Senin, 31 Desember 2007

Selamat tinggal desember!

Selamat tinggal sobat, terimakasih atas kedatanganmu kali ini. Akhirnya besok kamu harus pergi lagi. Dan kalau umurku masih panjang, tahun depan tentu kita akan bertemu lagi. Aku selalu kangen dengan kedatanganmu yang setahun sekali itu. Selalu saja banyak hal yang ingin aku ceritakan setelah setahun kita berpisah. Masih ingat tidak, rencana yang aku bangun ketika engkau datang tahun lalu? Ada rencana yang berhasil terwujud, ada pula yang belum terwujudkan, padahal waktunya sudah lewat. Maaf sobat, aku sering mengecewakanmu. Tapi yang terpenting, aku mendapatkan banyak pelajaran dalam rentang waktu itu. Bukankah kita sepakat bahwa kita harus lebih berorientasi pada proses ketimbang pada hasil?

Teman, besok kamu pergi lagi. Tapi sebelum kamu pergi, mari kita menyanyikan lagu kenangan khusus untukmu dan untukku. Lagu yang ada nama kamu di judulnya.

Oh iya, seperti biasa, malam ini begitu banyak orang yang merayakan kepergianmu. Coba lihat jalanan-jalanan itu, penuh sesak sampai di ujung sana. Macet total. Mereka jelas mau pergi merayakan kepergianmu. Betapa banyaknya kembang api dinyalakan, bersahutan, di langit gelap membentuk sinar berwarna-warni. Semua itu untuk merayakan kepergianmu. Malang sekali nasibmu, sobat. Semua orang bersuka cita atas kepergianmu!

Tapi tenang saja, masih ada aku di sini bersamamu. Aku akan menemanimu hingga detik terakhir kepergianmu. Aku tidak merayakan kepergianmu, karena aku tahu bahwa sesungguhnya hari ini sama sekali tidak pantas untuk dirayakan. Tetapi akupun tidak akan bersedih atas kepergianmu, karena aku tahu kau akan datang lagi. Dan aku tahu kamu tidak pernah mengingkari itu.

Aku ingin berjanji padamu, sobat. Saat kita bertemu lagi nanti, aku akan lebih baik lagi dari kali ini! See you december!!! Let's sing our song...!!!

A long december and theres reason to believe
Maybe this year will be better than the last
I cant remember the last thing that you said as you were leaven
Now the days go by so fast
- dream blog -

Minggu, 16 Desember 2007

Sang Pemburu (Epilog)

Baca dulu: Sang Pemburu (Prolog), dan Sang Pemburu

Matahari bersinar cerah, menerpa dedaunan. Butir-butir embun berkilau bagai mutiara. Ia perhiasan pagi. Seekor pipit terbang sendiri, celingak-celinguk ke kiri dan ke kanan. Tidak tenang, hinggap pada sebuah ranting semak. Sesekali berkicau, tetapi bukan bernyanyi; seperti memanggil-manggil. Tak lama setelahnya, serombongan pipit lain menghampirinya lalu keadaanpun menjadi ramai dalam kicau, riang dan gembira. Lompat ke sana kemari, dari ranting yang satu ke ranting yang lain. Tak lama, rombongan itupun terbang bersamaan ke arah datangnya rombongan itu.

Di bawah mereka, air berarak tak sabar. Dorong mendorong, sesekali buih tumbuh dari riaknya lalu lenyap dalam desau. Suara-suara pipit juga tertelan olehnya tetapi tak lama dan lama kelamaan nyanyian mereka terdengar dengan lebih jelas. Mereka terbang semakin jauh, garis-garis membentuk kotak mulai tampak di bawahnya. Semakin dekat, kotak-kotak itu semakin hilang digantikan dengan hamparan hijau kekuningan. Rombongan itu terbang rendah lalu hinggap dan menyatu dalam hamparan. Mereka berpesta dengan lagu-lagu riang yang tanpa akhir. Tapi pesta itu tak berlangsung lama, sebuah suara teriakan yang keras merusak pesta. Para pipit seketika kacau balau, melesat ke langit membelah awan.

"Hush! Hush!" seorang petani terlihat gusar, ia tak rela padi-padiannya dipanen para pipit sebelum dirinya. Besok baru padi-padi ini dipanen, setelah itu kalian baru boleh mengambil bagian. Petani itu menggumam sendiri. Para pipit yang terserak panggil memanggil dan kembali menyatu sebagai kawanan di angkasa biru lalu menukik dan hinggap pada sebuah pohon. Suasana mereka riuh seolah sedang saling bercerita kepanikan masing-masing.

Sementara itu, di hamparan yang lain segerombolan orang sedang larut dalam hiruk pikuk musim panen. Menuai bulir-bulir dan mengumpulkannya jadi satu. Harum aroma jerami menusuk semangat dan harapan mereka. Anak-anak tak mau ketinggalan dalam keriangan; berkejaran di pematang, meniup bunyi-bunyian dari batang jerami, mengumpulkan bulir-bulir yang tercecer, bermain-main dengan kerbau yang sedang memakan jerami.

Di sudut hamparan yang lainnya, seorang anak kecil sedang berkejaran dengan dua ekor anjing berwarna putih dan hitam di atas pematang. Anak itu juga masih belia. Sepertinya sedang bermain-main dengan riang, tetapi juga berteriak-teriak "Hush! Hush!" kemudian kembali lagi ke sebuah rumah sawah tak berdinding di tengah hamparan itu. Ia bertelanjang dada. Pada pinggulnya melilit pewo, celana yang terbuat dari kulit kayu.

Ketika tiba di pondok, ia berseru-seru "Ibu!, ibu!...kami sudah lelah, lapar!". Seorang perempuan muda lalu terlihat menuruni tangga, membasuh kaki dan tangan anak kecil itu. "Naiklah, biar ibu yang menghalau burung-burung itu." Katanya sambil mengangkat anaknya "Makan yang banyak, supaya kamu cepat besar." Ujarnya lagi sambil menyuapi anaknya. Setelah anak itu selesai makan, sang ibu melanjutkan pekerjaannya. Rupanya ia sedang merajut daun pandan dan rotan. Bermacam-macam yang sudah dirajutnya; bakul, topi lebar, tikar.

Menjelang sore, mereka baru kembali ke rumah, sang anak memberi makan ayam-ayam sedangkan ibunya membersihkan diri di pancuran lalu duduk-duduk di beranda menikmati senja.

Barankadingka berdiam di depan lalikan, mempermainkan ranting kayu yang sedang terbakar. Sesekali kepalanya menoleh ke arah pintu. Ia seperti sedang kesal, hatinya galau. Anak anjingnya melolong-lolong, seperti sedang menangis. Mungkin mereka sedang merindukan induknya seperti ia sedang menantikan ayahnya. Ibunya membawakan anak-anak anjing itu air nasi yang dicampurnya dengan kaldu daging, anak-anak anjing itupun berhenti melolong. Tetapi wajah Barankadingka tetap murung.

Sementara itu, ibunya yang sedang sibuk memasak makan malam sebenarnya juga sedang gelisah. Bukan baru sekali ini, melainkan setiap kali suaminya pergi berburu. Terlalu banyak yang mulai ditakutkannya; dirinya dan anaknya, suaminya. Ia sesengukan. Tetapi karena tak mau Barankadingka mengetahui kegundahannya, buru-buru ia menarik nafas lalu menghembuskannya keras-keras seolah sedang batuk. Ia menoleh pada anaknya lalu kaget karena ternyata anaknya sedang memperhatikannya, mereka saling bertatapan. Ia kikuk, tak sepatah katapun mampu diucapkannya untuk mengalihkan suasana. Barankadingka mendekati dan merangkul Ibunya, mereka pun larutlah dalam satu perasaan tanpa kata-kata.

Setelah suasana hatinya agak tenang, sang Ibu pun bertanya "Kamu sudah lapar?" Barankadingka hanya menggeleng. Ibunya kembali terdiam, ia tahu benar perasaan anaknya. Meski masih kecil, ia telah mampu memikirkan hal-hal yang dekat dengan dirinya, mengidentikkan perasaannya dengan perasaan mereka, menganggap mereka itu bagian dari dirinya. Tak perduli itu binatang, tumbuhan maupun kawan-kawan sebayanya.

Ia teringat, pernah suatu kali seorang kawannya dicubit sampai menangis oleh Ibunya karena tidak menggembalakan kerbaunya. Barankadingka marah dan berteriak-teriak meminta agar telinga temannya dilepaskan. Apalagi dengan anak-anak anjingnya?. Memikirkan semua itu, hatinya kembali tenang, kesedihannya berganti pikiran-pikiran tentang akan seperti apa anaknya kelak.

Barankadingka sebenarnya telah tertidur di bahu Ibunya ketika tiba-tiba riuh rendah anjing-anjingnya mengagetkannya. Dengan sigap, Ia berlari kearah pintu. "Ibu! Bapak pulang! Bapak pulang!" serunya kegirangan meski ayahnya belum muncul dan baru anjing-anjingnya yang tiba mendahuluinya. Bagi mereka, hal itu adalah pertanda kalau Sang Pemburu sudah pulang. Tak lama kemudian, ayahnya telah terlihat ditangga.

"Panggil ibumu, bantu bapak." Kata ayahnya kepadanya, tetapi yang diperintah malah berlari ke kolong rumah. "Bintamaraenna!, bantu saya mengangkat barang-barang ini!" serunya memanggil isterinya.

Malam itu, sebuah keluarga kembali berkumpul. Semua kekuatiran seolah luruh seketika. Larut dalam malam kebahagiaan. Berbumbu madu beraroma harum daging diselingi cerita sang Pemburu kepada keluarganya, disambut kekaguman dan rasa bangga anak dan isteri.

-----

Selalu begitu, begitu selalu. Meski begitu, siapa yang bisa meluruhkan kegundahan? walau kekuatiran mereka polos dan sederhana saja, tidakkah itu pertanda? Bahkan binatang ternak memiliki naluri yang sama. Dan sang pemburu? Ia pun hidup dalam bayang-bayang kebetulan, tak lebih. Ia hanya bisa meraba-raba bahasa alamnya.

Ketika rembulan tampak sebagai sabit, separuh atau bak penampih sang dewata, ia menunjukkan pesannya sendiri. Angin gemunung membawa wanginya sendiri, tergantung ia berhembus dari mana. Arak-arakan awan dilangit, garangnya sang mentari, cerahnya pagi atau muramnya senja membawa pesan cuaca bagi mereka. Rangkaian bintang gemintang tampil mengabarkan pesan kapan mereka sebaiknya berburu dan kapan sebaiknya menyemai. Bahkan riak dan desau air juga adalah pesan yang lain. Kesemua itu pertanda, alam tak pernah alpa menghadirkannya.

Mereka ini pun telah maklum. Sayang, di hati anak-anak matahari itu sudah mulai tertambat jarak. Jarak yang lambat laun mulai membelah diri...

