، ولا خُلف منها، فإنَّ بهذه الحياة اليسيرة خلودُ الأبد في النَّعيم، أو العذاب الأليم

Umur semuanya pendek, yang tersisa darinya sedikit, dan setiap bagian darinya merupakan permata yang sangat berharga yang tidak ada bandingannya dan tidak tergantikan, karena dengan hidup yang pendek ini akan diraih kekekalan abadi dalam kenikmatan atau adzab yang pedih.

وإذا عادلتَ هذه الحياة بخلود الأبد علمتَ أنَّ كلَّ نَفَسٍ يعدلُ أكثر من ألف ألف ألف عام في نعيم لا خطر له، أو خلاف ذلك، وما كان هكذا فلا قيمة له

Dan jika engkau membandingkan kehidupan ini dengan kekekalan abadi, engkau akan mengetahui bahwa bahwa setiap nafas sebanding dengan seribu ribu ribu tahun dalam kenikmatan yang tidak pernah terbayangkan, atau sebaliknya (dalam adzab -pent), dan apa yang keadaannya seperti ini maka tidak ada harganya.

فلا تُضَيِّع جواهرَ عُمركَ النَّفيسة بغير عملٍ، ولا تذهبهَا بغير عوضٍ، واجتهد أن لا يخلو نَفسٌ من أنفاسك إلاَّ في عَمَلِ طاعةٍ أو قربةٍ تتقرب بها

Maka jangan engkau sia-siakan permata umurmu yang sangat berharga tanpa amal, jangan habiskan tanpa pengganti, dan bersungguh-sungguhlah jangan sampai satu nafas dari nafas-nafasmu kosong kecuali dalam ketaatan atau apa saja yang dengannya engkau mendekatkan diri kepada Allah.

فإنَّك لو كانت معك جوهرةٌ من جواهر الدُّنيا لَسَاءَكَ ذهابها فكيف تُفَرِّطُ في ساعاتك وأوقاتك، وكيف لا تحزن على عُمرك الذَّاهب بغير عوض

Karena sungguh seandainya engkau memiliki sebuah permata dari permata-permata dunia, pasti kehilangannya akan membuatmu sangat bersedih, maka bagaimana engkau menyia-nyiakan saat-saat dan waktu-waktumu, dan bagaimana engkau tidak bersedih terhadap umurmu yang berlalu tanpa pengganti.

[Ghadzaul Albab Syarh Manzhumatul Adab, II/351]

Sumber || https://telegram.me/fawaz_almadkali

Kunjungi || http://bit.ly/2s7zzLR

 WhatsApp Salafy Indonesia
 Channel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy

Selasa, 23 Mei 2017

It's A Boy

As soon as I know that you were there, inside your mom's womb, i feel like i need to prepare everything to welcoming you. I'm panic, to be honest. This scared me for a while: I'm gonna be a father?

And then yesterday, when i see you through that usg-scan-thing monitor, i'm so happy. We're so happy. First the doctor said you are a girl, while hoovering her scan tools on your mom's belly to search something. And then, boom! The monitor show something little and the doctor point to that and told us "oh, it's a boy!" She found your little dick!

Haha! My boy, your first attempt to make us happy. You succeded to make us smile.

Well, my son, i hope i can be your very good parents. We will, with all our resources, to raise you as best as we can be. May Allah help us and always give strength to raise you up.

For now, my boy, grab some breath. Get rest for some more time. Not so long, my baby boy, we will meet. No need to worry, everything will run smooth, everything will be alright. انشا الله.

Till we meet my son.