Sabtu, 15 Desember 2007

Puisiku

Puisiku bukanlah lautan memabukkan
Dalam arak-arakan kata yang sumringah
Apalagi undangan atas decak kagum dari gigimu
Melainkan sedikit cubitan di pinggul yang kau biarkan tersibak

Sebab duniaku sudah terlalu lama gila
Oleh secolek kegembiraan yang samar-samar
Dari mimpinya semalam
Hingga tak dihiraukannya luka dan perih di sekujur tubuhnya

Puisiku bukanlah pula samudera kepedihan
Dalam karnaval kata-kata yang berduka
Tidak pula elusan atas umpatan yang tertahan di tenggorokan
Melainkan kutukan atas penderitaan yang terhirup secara paksa

Agar terdengar di telingaku sendiri
”sungguh semua ini tak berterima bagi kemanusiaan”
Agar terangkatlah selubung, menyatalah dunia kita
Agar lenyaplah nelangsa dan bergandenganlah tangan

Sebab tiada guna puja-puji
Yang menyembunyikan kejahatan dalam licinnya lidah
Atau umpatan dan cibiran
Atas kegembiraan yang sepatutnya dirasai - dream blog -

Jumat, 07 Desember 2007

SE yang Tertunda

Targetku untuk selesai kuliah bulan 12 tahun ini terpaksa harus diundur sampai bulan maret tahun depan. Kendalanya, bukan karena skripsi tetapi lebih kepada berkasku yang tidak lengkap. Padahal untuk mendaftar ujian meja, ada beberapa berkas yang harus dikumpul. Nah, salah satu atau salah dua dari syarat berkas itu yang aku tidak miliki. Tepatnya, fotocopy ijasah SMU yang sudah dilegalisir oleh sekolah. Sekedar info, ijasahku mulai dari SD sampai SMU, plus akta kelahiranku hilang! Dan untuk menemukannya kembali sepertinya kecil kemungkinannya. Selama kuliah di kota ini, aku pindah tempat tinggal sebanyak 4 kali. Dan bila kuingat-ingat, lokasi kehilanganku berada di tempat tinggalku yang ke-2, tepatnya di tengah kota yang jauh dari tempat tinggalku saat ini. Lagipula, tempat itu kini sudah dibongkar dan di atas tanahnya berdiri kokoh ruko-ruko dan tempat perbelanjaan. Jangankan lembaran kertas mirip ijasah, puing-puing rumahku pun bahkan sudah tak tampak sedikitpun. Semuanya sudah berubah.

Ketika urusan ijasah itu sudah kelar, pendaftaran ujian untuk wisuda bulan 12 tahun ini telah tertutup. Bueekk. Aku harus menunggu lagi ujian selanjutnya, tentunya untuk wisuda bulan 3 tahun depan. - dream blog -

Seru-Seru Dari Balik Kematian

"Si mati, yang malang itu disandanginya dengan kafan perpisahan, kemudian ia masukkan ke liang lahat. Dengan sekuat tenaganya, oleh seluruh kesanggupan yang ia miliki diletakkannya si mati berhati-hati. Iringannya bukan doa-doa, melainkan pedih penyesalan dan urai air mata sebab Ia mati di tanah yang tiada dikenalinya sama sekali.

Tiada pelayat, tak ada kata-kata penghiburan. Tiada kapur barus menusuk hidung, tiada wangi kamboja melainkan rasa nyinyir dan hampa. Seorang diri Ia di tepi kematian. Di atas nisan dituliskannya: O… Belahan Jiwaku Tenanglah Dikau Kini, Tak Perlu Menginginkan Apa-Apa Lagi. Itulah sebutannya, itulah nama yang akan dikenangkannya sepanjang hayatnya.


Ditinggalkannya tempat itu, tapi bukan kembali ke rumah duka melainkan tiada kemana-mana. Sebab sejak saat itu, seluruh sudut kini adalah rumah duka baginya dan seluruh makhluk kini adalah kawan berbagi duka baginya. Tetapi tidak juga ia datang membawa dukanya bagi mereka melainkan mengambil dan mengangkat duka-duka mereka ke atas punggungnya sendiri sehingga terlihatlah oleh mereka itu kalau tiada lagi yang pantas mereka sesali dan tangisi kecuali sang pengelana sendiri.

Dialah sang pengelana lorong-lorong sunyi abadi, yang langkahnya ringkih dan tatapannya kosong. Menyesali nasib, mengeritik takdir. Bahwa kadang nasib ini, takdir itu, tertelan secara paksa dari dan oleh sesama sendiri. Dilagukannya nyanyian ratapan, menikmati pilu.

"Tiada guna empati, tak perlu belas kasih: simpanlah untuk dirimu sebab kelak kau akan butuh. Sungguh semua itu tiada berterima bagiku, sudahkan saja. Karena akupun telah tahu. Dengan apa ‘kan kau bayar kematian kecuali oleh kematian? Akhiri saja duka dan bela sungkawamu. Semua ini, kepura-puraan itu: hanya menyakitkan hatiku. Belumkah petakaku ini telah membuat dirimu tampak? Bukankah dukaku telah melapangkan hatimu, meringankan pikiranmu? Bahwa ada aku yang lebih merana!"

Dengan mulutnya menenteng air liur disusurinya lereng-lereng kenikmatan, tapi mendadak segalanya tampak beku baginya dan olehnya itu tak satu juapun mampu mencairkannya. Dengan peluh yang berteriak-teriak karena kepanasan lalu menguap bersama kabut yang dingin, didakinya gunung gemunung dan dilihatnya kemegahan. Lalu iapun berontak.

"Untuk apa rasa hormat, guna apa ketundukan dan apa guna seluruh dunia bertekuk lutut? Toh semuanya hanyalah telekung kemunafikan dan kacak kepongahan. Seekor semut yang tak mampu menyangga bebanmu, itu yang kau sebut penaklukan? Atau mencocok hidung kerbau raksasa yang tak mampu berpikir bahkan apa dirinya lalu kau sebut dirimu berkuasa? Sungguh pilihanmu hanyalah membagi-bagi harta rampasan kepada mereka yang mengelu-elukan namamu dan setelahnya mencibirmu, ataukah mengembalikannya kepada mereka yang darinya semua itu terampas dan setelahnya tak menganggapmu apa-apa!"

"Bagiku semua itu hanyalah kepalsuan, umpama sebuah batu yang setiap harinya kau injak-injak, kau buangi kotoranmu serta ludah berdahakmu. Lalu dengan kepongahanmu engkau angkat ia dari kejumudan pikiranmu dan kau jadikan hiasan di atas kepalamu dan mengatakan inilah kebahagiaan; seni, keindahan, hidup. Kepadanyalah seharusnya tujuan-tujuan yang sedang kita rancang di arahkan. Lalu apa setelahnya? Kehampaan! Nihil! Sampai kapan kepura-puraanmu akan bertahan? Sampai berhala-berhalamu itu berkata-kata kepadamu dengan kata-kata yang dapat kau indrai?"

Bahkan menurutnya seorang pengingkar Tuhan sekalipun mengangkat tuhan-tuhan lain ke dalam hidupnya, berhala itu. Sementara bagi mereka yang menganggap dirinya ber-Tuhan? Tak jauh berbeda, bila yang pertama menyangkal keberadaan Tuhan, yang terakhir merampoknya.

"Dan kau yang mensucikan kata-katamu sendiri, pikirmu kau pun akan selamat? Ingat-ingatlah apa saja yang telah kau kebiri dari-Nya atau bila tidak, kukatakan satu hal: engkau telah merampok jubah kebesaran Tuhan-mu, dan menyisakan padanya hanya kulit pembalut tulang dan membuatnya terpaksa memperlihatkan segala sesuatu yang tak ingin diperlihatkan-Nya. Kalianlah yang telah menghujat Tuhan, aku hanya menunjukkan kebenarannya. Tetapi bila kalianpun ingin mengambil darahku, halalkanlah bagi kalian dan aku akan memberikannya dengan senyuman."

Dan bagi keduanya, "Sungguh batu-batu ini telah berteriak kepadamu dan memperingatkanmu tetapi tak satu suarapun mampu kau tangkap karena yang kau pahami hanyalah apa yang nikmat bagi dirimu, itulah kedunguan dan kebebalanmu, tak terkecuali kau!"

Dari sana ia bertolak ke jurusan yang lain, selalu saja ada yang diratapinya.

"Ah... bebatuan alangkah malangnya dunia kita. Seperti dirimu yang kadang terinjak kaki-kaki tak tahu diri pada suatu waktu, di waktu yang lain diangkat dan menjadi yang terpenting dari segala yang ada. Tetapi seperti buih-buih di lautan menentang ombak, beitulah kita akan selalu menentang zaman, tak perduli pada akhirnya akan lenyap jua. Dan bila kelak kita sudah punya kekuatan untuk memilih, aku ingin menguap dalam panas dan lenyap, daripada lebur dalam arus yang menyesakkan ini.

Aku memang telah mengubur harapan dan cita-citaku bersama bersama ambisi dunia ini, tetapi lihatlah! Satu asa yang lain tengah mendekatiku. Maka aku takkan kalah oleh keadaan yang telah berpihak ini. Kami akan mampu memilih, karena kami tengah membuat pilihan yang lain. Banyak makhluk akan menjadi seperti kami, membuat pilihan-pilihan mereka sendiri.

Dari setiap arusmu timbul riak, dari setiap riakmu timbul buih. Buih-buih itulah yang kelak akan bangkit bersama kami dan membuat arus besar ini tak lagi berarti. Wahai yang kehilangan harapan! Hai yang ditinggalkan kesempatan lalu kehilangan keinginan! Atas restu siapakan engkau menerima keadaanmu?

Wahai engkau pembuat petaka kami! Yang bercermin di depan luka penderitaan ini! Pikirmu kaukah rupawan dengan riasan-riasan itu? Maka akan kau lihat malapetakamu menjemput, sebab semua telah bangkit melawan engkau bahkan batu-batu ini. Sebab hari-hari kami telah kembali, hari dimana jantung berdegup kencang dalam gairah perlawanan. Mencibirlah, meludahlah dengan dahakmu yang kekuningan itu ke atas kepala kami. Bahkan tumpahkanlah segala kekotoranmu di atas kepala kami sebab bagi kami, semua itu adalah minyak urapan yang berbau harum, baiat atas hari-hari sial kalian.

Pikirmu kemanakah perginya keberanian kami terhadap kematian? Kemanakah dendam-dendam? Kemana doa-doa? Tak perlu kau cari, sebab ia akan datang padamu dalam suara gemuruh yang tak akan kau sangka-sangka, lalu hati kami akan larut dalam sorak-sorai dan gegap-gempita karena itu, setelahnya kami akan larut dalam tangis sesengukan yang tak perlu kau dengar.

Sebab tiada guna empati, tak perlu belas kasih: akan kusimpan untuk diriku sendiri sebab kelak aku pun akan butuh. Sungguh semua itu tiada perlu kau terima, sudahkan saja. Karena kaupun telah tahu. Dengan apa ‘kan kau bayar kematian kecuali oleh kematian? Akhiri saja duka dan bela sungkawa. Semua ini, kepura-puraan itu: hanya menyakitkan hati. Petakamu ini telah membuat diriku tampak. Dukamu telah melapangkan hatiku, meringankan pikiranku. Bahwa ada engkau yang lebih merana!" - dream blog -

Kamis, 22 November 2007

Beton Tambun

Palem, sepupu nyiur
Tambur dikau dihimpit beton
Tak bebas, menyuntai daunmu terkulai

Palem, sepupu nyiur
Ada kulihat sedikit keanggunan
Meski tersamar keangkuhan tembok kota - dream blog -

Sabtu, 17 November 2007

Ngidam (cerpen)

Sisa-sisa keramaian belum terlihat jejaknya berangkat pulang. Kekagetan retina akibat kilat kamera bahkan masih memeluk urat-urat mata. Tetapi angin dingin sudah tak sabar hendak menjadi saksi atas malam kebahagiaan sang pengantin, lewat kisi-kisi bilik yang telah disiapkan untuknya sejak awal mula sebuah rumah. Keinginannya adalah mendahului sang perjaka menghirup aroma selaput keperawanan sang dara, aroma kembang tujuh rupa. Kelenjar kencingnya seolah-olah hendak meledak oleh kedongkolan yang tak sabar melihat wajah-wajah sumringah hadirin. Tidak seperti wajah kedua mempelai yang nampak kuyu akibat kelelahan yang dipanggulnya sejak pagi.

Ketika roda-roda malam mulai merambat miring melampaui siku-siku, akhirnya keramaian itupun lenganglah sudah sebab kedua mempelai telah diarak ke rumah mempelai perempuan. Langsung ke bilik pengantin. “Nah…akhirnya tiba juga yang ku inginkan, gumam sang bayu dalam jerit dedaunan akibat terinjak olehnya di samping bilik.

Kepalanya sudah menyembul dari kisi-kisi bilik itu ketika Bahrul, sang mempelai pria, minta obat gosok ke orang rumah. Bahrul bilang isterinya pegal-pegal, sang mertua hanya manggut-manggut. Sang bayu tak setuju lalu menyenggol daun jendela, menggoyang-goyangkannya bersungut. Tak mau ia bila keindahan malam pertama ini dinodai oleh bau menyengat ramuan minyak yang menusuk hidung itu. Apa daya, ia hanyalah samun yang hendak menyambar dalam pertolongan tenggat.

Tetapi tenggat yang dinantikannya tak kunjung tiba, malah kini justeru si bahrul yang meloroti gaun pengantinnya sendiri lalu lelap dalam usapan isterinya.
“Dasar pembual!” umpatnya dari balik bilik.

Dalam waktunya yang sekarat karena dipatuk kokok ayam, ia meronta-ronta lalu mencubit daun jendela agar berteriak membangunkan si Bahrul. Tetapi usahanya sia-sia sebab yang diterimanya hanyalah dengkur. Ia tumpas dalam penantiannya, terpanggang matahari lapar.
Si Bahrul pulas, seluruh badannya basah berkilap minyak. Sementara isterinya, terbangun paksa oleh genit matahari timur yang merangsang bulir-bulir air dari kelopak-kelopak kainnya
“Lha, Widya... Bahrul bilang badanmu pegal-pegal minta dipijat, kok gaunnya belum dicopot juga?” suara ibunya menyergap dari meja makan yang terletak di sudut lain ruang keluarga mereka. Ia hanya menjawab dengan menyodorkan botol obat gosok sambil memijat-mijat lehernya sebagai isyarat agar dipijat.
“Memangnya suami kamu tidak bisa?”
“Bisa, tapi mijit yang lain”, katanya genit.
Ibunya tersenyum, “Dasar laki-laki” katanya.
Bahrul pun bangun, kemudian langsung mandi. Wajahnya lebih segar sekarang. Sarapan sudah disediakan isterinya, tetapi ia hanya mengangkat gelas kopi. Setelah berpakaian rapi, Ia pamit hendak keluar. Kepada mertuanya yang mencegatnya dengan tanda tanya, ia cuma bilang mau ke kampus, tanpa mengharapkan reaksi reaksi apa-apa.

Pada sebuah restoran, Ia memarkirkan kendaraanya lalu berhenti dan langsung mencari sebuah meja. Seseorang sudah menunggunya.
“Pagi!” katanya.
“Bagaimana kabar isteri kamu?” sambut orang itu.
“Biasa saja.” Katanya sambil menyulut sebatang sigaret pada mulutnya, menghembuskannya kuat-kuat.
“Apa selentingan yang aku dengar itu benar?”.
“Yang mana?” bahrul balik bertanya seolah bingung.
“Yang...” katanya sambil memperagakan sebuah gerak tangan di depan perutnya, tapi Bahrul langsung menimpali:
“Yang benar itu, aku belum tidur dengannya sejak akad nikah sebab selalu ingat sama kamu” katanya sambil memencet hidung orang itu.
“Ih! Sudah punya isteri masih genit, soal kamu sudah tidur dengannya atau belum bukan urusanku.”
“Kalau begitu urusan kamu apa?”
“Jatahku!” jawabnya bengis.

Sepeninggal Bahrul suaminya, Widya tampak gelisah dan uring-uringan sebab tak ada tempat berkeluh kesah. Semua orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Tak ada seorang pun yang tahu kegundahan hatinya, tak ada seorang pun yang mau memahami apa yang diinginkannya, juga ayah dan ibunya. Kalau tidak tiduran, ia mondar-mandir atau menatap kosong dari balik jendela. Hatinya memendam kuatir dari ketakpastian yang sedang menderanya. Ia pernah berpikir bahwa hanya dengan pernikahanlah maka Bahlul akan dapat ditaklukkannya. Tapi kenyataannya? Saat ini memang sudah menjadi suaminya yang sah namun bukannya semakin perduli dan sayang padanya, malah semakin liar dan acuh.
”Jalan yang kupilih inikah buntu? Ahh.. walau buntu bagaimanapun aku harus bertahan, aku tak akan pernah mau diceraikan. Sudah kepalang basah sejak mula, Bahrul harus tetap bertanggung jawab. Tanggungannya tak akan terlepas oleh apapun.” gumamnya.

Menjelang sore hari Bahrul baru pulang, bersiul-siul ceria dan lebih cerah yang disambut mata merah dan sembab isterinya.

“Dari mana saja kamu seharian?” Isterinya bertanya dengan nada kesal.
Bahrul tak mengacuhkannya dengan gumam sebuah lagu yang sedang hits.
“Kamu pasti dari menemui perempuan itu.” isterinya mulai menangis.
“Memang kenapa kalau aku menemui dia, hah? Kan, sebelum kita nikah aku sudah bilang kalau aku tidak mencintai kamu dan karena itu sebaiknya kita putus saja. Tetapi kamu malah mau mati kalau aku tidak bertanggung jawab dengan segera menikahi kamu.” damprat Bahrul.
”Kalau begitu, sekarang akupun akan mati!” isterinya mengancam.
”hah?”Bahrul kaget mendengar ancaman itu, ancaman yang sama yang membuatnya kehabisan akal dan membuatnya takluk oleh perempuan itu. Beberapa hari selanjutnya Ia tak kemanapun, giliran Bahrul yang uring-uringan dan tampak lesu, kuyu seperti kehabisan tenaga.
Tiga hari kemudian, Widya muntah-muntah. Tetapi Bahrul terlihat santai saja, hanya keluarga isterinya yang terlihat sibuk. Mertuanya bilang mungkin cuma masuk angin saja karena terlalu sering mandi. Tapi sudah seharian mual-mual saja kerjanya dan belum makan apapun. Segala macam obat masuk angin sudah diberikan tapi hasilnya nihil.

Orang rumah yang selalu sibuk dengan kegiatannya masing-masing mulai kuatir melihat keadaan Widya pada suatu Minggu pagi. pada hari itu, Mertua si bahrul bangun lebih pagi dan menunggu saat-saat keluarnya Bahrul dari kamarnya. Hanya beberapa saat, yang ditunggu sudah keluar dengan tampang yang lebih parlente dari biasanya.
“Bagaimana tesis kamu?”.
“Eh, Ayah! Anu, sudah beberapa hari saya urus tapi belum kelar-kelar, maklum, dosen pembimbing saya sedang sibuk proyek” Bahrul menjawab gagap.
“Ada baiknya isteri kamu diperiksakan ke dokter, sudah beberapa hari saya amati ia tersiksa.” Bahrul ingin membantah, Tapi lidahnya kelu. Ia merasa ditegur lalu buru-buru ke kamarnya lagi tanpa sepatah kata pun.
“Ayahmu mau kita ke dokter, bersiap-siaplah! Saya masih punya banyak urusan.” katanya pada isterinya dengan kasar.
Dengan sempoyongan, isterinya bangkit dari pembaringan dan berhias seadanya lalu menyandang tas tangannya. mereka berangkat. Pada waktu tengah hari yaitu sekembalinya dari dokter dengan membawa jambu keprok yang dibelinya, Bahrul yang telah berada pada puncak kedongkolannya akhirnya kambuh dengan kebiasaan lamanya, hanya saja waktunya paling-paling dua sampai tiga jam. Sudah lima hari kejadian yang sama sepertinya hanya terulang saja, sedangkan ’masuk angin’ isterinya kadang berhenti kadang kambuh.
Pada suatu hari bahrul pulang membawa sekeranjang mangga muda.
“Pesanan isterimu ?” Tanya mertuanya yang menyambutnya dengan wajah sumringah.
Bahrul hanya mengangguk karena disergap gugup.
“Tidak usah gugup, santai saja. Mengetahui kita akan menjadi ayah untuk pertama kalinya memang mendebarkan, tapi itu hal yang wajar saja.”
Bahrul mengangguk lagi seolah membenarkan lalu segera berlalu ke kamar dengan pisau dapur
“Loh,…jambu keprok saya mana?” Sergah isterinya.
Bahrul keluar lagi, hendak mencari yang diminta isterinya, beberapa saat kemudian Ia kembali dengan sekeranjang jambu keprok.
Di hari lain masih dalam bulan itu, Bahrul tetap larut dalam kebiasaan ‘keluar beberapa jamnya,’ sementara kian hari tubuh isterinya kian tipis sebab tiap hari makan hati, dimulai sejak malam pertama resepsi pernikahan mereka. Bayang-bayang kelesuan dan kelelahan pada hari yang melelahkan itu seolah belum hilang juga hingga saat ini entah sampai kapan.
“Kamu suka betul makan mangga, Kira-kira seperti apa nantinya cucu saya ya?” Kata ibunya pada suatu hari ketika melihat mangga di keranjang tinggal tiga biji. Mendengar itu, isteri bahrul mengerutkan dahi tak mengerti.
“Cucu ?”
“Ya, cucu. Kamukan sedang hamil toh ?”
Isteri bahrul makin mengerutkan dahinya tak mengerti, ia menggeleng.
“Ya ampun, saya makan jambu keprok itu karena kawan saya bilang kandungannya ada yang mirip zat pada tomat, bisa menetralisir asam lambung. Tempo hari dokter bilang saya menderita maag kronis.”
“Maag kronis kok makan mangga muda banyak begitu ?” Ibunya ganti bingung.
“Mangga muda itu, bukan aku yang makan, tapi suamiku”
“Lho? Jadi kamu tidak hamil? Benar? Kalau begitu, apa yang terjadi dengan Bahrul?” Ibunya masih tidak percaya. Wajah yang sumringah hendak menimang cucu sudah sirna ganti kecewa.
Lewat magrib, Bahrul pulang menenteng mangga muda dan langsung ke kamar, disambut oleh amarah dan tangis histeris isterinya. Ribut-ribut dan cek-cok terjadi semalaman. Pagi-pagi betul, tatkala belum satupun orang rumah yang terjaga Bahrul keluar tergesa sehingga mertuanya tak sempat menyapanya. Pada sore harinya, Bahrul tak pulang. Juga ketika hari telah pagi kembali.

Pagi itu, Isteri bahrul mengunci diri di kamar dan tak pernah keluar lagi, sesekali mengerang-ngerang lalu suaranya hilang. Pada pukul 08:00 rumah lengang, orang rumah berangkat kerja, tinggal pembantu saja yang berada di rumah. Pukul 13:00, pembantu rumah menggedor-gedor kamar isteri Bahrul untuk makan siang tapi tak ada jawaban, ia mengintip dari celah daun jendela dan melihat isteri bahrul tengah tertidur. Pukul 16:00, mertua Bahrul laki dan perempuan pulang dari kantor, gelisah karena anaknya masih mengunci diri dan pembantu bilang belum makan apapun. Pukul 18:00 Mertua si bahrul menggedor-gedor pintu, tetapi sia-sia. Akhirnya, diputuskanlah untuk membuka pintu secara paksa. Mertua si bahrul meraung histeris menyaksikan anaknya terlentang di pembaringan, urat nadinya putus. pembantu rumah menghubungi pak RT. Sesaat kemudian, polisi tiba. Begitulah kesaksian pembantu rumah tangga dalam kesaksiannya kepada polisi yang memeriksanya.