Jumat, 14 Oktober 2016

Doeloe & Sekarang

Doeloe...
orang tua kita berangkat bekerja setelah matahari terbit dan sudah kembali ke rumah sebelum matahari terbenam.
Walaupun memiliki anak yang banyak, rumah dan halaman pun tetap luas, bahkan tidak sedikit ada yang memiliki kebun, dan semua anak-anaknya bersekolah....
Sekarang...
banyak yang berangkat kerja subuh dan sampai rumah setelah isya, tapi rumah dan tanah yang dimiliki tidak seluas rumah orang tua kita, dan bahkan banyak yang takut memiliki anak banyak karena takut kekurangan.
Ada yang salah dengan cara hidup orang modern.
Orangtua kita hidup tanpa banyak alat bantu, tapi tenang menjalani hidupnya. Sementara kita yang dilengkapi dengan pampers, mesin cuci, kompor gas, HP, kendaraan, TV, email, FB, Twitter, ipad, ruangan ber AC, dll... harusnya mempermudah hidup ini, tapi ternyata tidak, sampai-sampai tidak sempat kita menikmati hidup karena semuanya dilakukan terburu-buru;
...berangkat kerja, TERBURU-BURU...
...pulang kerja, juga TERBURU-BURU...
...makan siang, TERBURU-BURU...
...dilampu merah, TERBURU-BURU...
...berdo'a pun, TERBURU-BURU...
...bahkan sholatpun, TERBURU-BURU...
Hanya mati........yang tidak seorangpun mau TERBURU-BURU....
Saking takutnya akan kurangnya harta untuk keluarga sampai-sampai kita HITUNGAN dalam BERSEDEKAH, sementara اَللّهُ tidak pernah hitungan dalam memberi rizki kepada kita.
Bahkan saking lebih takutnya kita kehilangan pekerjaan hingga berani melewatkan sholat subuh, sholat maghrib, dsbnya.
Allahul musta'an..

Sampai dimanakah hidup kita pada hari ini?

Jumat, 30 September 2016

The Sword of Allah

Khalid ibn al-Walid, after over than hundreds of battles, year after year, month after month, battle after battle. It came time; the drawn sword of Allah was to leave this world.

For the last 4 years of his life, he was demoted; he couldn't go into the battlefield, and Khalid dubbed that year as "the year of the women". He was pissed off he couldn't go and fight into the battlefield again. But Khalid Ibn Walid didn't waste his time, he would recite the Quran, men like Khalid Ibn Walid. After every fajar he will recite Quran until dhuhur, and he would say that he was so busy going into jihad, that jihad has stopped him from learning the Quran. Now he made up for it, men like Khalid Ibn Walid. From fajr till dhuhr he would continuously recite the Quran and cry out of fear of Allah.

To tell you the extent of his battles and how busy he was, once he was praying and he forgot some of the ayat, or made mistake on some of the ayats, so the companions helped him out. And when he finished, he said; "by Allah, the only thing that made me busy, and kept me from memorizing Quran was fighting for the sake of Allah".

When Khalid was close to his death, SubhanAllah, can you imagine my friend, a man who has never lost a battles and duels in his life, more than hundreds of battle, is dying upon his bed. The narration mention when people would walk in, he would show them his arms, his legs, his chest, that there was not a handspan on his body which did not have a wound upon it. And he would started to crying and said "look at me, look at my body, you will not find one inch, one finger except that there are scars, and marks of war, and here I'm dying the same way as Camels dies? I've spent my life in battlefield, every single battle I threw myself in the ranks of the enemies until I would be certain than I would not come out alive, and yet here I am dying on my bed like a coward?". He was hurt and pissed off knowing he's not going to die as a Shahid on the battlefield. RadhiAllahu'anhu.

But one of the visitor explained to him a wisdom, "dear Khalid, don't you understand? The day that Prophet Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dubbed you as Sayfullah Al-Maslul (The Drawn Sword of Allah). That it was impossible, for you to die in the battlefield, for if you die in the battlefield, it would've meant that the sword of Allah was broken by an infidel. But the Sword of Allah, could never be broken!" As Khalid contrary to his desires dying upon his bed.

But see my friend, on the Battle of Mut'ah, Khalid broke nine swords. NINE sword. But why they broke? Because they were the swords of Khalid. As Khalid himself, he was the sword of Allah, he could never be broken. The man, who brought the two major superpower of his time, Persian and Roman Byzantium Empire, down to their knees, passed away upon his bed. Not broken, but retire. RadhiAllahu'anhu.

His jenazah, according to many fuqaha, is not prayed upon the shahid. His clothes, his blood, may not bare testimony to his shahadah. But by Allah, every single shahid of this ummah will bare testimony to Khalid Ibn Walid, because there has never been a shahid in this ummah, who has not been inspired by Khalid Ibn Walid.

Narration mention that he left behind a horse and a sword, and sent it to Umar Ibn Khattab, and when Umar saw it, he began to cry, realising that Khalid has passed away.

But can you imagine my friend, that horse and sword Khalid has left behind, could any other man ride the horse as the way Khalid rode? Could any other man hold the sword as the way Khalid held? No one will can, because he would never be able to fulfill its rights. Because Khalid, this man -may Allah pleased with him- was on a different level.