Hasil visum dokter menyatakan kalau Isteri bahrul meninggal karena kehabisan darah, dipastikan bunuh diri. Dalam rahim korban juga ditemukan janin yang sedang tumbuh, usianya sebulan lebih. Mertua bahrul protes sebab dokter yang pernah memeriksa anaknya cuma mendiagnosis maag kronis. Sang dokterpun diperiksa, ternyata ada persekongkolan antara sang dokter dengan Bahrul maka keduanya ditahan. Sementara mereka ditahan, Bahrul meminta dibelikan mangga muda. Empat bulan kemudian kasus mereka disidangkan. Si Dokter dihadirkan sebagai saksi pada pengadilan dengan Bahrul sebagai terdakwanya, demikian juga sebaliknya. Dalam persidangan, terlihat perut sang dokter buncit sedangkan Bahrul tak tahan ingin makan mangga muda. - dream blog -

Sabtu, 08 September 2007

Kirimi Aku Bunga Kamboja*

Dok,...
Rumahmu terlalu putih, tak mampu aku menatap
Lihatlah, mataku silau bahkan telah buta
Hingga tak kutemukan jalan, agar boleh sekedar menyapamu
Kakiku terasa berat lagi lamban
Tanganku kurus, terlalu tipis
Tak mampu menjabat tanganmu, ganti terima kasih
Aku pulang saja ya?
Jangan lupa jenguk aku
Tak perlu bawa jarum suntik
Aku lebih suka bunga kamboja

*

Rabu, 05 September 2007

Selamat Buat Sarjana baru

"Jangan bermimpi untuk menjadi apa-apa sobat. Karena dunia di luar sana tidak membutuhkan orang yang cerdas dan banyak tanya, tetapi orang yang penurut dan dungu!!!" kata sebuah tulisan di koran kampus.

Selamat buat Aslam Fatwa, Andi Muhidin, Rinto Budiman, dan semua yang kini sedang menikmati gelar baru di belakang namanya. Ya, sebuah SE yang telah dibayar mahal. Selamat.

Traktirannya mana? - dream blog -

Sabtu, 18 Agustus 2007

Sang Pemburu

Baca sebelumnya: Sang Pemburu (Prolog)

Nafasnya tersengal-sengal, jantungnya berdegup hebat. Rasa lelah mulai menjalari pikirannya. Ingin rasanya ia segera tiba dan terlelap di pembaringan yang hangat. Akh…aku harus bergegas, ia bergumam. Sebentar lagi hari akan gelap. Ia memacu langkahnya. Matahari telah tersangkut di pepohonan, cahayanya menerobos menembus sela-sela dedaunan. Sementara itu kabut mulai turun, udara dingin menyeruak ke paru-parunya, menekan selaput hidung dan tenggorokannya hingga terasa perih. Sesekali giginya gemeletukan tanpa diinginkannya namun ia telah terbiasa, ia tetap berjalan bahkan semakin cepat. Keinginannya untuk segera berdiang di depan api hampir tak tertahankan lagi.


Jalan setapak yang dilaluinya mulai menanjak, langkahnya melambat bahkan semakin lambat saja. “Aku harus segera tiba di puncak tanjakan ini.” Begitu pikirnya. Dipindahkannya tungkai pemikul ke bahu sebelah kirinya, lalu setelah beberapa langkah dipindahkannya lagi ke bahu kananya. Ketika tinggal beberapa langkah lagi ia segera tiba di puncak, bebannya dihempaskannya ke tanah. Tubuhnya di rebahkannya, bersandar ke sebatang pohon. Ia kembali mengatur nafas. Menghirup udara kuat-kuat, lalu menghembuskannya perlahan-lahan. Hal itu dilakukannya beberapa kali. Matahari sudah hilang tetapi semburat cahayanya masih menghiasi langit di sebelah barat.

Selang beberapa saat, anjing-anjingnya, yang beberapa hari ini menyertainya muncul dari semak-semak. Mereka juga nampak kelelahan, namun tetap lincah dan awas. Ekornya dikibas-kibaskan, lidahnya menjulur-julur. Anjing-anjing itu menghampiri dan menggosok-gosokkan badannya ke kaki tuannya dengan akrab. Dari puncak bukit itu, ia memalingkan pandangannya kearah selatan. Dari kejauhan, kelap-kelip seperti cahaya mulai terlihat, rumah-rumah terlihat samar dan tampak kecil. Kampungnya sudah cukup dekat dan tak beberapa lama lagi ia sampai.

Ia duduk sejenak, bebannya diletakkannya di samping. Tombak yang dijadikannya tungkai pemikul dipancangkannya ke tanah. Dipandanginya barang pikulannya; beberapa kerat sarang madu, seekor babi jantan tambun dan seekor anoa. Ia menghela nafas, lalu tersenyum puas. Isteriku musti bangga bersuamikan aku, anakku musti merengek minta diceriterakan bagaimana aku menaklukkan kedua binatang hebat ini. Semua itu terlintas dalam pikirannya, ia menghela napas lagi.

Dipandanginya kepala Anoa yang legam itu, tanduk runcingnya hampir saja mengambil nyawanya. Ia bergidik membayangkan pergulatannya dengan binatang lincah itu. Binatang yang tetap beringas meski tengah sekarat. Tetapi ia kemudian tersenyum bangga, anoa adalah gambaran dari kehandalan seorang pemburu. Selain binatang itu sulit di taklukkan, larinya juga sangat kencang dan hanya keberuntunganlah yang membuatnya dapat disentuh. Ia teringat saat pagi tadi, hari masih gelap dan ia masih terlelap kemudian terbangun oleh riuh suara anjing-anjingnya. Secepat kilat ia segera menyambar senjatanya dan berlari ke arah datangnya suara.

Di sebuah ceruk tebing, ia melihat anjing-anjingnya sedang bergumul dengan seekor binatang berwarna hitam. Anjing-anjingnya terpental ke kiri dan ke kanan, tapi gigi-gigi mereka mencengkeram kuat kulit binatang itu. Setelah sangat dekat dan dirasanya bahwa lemparan tombaknya tak akan meleset lagi, dilepaskanlah tombaknya ke arah jantung binatang itu dengan sekuat tenaga. Bret! Darah tersembur keluar dari celah-celah lubang yang dibuat oleh tombaknya diikuti jerit sang anoa. Tetapi tidak roboh, malah semakin beringas. Anjing yang masih menahannya terpental lepas dengan keras terkena tendangan kaki belakangnya.
Sang pemburu kaget bukan kepalang, anoa itu kini menghambur ke arahnya dengan tanduk yang mengacung kepadanya. Hanya refleks saja yang membuatnya membuang diri ke samping. Namun anoa itu segera berbalik dan kembali menyerang ke arahnya. Beruntunglah, saat itu ia sedang rebah ke tanah sehingga tanduk-tanduk anoa itu lewat hanya beberapa ruas jari di atas perutnya. Pada saat itulah ia menangkap tanduk sang anoa lalu menekan bagian kepala dengan memelintirnya ke tanah. Binatang itu meronta-ronta hendak melepaskan diri, tapi keseimbangannya telah hilang. Ia meronta, berputar. Sang pemburu mengikuti arah gerakannya dengan tekanan yang makin kuat. Anjing-anjingnya membantunya, menggigit, menarik pinggul dan kakinya sehingga anoa itupun jatuh ke tanah. Pada saat itulah, dengan kaki kirinya menginjak leher binatang itu, sang pemburu menarik parang di pinggangnya lalu menghunjamkannya tepat ke arah jantung. Sang anoa merejan, mengejang lalu meregang nyawa karena kehabisan darah.

Sementara babi itupun didapatkannya tidak dengan mudah. Kejadiannya kemarin siang, ketika Ia baru saja mengisi perut dengan bekal terakhirnya. Sebenarnya ia telah putus asa karena belum mendapatkan satu ekor binatang pun. Ia berencana untuk segera pulang saja sebab perburuannya kali ini tidak seperti biasanya. Saat beristirahat, rasa sakit yang amat sangat dari balik punggungnya mengagetkannya. Diamatinya keadaan sekelilingnya dan… Ai! Seekor lebah. Teringatlah olehnya, semalam cuaca terang benderang oleh cahaya bulan purnama. Itu pertanda kalau madu setiap sarang sedang melimpah. Ia mendongakkan kepalanya ke cabang-cabang pohon, menoleh ke kiri dan ke kanan. Tetapi tidak didapatkannya jua yang dicarinya.

Ia lalu berjalan membentuk lingkaran, semakin lama semakin besar lingkaran itu dan semakin jauh ia dari tempatnya semula. Tak lama kemudian, samar-samar telinganya menangkap suara dengungan. Ia mencari asal suara itu, berjalan ke arahnya. Semakin lama, suara dengungan itu semakin banyak dan keras lalu terlihatlah olehnya bonggol besar berwarna hitam menggantung pada cabang sebuah pohon. Ia tersenyum senang. Tak ada binatang, madu juga tidak apa-apa, katanya dalam hati. Ia lalu mulai mengumpulkan ranting-ranting kering dan dedaunan, ditumpuknya tepat dibawah sarang lebah-lebah itu. Tak lupa, dikumpulkannya juga daun-daun yang masih segar bersama ranting-rantingnya. Semua itu ditumpuknya menjadi satu.
Ketika ia hendak mengeluarkan batu api dari kantung kulit di pinggangnya, tiba-tiba terdengar olehnya riuh gonggongan anjing-anjingnya. Ia berhenti sejenak, lalu suara-suara itupun terdengar semakin jelas. Ia berjalan lagi, kemudian tampaklah olehnya di tanah, jejak-jejak baru babi hutan. Hm, ternyata kalian berkumpul di sini. Ia bergumam. Ia mulai berlari dengan tombak di tangannya. Parang yang tergantung di pinggangnya berayun-ayun, semak dan belukar tak lagi diperdulikannya. Duri-duri rotan merobek kulitnya, ia tetap tak perduli. Perhatiannya hanya tertuju pada suara anjing-anjingnya.

Semakin lama ia semakin dekat dengan kegaduhan itu, lalu dilihatnya ketiga anjingnya sedang bergulat dengan seekor babi yang besar. Seekor anjingnya mencengkeram leher, sementara dua ekor yang lainnya menggigit kaki dan pinggulnya. Anjing yang mencengkeram leher sang babi mulai kewalahan, kaki belakangnya terlihat sobek. Darah mengalir dari lukanya. Sang pemburu muncul dan mengayunkan tombak ke arah rusuk depan babi itu. Darah mengucur, Ia tidak melepaskan tombaknya tetapi sebaliknya di tekannya. Karena kaget, babi itu meliuk kearah sang pemburu tetapi ia melompat dengan tombak sebagai tolakan. Karena tekanan yang keras, babi itu pun ambruk ke tanah. Tombak menembus badan babi itu dan tertancap ke tanah. Hanya sesaat saja, babi itu lemas dan mati.