The narration mention that when Khalid passed away, the women of Bani Makhzum came out and cried, and the Khalifah Umar Ibn Khattab has a strict rule that women could not come out and cry. Even when Abu Bakr passed away the women only gathered in the house of Aisyah and when they were crying Umar dispersed them. But when it came to Khalid Ibn Walid, a man came to Umar and said "ya Umar, women of Bani Makhzum are out and crying over Khalid!". But Umar said "for the likes of Khalid, those who cry, should cry". Yes my friend. Those who cry, should cry.

And then Umar heard the mother of Khalid reciting a poetry for his son: "You are better than a million when men fall infront of you on their faces, and you are braver than a Lion and as for your generousity - you are more generous than that stream which comes down from a mountain." And Umar (radiallahu anhu) said, "The mother of Khalid Ibn Walid has spoken the truth."

But if Khalid was better than a million that time, then he is better than a BILLION of today. And the truth is, that there will never be another Khalid Ibn Walid. Ever! By Allah, this man, he was Frederick The Great, Genghis Khan, Napoleon, Temur, all of them in one! He was more, all of them and more in one. As Abu Bakr said when he bore testimony to Khalid Ibn Walid, "women will never give birth to the likes of Khalid Ibn Walid again". There will never be another man like Khalid Ibn Walid. RadhiAllahu Anhu.

Lying on his bed in Homs, a town in Syria, he said his last message, warning the disbelievers around the world, from his time to the last day, "may the eyes of cowards never sleep".

Never, will the eyes of the cowards sleep.

Jumat, 23 September 2016

Nasehat Emas Bagi Pegiat Ribawi

Silsilah Fatawa Kontemporer
——————————————————
NASIHAT EMAS BAGI PEGIAT RIBAWI.
——————————————————
Al-'Allamah DR. Robi' bin Hadi Al-Madkholi hafizhohulloh:

PERTANYAAN:
Apakah dibolehkan bagiku meminjam dari bank ribawi untuk membeli sebuah rumah? Berikan faedah kepada kami jazakumullohu khoiro.

JAWABAN:
Jika engkau butuh sebuah roti untuk makan dan dengan itu engkau terselamatkan dari kematian maka jangan engkau mengambil (baca: meminjamnya) dari bank sedikitpun terlebih untuk membangun rumah atau membeli mobil.

Allah telah halalkan bagimu bangkai, daging babi, hewan yang mati terpukul dan yang jatuh; Allah halalkan itu semua di saat terpaksa.

Namun Allah tidak pernah menghalalkan bagimu riba; riba bahaya sekali dan bahaya sekali.

Maka jangan engkau bermu'amalah dengan riba dan bersabarlah; karena sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

(وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ) [سورة الطلاق 2 - 3]

"Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." [Qs. At-Tholaaq: 2-3]

Maka riba adalah dosa besar dan perkara yang berbahaya; dan yang menghalalkannya dikafirkan.

Dan jika engkau butuh sebuah rumah maka bersabarlah hingga Allah beri engkau rezeki, dan berlindunglah kepada Allah serta curahkan (usaha menempuh) sebab-sebab hingga Allah persiapkan bagimu sebuah rumah, dan jika tidak maka engkau mati dalam keadaan engkau selamat dari peperangan melawan Allah;

Karena orang yang berbuat riba adalah orang yang memerangi Allah -na'udzubillah- ; sebagaimana difirmankan Allah 'Azza wa Jalla:

(فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ) [سورة البقرة 279]

"Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya." [Qs. Al-Baqoroh: 279)

Allah umumkan peperangan atas pelaku riba.

Dan Rasulullah telah melaknat pemakan riba, wakilnya, penulisnya, dan kedua saksinya.

Apa yang engkau inginkan setelah kutukan? Apakah bermanfaat bagimu rumah sedangkan di hadapanmu neraka jahanam?

Hendaklah bertakwa kepada Allah setiap mu'min dan bersabarlah atas kemiskinan dirinya serta atas hajatnya; karena Allah berfirman:

(وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ) [سورة البقرة 155]

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." [Qs. Al-Baqoroh: 155]

Bersabarlah dan Allah akan memberimu balasan yang besar ini, sebagai pengganti dari engkau terjatuh ke dalam kutukan-Nya, kemarahan-Nya, kemurkaan-Nya, dan siksa-Nya.

Pikullah kesulitan ini di dunia karena sejatinya dia bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan kemurkaan Allah dan siksa-Nya.

Kita memohon kepada Allah agar kita dicukupkan dengan karunia-Nya dan anugerah-Nya dari segala hal yang akan mendatangkan kemarahan dan kemurkaan-Nya; sesungguhnya Robb kita sungguh maha mendengar semua doa.

Shalawat dan salam atas Nabi kita, Muhammad, dan atas keluarganya serta para sahabatnya.

         ••┈┈┈••✦✿✦••┈┈┈••

📚 Mawsu'ah Mu`allafat wa Rosail wa Fatawa Syaikh Robi' Al-Madkholi (1/134-135).

Sabtu, 27 Agustus 2016

Berhenti di Kamu

Pada akhirnya, keyakinan memang tidak bisa ditukar dengan apapun. Saat bertemu seseorang yang sudah tertakdirkan jadi jodoh kita akan merasa seperti tutup botol bertemu ulirnya: “klik!”. Tanpa perlu banyak alasan kita bakal yakin bahwa dialah yang tepat jadi garis finish petualangan selama ini.

****
Di ujung hari, kita akan saling menyandarkan punggung. Berbagi lelah, menceritakan kejadian konyol yang dihadapi sedari pagi, bersyukur. Keputusanku berhenti di kamu, kerelaanmu berhenti di aku membuat kita jadi dua manusia yang merasa paling tergenapkan di dunia.

****
Kini setiap kali melihat ke belakang, aku bersyukur. Semua kegagalan-kegagalan yang pernah aku lalui, dengan itu ternyata Allah menuntunku ke kamu.
Alhamdulillah Robbil Alamin

Senin, 11 Juli 2016

Keakuanku

Ada batas yang sangat tipis antara aku dan keakuanku. Saat aku berhasil merobohkan keakuan dalam diriku aku dapat melihat diriku yang sesungguhnya.

Apa artinya Aku tanpa keakuanku? Hanya sajak kusut yang telah melarut dalam air mata yang surut. Di ujung hari, yang tersisa hanya selalu ada aku dan keakuanku.

Minggu, 31 Januari 2016

The Dunya

I went on a journey to vietnam, and i prepared for it in months, made sure i had my tickets, made sure i have my passport, made sure i had enough money with me, and then i went on the journey.

Today i've come to an internet cafe in my city, and what i did is i picked up my motorbike and i came. That was all that i need to prepare.

If i had prepare vice versa, just picked up something and jumped on the plane to vietnam, you would have thought, "this guy is crazy". If i had prepare for 2 weeks for my journey to internet cafe today, you would've said, "this guy got his priorities upside down, he is only going for a talk and his coming straight back".

Now let us ask ourselfs question: how long are we going to live in this dunya? and how long are we gonna live in the hereafter? we prepare for the dunya according to the amount of time that we going to live in this dunya, and we prepare for our journey in the hereafter according to the time that we are going to live in the hereafter.

Umar ibn khattab r.a once said: "i looked into the matter of the dunya, and i looked into the matter of hereafter, and i realise that if i engaged myself in the dunya, then that will be detrimental to my hereafter. and if i engaged to the hereafter i would have to give up some dunya. so i gave preference to that which is eternal, everlasting, over that which was temporal."

Like i would be a fool, to prepare for 2 weeks for this journey to cafe, we also foolish to make this dunya our purpose, and forget our eternal journey to Allah.

Upon occasion Umar r.a came into a gathering of prophet Muhammad SAW, and umar looked around the house of the messenger, and he only saw a few provision, and then the messenger sat up from his mat, and the mat left imprints on the back of prophet muhammad, and umar began to cry. and the prophet said, "o umar, what are you crying for?". and umar said, "o messenger of Allah, have you not seen what pomp and what glory the kaiser and the kisra live in, the persian and the roman empire live in? you are the greatest of creation". and when umar said this the prophet sat upright and said "o umar, have you ever not understood that my example for this worldly life is that of a person who takes shade under a tree and he moves on".

That's what believers are like. That we live in this dunya temporal, for a short period of time. but what happens, we make our dunya our purpose and forget the hereafter. have you ever been to graveyard and have you seen how long people live for? have you ever seen the tombstones? what do they say? 1945-1980, 1950-1990 etc. you will realise that these people have spent more time under the ground than above it. still, what happens? we get impress by the 'now', the dunya, by ourselves. Everything makes us think that we are something special, although we forget that Allah created us from dust, and until dust we will return. and how can dust become horty? how can you proud when you are a dust? how can become you proud when you are made out of a piece of sperm?

I seek refuge of Allah from the deceptions of this worldly life. To Him, we will make our eternal journey.