Ia memanggil anjingnya dan memeriksanya satu per satu lalu mencari dedaunan obat luka, dikunyahnya dan ditempelkannya pada luka-luka anjingnya. Setelah mengurus anjing-anjingnya, binatang buruannya itu dibereskannya. Bagian terbaik dari daging diirisnya lalu diberikannya kepada mereka satu-satu sebagai hadiah. Setelah itu, ia kembali ke tempatnya mengumpulkan dedaunan tadinya. Sejenak ia tak melakukan apa-apa, kemudian mengambil rotan-rotan kecil yang bertebaran di sekitarnya sebagai tali lalu diikatnya anjing-anjingnya pada sebatang pohon. Anjing-anjing itu dipagarinya dengan ranting lalu ditutupinya lagi dengan daun-daun yang lebar. Setelah dirasanya semua siap, Ia mulai menyalakan api pada tumpukan itu. Ditambahkannya daun-daun yang masih segar, maka asap putih pekat pun membubung menyapu semua yang berada di atasnya. Lebah-lebah berhamburan, panik dan terbang kian kemari mencari sasaran. Sang pemburu merapat ke nyala api sambil terus menambahkan daun-daunan dan ranting. Setelah dirasanya aman, ia mengeluarkan daun-daun basah yang belum terbakar itu sehingga hanya lidah-lidah api saja yang tersisa. Sang pemburu mendongak ke sarang itu dan amboi… sarang yang tadinya berwarna hitam kelam kini hanya berwarna putih kekuningan saja. Kantung kulit bekas wadah bekalnya disiapkannya, kemudian mulai memanjat lalu mengiris sarang itu dengan hati-hati lalu memasukkannya ke kantung kulitnya. Pada saat itu, hari benar-benar telah gelap. Sang pemburu memutuskan untuk menginap saja di tempat itu. Diambilnya segenggam madu, dimasukkannya ke mulutnya beserta sarangnya dengan lahap. Benar-benar nikmat, itulah makan malamnya. Ia kembali mengambil beberapa batang kayu kering, lalu membuat perapian.

.......................

Ia benar-benar bangga mengingat semua itu, nyeri luka dari kaki dan tangannya akibat duri dan belukar ataupun lebam dan memar di badannya akibat bergumul dengan binatang-binatang buruannya tak pernah dirasakannya. Baginya, semua itu adalah hiasan kelaki-lakiannya.

Wuaaah…ia mulai menguap, ia kembali berdiri lalu mulai berjalan lagi. Kali ini ia menuruni bukit itu, anjing-anjingnya mendahuluinya. Salah satu anjingnya yang terluka oleh taring babi di bagian pahanya tidak mengikuti anjing yang lain berlari tetapi berjalan beriringan dengan sang pemburu. Dalam malam yang mulai gelap itu, sesekali kaki sang pemburu terantuk atau juga terhalang oleh anjingnya. Tetapi kini ia berjalan semakin cepat dari sebelumnya bahkan dengan berlari-lari. Jalanan yang dilaluinya memang bukan lagi tanjakan. Barang-barang bawaannya; daging dan madu yang dipikulnya berayun dan bergoyang seolah menari seirama dengan hatinya yang selalu ceria. Cuaca dingin yang dibawa gelap malam tak dirasakannya, tubuhnya kembali berkeringat sementara kerlap kerlip cahaya dari rumah-rumah yang kini jadi panduannya semakin lama semakin jelas dan terang, semakin besar dan semakin dekat.

Bersambung ke Sang Pemburu (Epilog) - dream blog -

Sabtu, 14 Juli 2007

Sang Pemburu [Prolog]

Di suatu kala, waktu dimana titisan To Manurung memerintah tana Luwu’, tersuratlah sebuah kisah dari mereka; orang-orang yang memilih menjadi sekehendak apapun dirinya. Mengingkari takdir yang diletakkan di wajah mereka, orang-orang yang senang membuat takdir sendiri. Mereka adalah orang-orang yang lari dari sepenggal hidup menuju hidup sepenuh hidup: hidup yang menyemesta.

Di bawah keakraban matahari, dibelai sang rembulan, dalam dekapan rimba raya, dipandu bintang gemintang. Dan bila angin musim pun berubah, langit memberi pengajaran, bumi menempa hidup. Lalu jadilah mereka itu, anak-anak matahari. Yang langkahnya seperti siang dan malam, berkulit cuaca. Dinantikannya pagi sepenuh harapan, disongsongnya fajar dengan semangat sesegar embun pagi, dari dilaluinya dengan girang. Lalu terlelap dalam malam-malam kesyukuran.

Ladang-ladang mereka menggeliat di musim tanam, sawah-sawah mereka menarikan tarian ibu mengandung. Ketika musim panen tiba dapur-dapur mengepul sepanjang hari.

Tikar-tikar jamuan dihamparkan. Di setiap rumah Sengo dilantunkan, semua orang; besar-kecil, tua-muda, ma’kuranjen . Kaki-kaki dengan ketukan dan gerak tertentu menghentak lantai sampai rumah seakan hendak rubuh--tarian kesyukuran atas hidup sepenuh hidup.

Lalu hidup pun terus berputar, anak-anak lahir dan menjadi dewasa, orang-orang dewasa menemui kesudahan satu demi satu. Ya! Sesederhana itu. Tak ada kekuatiran, hanya kepolosan yang satu dengan kepolosan yang lain. Bergerak selaras dalam harmoni.

Sampai suatu ketika, kejahatan datang dari tempat-tempat yang jauh. Menghinggapi hati anak-anak matahari itu, membuat jiwa-jiwa mereka menjadi kerdil. Tunas-tunas pun layu sebelum tumbuh, teruna-teruna patah terkulai. Kehidupan pun menjadi suram...

Bersambung ke Sang Pemburu, kemudian Sang Pemburu (Epilog) - dream blog -

Selasa, 03 Juli 2007

Kalau Perempuan Tak Mau Beranak

Kalau perempuan tak mau beranak
Hingga bulunya putih akan bersabar si gagak
Menanti kanak-kanak terbahak riang
Di balik semak saat petang

Kalau perempuan tak mau beranak
Bau asap tak lagi mengganggu wangi pepagi
Sebab hari-hari lengang tak bertepi
Dalam cengkeraman hasrat menjadi lelaki

Tetapi ayam-ayam tak berhenti berkotek
Karena diinginkannya langit dalam asyik masyuk
Agar susunya tetap memasung mabuk
Lalu dimintanya lembu membuat tetek

Menghianati bayi-bayi bukanlah amanah emansipasi
Melainkan lahir oleh berkaratnya hati
Dalam takluk jerat ambisi
Sampai kodrat diumpat, tak mengerti
- dream blog -

Sabtu, 09 Juni 2007

Balada Negeri Jangkrik

Padang ilalang bermahkota bulan
Pada waktu senja menjadi liar dan egois
Memangsa terang satu persatu
Di negeri jejangkrik suatu ketika

Ekor-seekor terpekik kaget
Undur selangkah beringsut cerewet
Di pohon ampun tungkai tersodor
Malahan jempolnya remuk terinjak laknat,
Rumah yang ramai sepilah sudah
Sebab tinggallah jangkrik seekor
Jarinya remuk kakinya rusak
Tak lagi mampu meloncat, mengungsi

Sedikit-sedikit ia merayap
Dengan sungut di setiap ingsut
Dalam kesepian ia meratap
Dengan ratapan yang juga sepi
Padang ilalang bermandi air mata,
Saling tusuk anaknya sendiri
Beberapa tumpas pasrah paksa
Di atas trotoar padang ilalang
- dream blog -

Sabtu, 26 Mei 2007

Sindrom Menara Babel (selesai)

Sistem Pendidikan Dan Integrasi Bangsa

Bahwa sindrom menara babel menggerogoti manusia, peradaban dan kebudayaannya. Akibatnya mereka tak lagi mengenal dirinya satu sama lain dan karena itu tercerai-berai. Kenyataannya setelah manusia-manusia berpenyakit itu berpencar ke seluruh bumi, insting dan akal yang mereka miliki memungkinkan mereka tetap berkembang biak dengan pesat dan membangun peradaban dan kebudayaan mereka yang juga terinfeksi.

Dalam sejarah kemanusiaan, selalu ada manusia yang berhasil membebaskan dirinya: dari Musa sampai Muhammad (nabi-nabi), dari Gautama sampai Kong Fu Tze, dari Gandhi, Lincoln sampai Sukarno (negarawan), para filsuf besar dan banyak lagi. Mereka adalah manusia-manusia luar biasa yang menjadi cahaya bagi setiap zamannya dan berusaha menjadi penyembuh. Namun bagaimanapun usaha mereka, untuk bebas dari sindrom ini tetap bergantung pada manusianya sendiri.

Hanya pengetahuanlah obat dari penyakit ini; kesadaran (consentia) yang tanpa akhir yang hanya diperoleh melalui proses belajar tanpa akhir pula. Zaman kita mengenal sistem pendidikan, dibentuk oleh manusia untuk tujuan pengetahuan, tersusun dari elemen-elemen yang bekerja menurut fungsinya masing-masing menurut kaidah-kaidah tertentu. Tetapi iapun dapat terkontaminasi, karena dilahirkan oleh manusia yang juga terinfeksi. Ilustrasi tentang seorang penderita yang pernah saya tulis sebelumnya mencerminkan realitas, fakta dan empirikal sifatnya. Ia sudah melihat penyakit itu dan karena itu ia meratapinya. Halaman-halaman ini tak akan mampu menampung keluhan-keluhan lainnya. Belum lagi bila memakai referensi dari belahan dunia lain, misalnya pandangan tokoh–tokoh sampai kritikan-kritikan para pemikir besar. Pandangan-pandangan mereka telah cukup menyinari lubang-lubang dalam sistem pendidikan di dunia mereka namun belum menghasilkan apa yang kita harapkan. Penyakit ini hanya berubah bentuk ke bentuk yang lain. Lubang-lubang tetap menganga seolah dengan sengaja dipertahankan. Bukan tanpa alasan, saya kira memang tak ada satupun saat ini yang bebas dari sindrom ini. Bahkan agama atas nama moralitas pun sering dijadikan alat kejahatan. Di negara ini, tidak jauh berbeda bahkan lebih parah.

Berikut ini, saya mencoba menyoroti sindrom yang mengakar kuat itu.
Di sebuah negara yang cendekiawannya/ intelektualnya/ para jeniusnya/ tokoh-tokohnya intens menyoroti soal-soal pendidikan bahkan secara keras, masih terdapat banyak bolong-bolong, apalagi di negara kita di mana orang-orang yang berkecimpung pada soal itu hanya mulai berpikir saat menjelang pemilu dan penyusunan anggaran. Memang kita melihat ada beberapa perubahan yang menarik perhatian dewasa ini, antara lain peningkatan anggaran pendidikan dalam APBN dan kontroversi Ujian Akhir Nasional (UAN). Soal perubahan nominal anggaran pendidikan itu, hendaknya tidak disebut peningkatan, kesannya terlalu politis. Saya justru melihat bahwa perubahan itu lebih didasari oleh perubahan kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) dan belum merupakan usaha yang serius untuk melayani masalah-masalah pendidikan. Betapapun besarnya anggaran yang kita alokasikan apabila sistem yang menjadi roh pendidikan menutup mata terhadap ketidak-beresan dirinya maka itu adalah sebuah kesia-siaan, sebut saja misalnya masalah ketidak-beresan itu adalah ketidak-adilan. Siapa yang memiliki hak atas pendidikan bila pendidikan sudah menjadi satu komoditi ekonomi? Inilah salah satu bentuk yang diambil oleh sindrom itu.

Perubahan anggaran dapat kita jadikan indikasi betapa modal telah menjadi kekuatan utama yang menggerakkan pendidikan kita dewasa ini, bukan lagi rasa ingin tahu kebenaran sebagaimana hakikat manusia. Fenomena menjamurnya institusi-institusi pendidikan swasta telah menunjukkan keberadaannya sebagai salah satu komoditas ekonomi prospektif ataupun perubahan status Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menjadi Badan Hukum Pendidikan (BHP). Motif ekonomi telah menjadi titik tolak dan tujuan pendidikan, di masyarakat ada ungkapan "Apa guna pendidikan bila tidak ada uang? Apa guna uang bila tak berpendidikan?" Sebuah jargon, manipulatif dan hegemonik dan sayangnya telah menjadi kesadaran masyarakat secara umum. Apa lacur, toh masyarakatlah yang menilai, membentuk dan menghakimi; 'penguasa sejati' kata demokrasi, tapi benarkah?

Massa manusia seperti binatang, mendekati ciri simpanse tidak tahu apa-apa. Namun unit-unit pembentuk massa ini adalah makhluk netral, ratu lebah yang terhormat, hukumnya: kita dimanfaatkan sebagai atom-atom kasar jika kita belum berfikir. Sesudah kita berfikir maka kita manfaatkan massa itu. (Ralph Waldo Eemerson, Alam dan manusia)


Dewasa ini apakah kita sudah berpikir? Kita sudah berfikir tapi pikiran kita terberi, terprogram, dibentuk. Ada yang menguasai kita, itulah makhluk netral yang menjadi ratu lebah. Ia memang menguasai kita, tetapi iapun dikuasai oleh apa yang dipikirkannya. Lalu bagaimana bila yang dipikirkannya dikuasai oleh kekuatan yang lebih besar dari dia seperti pikiran kita(masyarakat) dikuasai olehnya (sang ratu lebah)? Maka kitalah yang harus menjadi ratu lebah; yang belajar terus-menerus agar tersadar terus-menerus.

Polemik ujian akhir nasional jangan dikira terlepas dari prinsip-prinsip yang digariskan oleh sang ratu lebah yang terhormat dan yang mengendalikannya, iapun bagian dari sistem. Kebijakan ini memang ditelurkan oleh wakil-wakil kita di Dewan Rakyat, tapi mereka pun bukannya tanpa penguasa. Disanapun ada kekuatan dominan.

Agar kritik ini tak berkesan ideologis (kiri, kanan, poros tengah) baiklah kita tinjau menurut kapasitas kita. Apabila alasan penerapan UAN adalah Uji Kompetensi atau Uji kemampuan siswa maka tidak bisa tidak, pertanyaan yang mendasarinya adalah sudah sampai sejauh mana siswa menyerap jenis-jenis pengetahuan yang diberikan? Tentu saja indikator-indikator dari sejauh mana serapan/penguasaan dan jauh yang harus diserap/dikuasai harus jelas.

Bila alasan penerapannya adalah proses saringan maka alasan itu tidak memiliki landasan sama sekali. Saringan untuk apa? Yang berkompeten menyaring dan memberikan penilaian adalah masyarakat, lingkungannya ataupun komunitas di mana ia ingin menjadi bagian. Bila alasannya adalah proses saringan untuk keluar dari institusi pendidikan maka tuduhan bahwa sekolah adalah penjara benar adanya dan sekolah adalah pelanggar HAM yang paling keji, sekolah akan menjadi momok, betapa tidak? Proses itu telah mengambil alih tanggung jawab terhadap integritas manusia yang telah dihakiminya secara paksa.

Kecuali tujuannya tak lebih sebagai fungsi ke dalam untuk menilai, mengevaluasi kualitas persekolahan maka UAN tak bisa diterima. Bila sebuah keharusan (setelah semua prasyarat-prasyarat dipenuhi) penerapan UAN demi penerapan ataupun standarisasi kualitas siswa dari Sabang sampai Merauke maka Ujian Nasional sekolah dapat dilakukan pada tingkat-tingkat atau kelas sebelumnya(I & II) dan sama sekali bukan untuk menentukan lulus tidaknya ia dari sekolah. Karena sekali lagi, lulus atau tidaknya mereka dalam hidup tidak akan ditentukan oleh 'penguasa pendidikan' tetapi oleh masyarakat dan lingkungannya. Toh proses belajar tak pernah berhenti bukan?

Sistem pendidikan memiliki peran yang sangat sentral dalam usaha penyembuhan bangsa kita dari sindrom ini, alasan-alasannya telah dipaparkan sebelumnya. Meski demikian, sistem juga berpotensi mencerai-beraikan bila ia terkontaminasi karena tak ada satu hal pun yang benar-benar bebas di luar kesadaran yang terus menerus. Kita mesti berjaga-jaga selalu. Sindrom ini semacam bahaya laten, ia bisa kambuh kapan saja, yaitu pada saat kesadaran mengalami anti klimaks. Tak ada satu hal pun yang boleh dimapankan, apalagi dikultuskan kecuali kemanusiaan yang mengetahui hakekatnya.

Dalam sejarah berbangsa kita, Soekarno adalah salah seorang tokoh yang pernah terbebas. Ia pernah menjadi ratu lebah kita. Disayangkan, bahwa di akhir hayatnya ia kehabisan tenaga melawan sindrom ini dan kembali tergerogoti. Meski begitu, pada masa-masa kesembuhannya ia melahirkan sebuah konsep: Pancasila, yang sampai saat ini masih tetap merengkuh kita semua meskipun tengah sempoyongan. Timor Timur tak lagi mampu di peluknya, Aceh dan Papua sedang meronta-ronta, potensi-potensi lain di sekitar kita juga sedang mengatur siasat. Bagaimanapun, Pancasila hanyalah sebuah konsepsi yang juga dapat dikuasai oleh sindrom itu. Harus ada yang tetap membuatnya terjaga dari tidur agar tak berakhir Nusantara tercinta ini.

Proses mencari kebenaran sudah menjadi perhatian utama manusia dari segala zaman, itulah fitrah manusia. Amat tak bijak bila tujuan mulia itu dibelokkan dari tujuannya yang semula, maka kitalah pengkhianat-pengkhianat terhadap kemanusiaan kita sendiri yang seharusnya bertanggung jawab atas hal ini.

Kalian yang di istana-istana gading, keluarlah dari persembunyian kalian, tugas memanggil! Kalian yang serakah, menyingkirlah dari jalan-jalan pengetahuan dan sadarlah bahwa kalian tengah bunuh diri tanpa kalian sadari!


Pengetahuan yang memanusia, kita tahu bukankah pengetahuan untuk pengetahuan itu sendiri tetapi pengetahuan yang memaslahatkan segala umat dan membawa rasa syukur segala manusia tanpa kecuali.

Bila tugas pemerintah terlalu banyak atau bila pemerintah tak mampu menangani pendidikan dan persoalan-persoalannya dan ataupun bila pemerintah tak mampu melepaskan diri dari "nafsu-nafsu" (sindrom) yang menguasainya maka kembalikanlah otoritas pengetahuan itu pada para bijak (yang telah sembuh). Siapa para bijak? Para bijak ada di antara kita, bukan di gedung dewan yang terhormat, bukan di istana negara, juga bukan di menara gading tapi yang bijak ada di jalanan, di kolong-kolong jembatan, di rumah-rumah sakit, sedang bersama orang-orang yang lari dari hidup, di sekitar kita berbagi pengetahuan dengan tulus tanpa pamrih, yang berkata bahwa pengetahuan bukan miliknya seorang, bahwa temuan-temuannya bukanlah hak kekayaan intelektualnya (HAKI) sendiri tetapi telah digalinya dari semua manusia dan seluruh alam yang oleh karena itu adalah milik bagi semua semua.

Para bijak akan menerangi kita dengan pengetahuannya tanpa tekanan dari apapun dan siapapun. Mereka takkan menginginkan hidup kita karena mereka telah memiliki hidup sendiri. Mereka juga tak akan menentukan apakah kita lulus atau tidak dengan lembar jawaban pada suatu saat, karena kita sendirilah yang akan mengetahui dan menanggung resiko dari semua itu, maka kitalah yang akan memacu diri untuk meluluskan diri. Tidak akan ada seremoni perpisahan di sekolah-sekolah karena kita akan terus bersama setiap waktu. Kita dapat berjumpa dengan mudah saat membutuhkan mereka ataupun ketika mereka membutuhkan kita. - dream blog -

Senin, 21 Mei 2007

Sindrom Menara Babel (II)

Inilah salah satu penderita syndrom itu, penderita yang mulai menyadari dirinya dan sedang berusaha melihat batas-batas yang mengungkungnya, juga harapan harapan kesembuhannya:


“Satu-satunya alasanku untuk tetap tidak mengambil jarak dengan dunia kampus dan sekolah -Pendidikan- hanyalah karena soal akses. Hal apa yang terkait dengan pengetahuan yang tidak kita dapati di sana? Bukannya aku tak tahu menghargai, aku hanya tak dapat menerima penghargaan yang tak layak aku dapatkan. Aku menyebut itu penghinaan. Akses, sekali lagi soal Akses, akar kesempatan-bukan berarti aku mencuri dari mereka. Aku percaya di dalam diriku ini membara potensi dari segala, gagasan-gagasan meronta minta penyaluran tetapi katupnya seolah tersumbat (syndrom menara babel). Tetapi cukup sudah, aku tak ingin lagi. Aku akan tertunduk di mata mereka selama beberapa masa dan setelahnya, yaitu ketika aku siap, mereka akan kubuat malu melihat masa lalunya.

Lihatlah lepasan-lepasan sekolah itu... Tengoklah sarjana-sarjana itu, bisa apa sekerup tanpa mesin? Tanpa daya? Toh sebuah mesin tetap membutuhkan programmer dan operator.

“Individu kehilangan hakekat dirinya sendiri, namun secara sadar ia anggap dirinya bebas dan hanya tunduk pada dirinya sendiri saja alias terbenam dalam khayal tentang kejayaan individualitas” Erich Fromm, Mendidik si Automaton (manusia-manusia yang terinfeksi syndrom Menara Babel)


Ketika kau tengok pula ke rumahnya, di sana terpampang ijazah dan foto wisuda, sebagai kebanggaan. Tapi benarkah mereka bangga? Yang kulihat hanya rasa malu yang ditutupi dengan make up tebal. Mereka kemudian dicibir oleh masyarakat sendiri, membuat pendidikan tersipu-tersipu dan ketersipuannya itu menghina pengetahuan. Andai pendidikan hari ini surut ke titik nadirnya sekejap saja, maka kita boleh mengharapkan era baru kebangkitan pengetahuan. Ledakan-ledakan kreasi dan penciptaan akan menghiasi hari-hari, struktur masyarakat akan terlepas tak berkait lagi, terombak sampai tak dikenali lagi. Maka akan terlihat bahwa pendidikan sama sekali tak hubung-menghubung dengan status sosial. Saya sama sekali tak sedang mengusung gagasan baru, inilah gagasan usang yang saya angkat kembali dari tumpukan-tumpukan frustasi anak-anak sekolahan, sebagai bentuk protes. Kami tak butuh tanggapan apa-apa, saya hanya sedang menyemangati diri saya sendiri. Tanpa larangan itu pun kami tak akan mengambil apa-apa dari kue masa depan kalian karena kami menginginkan kue kami sendiri, kue yang berasal dari tangan kami sendiri. Mungkin kadang-kadang tak terasa enak tetapi kami akan menikmatinya dengan sangat puas.

Diantara kami ada yang akan bunuh diri, membakar sekolah, mendendam para guru dan dosen, menjadi penjahat di jalan, mengganggu nyenyak tidur kalian, mengendap-ngendap di ruang kerja kalian, menaklukkan anak-anak gadis kalian. Bila tidak maka kamilah yang akan menentukan berapa besar gaji kalian, berapa besar bonus kalian, berapa besar uang belanja isteri dan pacar kalian, proyek-proyek yang kalian tangani, buku-buku yang harus kalian benci dan yang harus kalian baca, dan banyak lagi yang lain. Nantikanlah beberapa masa lagi, sebab itulah cambuk bagi kami, yang akan menjadi pengungkit bagi keputusasaan kami di masa lalu. Maka kita pun telah terhubung dalam sebuah lingkaran setan yang sama, kami adalah bayang-bayang dalam mimpi-mimpi kalian.

Pendidikan kalian melahirkan apa yang kalian sukai dan menggilas siapapun yang tak pantas menerima kesukaan kalian. Jangan menganggap hal ini terlalu mengada-ada; teliti dan amatilah lebih dulu bersama-sama buktinya lalu sesalilah. Pendidikan bagi kalian adalah soal layak atau tidak layaknya kami memperolehnya, tetapi bagi kami adalah bahwa setiap manusia pantas dan berhak. Segala yang kami miliki untuk pendidikan telah kami berikan dan apa yang kembali kepada kami ? Robot-robot bernyawa yang tidak berguna, yang di kepalanya hanya ada uang dan hidup nikmat, tetapi juga frustasi dan terasing. Bukankah kalian telah mengambil hidup anak-anak kami dan menggantikannya dengan ambisi kalian? Dan kalian masih ingin mengutip penghormatan? Bila pada masa kolonial dan sesudahnya (dimana orang-orang yang memegang peranan sesudahnya adalah produk kolonial), kami frustasi oleh sistem ganjaran, sekarangpun masih sama seolah waktu bergerak mundur dengan tata nilai yang samar-samar tak berbeda. Kalau pada masa itu ganjaran adalah cambuk rotan, tinju dan rasa rendah diri sebagai pribumi, maka hari ini ganjarannya adalah nilai yang sentimentil, gilasan sistem penilaian ujian, dan rasa tak berguna sebagai manusia. Maka bila pada masa revolusi amarah dan frustasi kami tersalur di medan perang, hari ini tersalur lewat tawuran di jalanan, narkoba sampai todongan terhadap rasa berkuasa kalian.

Biarkan pendidikan menemui titik baliknya, maka kita boleh mengharapkan era kejayaan ilmu pengetahuan yang baru. bukankah sudah terlalu lama kita hanya mendalami pengetahuan zaman baheula yang mulai mengering? Lambat laun semua itu mulai menjadi mandul diterpa masalah-masalah muthakir. Tetapi rasa-rasanya itu akan sangat sulit sebab telah dipastikan siapa yang boleh membuat temuan baru dan siapa yang hanya berhak menggunakan; juga siapa yang tak punya hak apa-apa, tapi berkewajiban menyukseskan dengan ikhlas ataupun terpaksa bila dibutuhkan.”


Kita berada di suatu masa di mana pendidikan menjadi tiran (oleh dominasi satu kekuatan tertentu); yang tidak berpengetahuan akan dilindas oleh hidupnya sendiri, dunia akan berbalik menaklukkannya. Di alam sadar kita -yakni masyarakat- siapa yang tak butuh pendidikan? Yang tidak berarti telah bersiap untuk tersingkir (baca: mati) secara perlahan-lahan dari kehidupannya di masyarakat. Mengingat nilai sosialnya di masyarakat, setiap keluarga berusaha mengerahkan seluruh sumber dayanya untuk mendapatkan itu dan bahkan membuat eksistensi keluarganya menjadi terancam. Belum lagi dengan tidak adanya jaminan bahwa setelah semua yang dikorbankannya ia akan mendapatkan harapannya meskipun itu hanyalah selembar ijazah. Maka masyarakat dan ilmu pengetahuan pun menjadi pembunuh berdarah dingin (lihat fakta di sekitar kita) dan telah menjadi akar dari beberapa kejahatan.

Demikian kisahnya, pada detik inipun dia masih terus bergelut dengan penyakitnya. Entah sampai kapan...

(mungkin bersambung) - dream blog -

Rabu, 16 Mei 2007

Sindrom Menara Babel (Babylon Tower Syndrome)

Di dunia kita, dunia yang semakin berbudaya dan beradab, pesan-pesan yang dinyatakan baik secara verbal maupun non verbal selayaknya tetap menghargai kaidah-kaidah adab dan budaya. Tapi dalam situasi tertentu, ketika makna yang seharusnya ditangkap menjadi bias oleh sublimnya adab dan budaya, maka sudah menjadi tugas kita untuk menempatkannya kembali pada proporsinya yang semula dengan bahasa yang dapat dipahaminya, dengan kasar bila perlu. Peradaban dan kebudayaan sublim yang saya maksudkan adalah kebudayaan dan peradaban yang mengawang-awang, jejak-jejaknya jauh meninggalkan kemanusiaan itu sendiri. keadaannya seperti sedang 'Trance' dalam kajian metafisik atau sedang 'On' dalam bahasa para junkyst. Yaitu peradaban dan kebudayaan yang tidak lagi bisa mengidentifikasi anak-anak zamannya dan anak-anak zaman tak lagi saling memahami.

Saya menyebut hal ini sebagai Sindrom Menara Babel (babylon tower syndrom). Sebagaimana sebuah sindrom, ia selamanya adalah kecenderungan, sejenis penyakit. Kondisi ini menggambarkan peradaban dan kebudayaan yang sedang sakit dan manusia yang mereproduksinya pun sedang sakit. Keadaaan ini bukannya tanpa sejarah, dalam kitab-kitab agama Samawi dapat kita temukan kondisi yang agak menyerupai dan dari sanalah sebutan itu saya ambil.

Diceritakan bahwa beberapa lama setelah air bah Nabi Nuh, muka bumi telah seperti sedia kala, manusia dan peradabannya berkembang biak dengan pesat juga dalam dosa. Mereka sudah melupakan penciptanya, melupakan fitrahnya sebagai manusia. Manusia masih bersatu di suatu tempat, berkumpul dengan satu bahasa dan hidup mereka dipenuhi kesenangan duniawi. Hingga suatu ketika, mereka teringat pada air bah yang pernah memusnahkan isi bumi. Lalu berkatalah mereka satu kepada yang lain, “Marilah kita mendirikan sebuah menara yang tingginya mencapai langit agar bila air bah itu datang, kita dapat menyelamatkan diri”.

Maka berkumpullah mereka, memulai proyek besar itu. Bangunan raksasa itu sudah berdiri dengan megah dan kokoh, kian hari kian bertambah. Sang Pencipta murka atas tingkah laku manusia itu dan teringat pada sumpahnya bahwa ia tak akan pernah lagi memusnahkan isi bumi sebelum tiba waktunya. Maka dikacaukannya saja bahasa dari manusia-manusia itu sehingga semua manusia itu tidak lagi bisa saling mengerti, impian mereka pun gagal, proyek itu gagal dan manusia sejak saat itu tercerai berai dan terserak ke seluruh bumi, inilah kisah menara babel itu.

Manusia senantiasa diliputi kecemasan dan rasa takut terhadap akhir kenikmatan, rasa sakit dan kematian. Karena itulah mereka menciptakan utopia; menara yang sampai ke surga. Ia menentang kodratnya sebagai manusia, fitrahnya. Mereka akan melakukan apapun untuk mewujudkannya, tetapi sayang mereka tak lagi satu pengertian; pahaman kemanusiaan. Inilah penyakit kemanusiaan, inilah sindrom menara babel.

Fenomena menara babel memiliki kesamaan dengan masyarakat kita dewasa ini, yakni masyarakat yang melupakan visi kemanusiaannya; bahwa kesatuan dan kesepahamannyalah tentang kemanusiaan mereka yang memungkinkan mereka membangun peradaban dan kebudayaan yang tinggi dan maju. Manusia dari satu budaya, satu peradaban yang meninggalkan kemanusiaannya tak bisa lagi saling memahami mengakibatkan mengakarnya sikap permisif terhadap semua bentuk kejahatan disekitarnya; permusuhan bermotif penguasaan atas kehidupan orang lain. Syndrom itu menggerogoti manusia dan manusiapun menjadi bebal, berhati degil, berjiwa kerdil dan meludahi hakikat kemanusiaannya sendiri.

Tetapi semua penyakit bukannya tanpa obat, kita sedang berusaha mencari obat sekalian dengan dosisnya yang paling tepat. Menurut saya obat atas syndrom ini adalah kesadaran, Conscentia. pertama-tama adalah bahwa kita harus sadar agar mengetahui bahwa kita sedang sakit, kemudian kesadaran ini akan membawa kita kepada pengetahuan tentang penyakit ini. Satu pengetahuan akan menarik pengetahuan yang lain sehingga apa yang kita ketahui tentang penyakit inilah yang akan menjadi obat; obat bagi peradaban dan kebudayaan kita, kemanusiaan kita. Tentu semua ini tak mudah, syndrom menara babel sudah mengakar dalam hidup kita, dalam sistem-sistem yang melingkupi kita termasuk Sistem Pendidikan kita dimana akses terhadap ilmu pengetahuan berdiam diri. Butuh perjuangan dan kerja keras untuk melepaskan diri darinya, juga untuk membersihkan sistem pendidikan kita dari infeksinya; maka dengarkanlah hardikan yang lantang itu, terimalah cambukan pengetahuan atas ketakperdulianmu, resapilah kepedihan dan rasa sakit, istirahatkan dirimu sejenak dari ambisi menara penyelamatmu dan merenunglah!!!

(Bersambung, mungkin) - dream blog -

Sabtu, 05 Mei 2007

Kirimi Aku Kamboja Saja

Pernah di suatu hari, aku mengunjungi Rumah Sakit bersama sahabatku yang seorang dokter muda.

Seharian aku mengamati seluruh aktivitas yang ada di sana dan kudapati wajah-wajah yang ketakutan akan kematian. Di antara mereka ada yang mendadak panik, ada juga yang pasrah. Tetapi ada seseorang yang menarik perhatianku. Setelah melewati antrian dan mendapatkan pelayanan, Ia tak langsung pulang. Satu jam, dua jam, tiga jam sampai ketika Rumah Sakit mulai lengang Ia belum beranjak juga. Aku mendekat dan berbincang-bincang dengannya. Mulanya hanya basa-basi, tetapi sekarang jadi serius. Ia divonis kanker ganas, tapi ia mengeluh tak punya biaya. Karena itu, Ia akan memohon keringanan. Ia percaya bahwa dokter masih bisa menyelamatkan nyawanya.

Ia bercerita kalau ia berasal dari kampung yang jauh, datang ke kota ini untuk kuliah. Tetapi kanker telah menggerogoti hidupnya. Tak beberapa lama kemudian ia mendapatkan giliran tetapi sekali lagi ia harus kecewa. Ia pulang dengan wajah kuyu, langkahnya sempoyongan. Aku mengikutinya, kami bercakap-cakap. Aku salut padanya, meski kesakitan ia tetap berusaha. Aku berjanji padanya untuk membantu mencarikan jalan keluar.

Sehabis makan malam, aku menemui sahabatku dan membicarakan hal itu. Tetapi sahabatku memberi jawaban dengan menggelengkan kepalanya. Ia tak bilang kalau sudah tak bisa ditolong, ia hanya mengatakan kalau biayanya tak kurang dua puluh juta rupiah. Aku merasakan keputusasaan yang dirasakannya, merasa hal ini di luar kemampuanku. Aku punya tabungan, tetapi hanya 1/18 dari biayanya. Aku merengek kepada sahabatku, tetapi ia malah menghardikku, katanya: “Ada banyak orang yang seperti itu, apa kau mau menolong semuanya? Jangan libatkan dirimu, kau bisa gila!”

Aku menyerah, beberapa hari aku tak menemuinya. Aku terus menerus bergumul dengan pikiranku sendiri, lalu terlonjak oleh sebuah ide. Aku bermaksud hendak membawanya ke rumah sakit dengan membayar uang mukanya saja dulu. Yang lain urusan belakang. Pikirku, Aku masih muda dan bebas, karenanya dapat kutanggungkan resiko apapun! Begitu semangat yang membakar hatiku itu. Aku segera berangkat, tetapi setiba di tempat kostnya kulihat pintunya terkunci. Ia sudah tidak ada. Dari tetangga kamarnya kuketahui kalau Ia sudah meninggal dunia kemarin. Aku kaget dan linglung beberapa saat. Ia menitipkan selembar surat untukku, intinya ia senang karena aku peduli. Ia selalu menantikan aku bahkan sampai saat meninggalnya yang hanya dikawani sepi...

Aku masuk ke kamarnya, menangisinya meskipun aku tak terlalu mengenalnya. Ada sesuatu yang menghubungkan kami, penderitaan itu dan kemanusiaan ini. Di sebuah diary ia menuliskan puisinya yang terakhir:

Dok,...
Rumahmu terlalu putih,tak mampu aku menatap
Lihatlah, mataku silau bahkan telah buta
Hingga tak kutemukan jalan, agar boleh sekedar menyapamu
Kakiku terasa berat lagi lamban
Tanganku kurus, terlalu tipis
Tak mampu menjabat tanganmu, ganti terima kasih
Aku pulang saja ya?
Jangan lupa jenguk aku
Tak perlu bawa jarum suntik
Aku lebih suka bunga kamboja

Senin, 30 April 2007

Air

Kemarin, kudengar hiruk pikuk
Berarak tak sabar melintasi rumahku
Tahan ! Satu suara berdesau gusar
Pak tani tak menginginkan mereka

Hari ini, mereka berderak ke rumahmu
Melintasi pipa-pipa tak berperasaan
Lalu keluar lagi dengan wajah kuyu membiru
Sebab terkecup bibir mercurymu

Lekas ! Lekas ! Lekas !
Sekelompok beriak parau
Satu menjerit, dua menggelepar
Yang lain mati dalam teriak mendesis
Sebab tanah yang dipijak hendak mendidih

Kini mereka mereka menjadi monster
Hantu yang bergentayangan di dekat rumahku dan rumahmu
datang dalam rupa-rupa elok
Sebentar lagi mahal, membuat kita tercekik

Belumkah kau menyaksikan
Airku, airmu, air kita saling kenal
Lihatlah, mereka saling berpelukan
Beramah tamah di lautan sejak dari gunung-gemunung
Berkumpul dalam kumpulan arus yang besar
Lalu berderak ke segala arah

Maka marilah bersulang kawan
Karena jus lumpur spesial jadilah hidangan
Bahan-bahannya adalah seluruh isi rumah dan binatang ternak
Bahkan anak-anak kita
Juga diriku, dirimu
Minumlah, sedotlah lagi biar lenyaplah dahaga
Maaf, agak amis dan nyinyir
- dream blog -

Sabtu, 21 April 2007

Selamat Tinggal Ego Masa Muda!

Saya telah memecat Tuan Kekalahan dari dalam pikiran saya. Saya tidak membutuhkannya. Dia tidak membantuku sama sekali ke tempat yang akan kutuju. Maka kupecat ia. Sekarang saya akan menggunakan Tuan Kemenangan di dalam pikiran saya. Saya limpahkan semua divisi pikiran kepada Tuan Kemenangan. Dia bisa selalu memperlihatkan bagaimana saya bisa berhasil. Saya akan mempercayakan dan menggunakannya dalam setiap kesempatan.

Hari ini hari baik! Nah, Tuan Kemenangan, aku isyaratkan Anda untuk maju!

"Hari ini baik sekali, Tuan Imhaya. Cuaca cerah. Hidup ini menyenangkan sekali. Betapa segarnya hujan ini. Betapa hangatnya sinar matahari. Ini membuat kita senang menjalani hidup. Hari ini Anda dapat mengejar sebagian aktivitas Anda. Terus maju, Tuan! Hidup ini indah!"

*****

Aku berjanji kepada diri ini untuk selalu berubah, kepada jiwa raga yang lebih baik dan terbaik. Menyongsong masa depanku yang cerah, demi keluargaku, dan anak-anakku kelak. Untuk mereka yang kucintai, agar dapat hidup lebih layak. - dream blog -

Rabu, 18 April 2007

Sarimin Minta Sekolah

(2nd Cerpen)
Bungkam, bukanlah diam. Bungkam, ingin meledak. Bahkan sebuah rumah yang kita sepikan di pojok itu menyimpan lidah api. Akan membakar rerumputan kering di suatu saat, tak terkira.
---
“Sekolah, hanya bikin orang malas dan rakus, jahat, juga suka menipu. Lihat saja, anak-anak muda di dekat pasar itu! kerjanya hanya menggoda perempuan, kalau tidak mabuk-mabukan lalu memalak kuda. Ingat kau, sawah kita yang sekarang berdiri kantor desa? Dulunya, orang-orang sekolahan itu bilang untuk kesejahteraan kampung kita. Tapi apa? Tempat untuk mengumpulkan upeti dari rumah kita sendiri. ”katanya dengan berang.

“Apa itu berarti sekolah yang membuat mereka seperti itu dan karenanya anak kita tak boleh sekolah?“

“Jangan bilang mereka itu tak sekolah sepertiku, aku kenal mereka seperti semua orang-orang di kampung ini juga mengenali kebodohanku”

“Aku pernah sekolah di SD, tapi aku tak seperti mereka?”

“Kubilang tidak, si Olan tetap tak boleh sekolah. Mereka bukan saja sudah sekolah di SD, bahkan lebih tinggi dan paling tinggi. Kau tidak seperti mereka karena kau isteriku.” Katanya gusar pada isterinya.

“Apa kau tidak kasihan pada anak kita?”

“Belikan dia seragam yang paling bagus, tapi bukan untuk sekolah.” Katanya lebih lunak.

“Lalu untuk apa?” isterinya bingung.

“Untuk menggembalakan kerbau, dia akan suka. Oh ya, tembakauku hampir habis, jangan lupa.” ujarnya menutup pembicaraan.

Ia berangkat dengan memanggul kapak di punggung, nampaknya hendak ke hutan. Dari kejauhan, terlihat olehnya si Olan anaknya yang baru berumur 6 tahun sedang becengkrama bersama beberapa kawannya di atas punggung kerbau. Hatinya kembali galau oleh percakapannya dengan isterinya, percakapan yang telah berulang sampai puluhan kali. Wajah orang-orang kampungnya melintas di kepalanya, membuat bulu kuduknya bergidik dongkol dalam kemuakan. Ia tak habis pikir. Dahulu, ketika baru beberapa orang yang bersekolah, tak ada kebencian sedikitpun terhadap mereka. Kini, saat hampir dirinya saja yang tak pernah sekolah kecuali anak-anak kecil itu, semua orang menganggapnya dungu dan bodoh. “Apa untungnya bisa baca dan tulis? Apakah bisa menghasilkan makan untuk anak dan isteri? Padahal aku mampu lakukan semua hal yang bisa mereka lakukan kecuali membaca dan menulis. Dan lagi, belum tentu mereka bisa lakukan apa yang bisa aku lakukan seahli aku.” gumamnya.

Bias-bias matahari pagi mulai menembus lubang-lubang langit di pepohonan. Badannya basah oleh peluh sedangkan embun pagi belum lagi menguap dari urat-urat daun yang berserakan di tanah. Ranting-ranting kayu dikumpulkannya, beberapa pohon kayu kering tumbang oleh kapak lalu dibelahnya. Binatang-binatang hutan kaget dan ketakutan akibat kegaduhan yang dibuatnya pada pagi itu, beberapa ekor burung berkelebat panik dari sebuah pohon dan dua ekor burung hantu menjerit-jerit marah seolah merasa terancam tapi tak diacuhkannya. Kayu-kayu yang dikumpulkannya sudah menumpuk setinggi lutut, ia mulai lelah. Tapi ia tidak berhenti dari pekerjaannya. Kini ia malah mencari rotan kecil buat pengikat. Jerit burung hantu terus mengganggu telinganya, tapi ia hanya bisa mengumpat lalu kembali untuk mengikat kayu-kayunya.

Tumpukan kayu itu dibaginya menjadi dua tempat, ranting pemikul yang cukup kuat sepanjang kedua depa tangannya diletakkannya sebagai antara lalu diikatnya kedua tumpukan itu pada masing-masing ujung pemikulnya. Ia sudah siap berangkat pulang dengan pikulan di punggung, tapi urung oleh suara burung.

“Mungkinkah anak-anak burung itu menjerit-jerit karena terjatuh ke tanah?“ Pikirnya.
“Ah… si Olan mungkin suka punya burung hantu.”

Ia lalu mencari suara itu, berputar-putar sambil menyibak semak-belukar. Tak beberapa lama yang ditemukannya bukannya anak burung hantu dengan sayap dan bulu-bulu coklatnya melainkan sesuatu yang hitam seperti bayi.

“Ai, orok setan?” Ia terpekik bergetar, lalu diperhatikannya lagi lebih dekat. Rupanya seekor bayi lutung yang ditinggal kawanannya. Dengan ragu-ragu ia meraihnya, ada kengerian kalau-kalau makhluk itu tiba-tiba saja menggigit tangannya. Tapi tidak, bayi lutung itu seperti acuh saja.

Pikulan kayu dihempaskannya didekat tangga dapur lalu bergegas menuju beranda rumah, isterinya menyambutnya dengan tatapan bertanya-tanya. Ia membuka sarung yang dikalungkannya di lehernya.

“Bayi monyet?” isterinya bertanya.

Ia hanya mengangguk kebingungan tanpa suara. Isterinya cekikikan melihat tingkah suaminya dan lalu tersedak karena tawa yang ditahannya di leher, sebab wajah suaminya terlihat gusar merasa ditertawakan.

“Si Olan pasti senang, tapi bagaimana kita memeliharanya?” katanya mengembalikan suasana. Suaminya menggeleng lalu berkata sambil berlalu kalau ia hendak memanggil si Olan.

Tak beberapa lama kemudian si Olan muncul bersama kawan-kawannya. Mula-mula tak ada yang berani terlalu dekat, tapi lama-lama anak-anak itu bergantiaan mengelusnya.

“Ia minta susu!” kata seorang anak.
“Bu, ia minta susu!” seru Olan pada ibunya.
“Hah?” ayahnya kaget.
“Kasih saja susu kerbau,” kata ibunya dari dapur.
Ayahnya kemudian bergegas menuju kawanan kerbau, hendak memerah susunya.
“Siapa namanya bu?” Olan bertanya.
“Panggil saja Sarimin.” Kata ibunya yang teringat pementasan topeng monyet di pasar.

Hari itu dunia kanak-kanak di kampung si Olan geger terbahak-bahak. “Si Olan punya adik berwajah lutung, namanya Sarimin.” Begitu bunyi kabar yang menggemparkan itu. Tetangga-tetangganya banyak yang datang, ada yang tersenyum dikulum, ada pula yang mengumpat dan mencibir. Ayah si Olan seharian seperti orang linglung, ia kembali menjadi pusat perhatian dan bahan olok-olok orang kampung. “Keluarga itu tak bisa membedakan manusia yang hidup di rumah dan lutung yang hidup di pepohonan, monyet dikasih susu kerbau, monyet pakai baju.” Begitu kata celaan yang keluar dari mulut orang-orang kampung sambil terbahak-bahak.
---
Beberapa bulan telah lewat, keluarga itu mulai terbiasa dengan keberadaan monyet Sarimin. Tapi ada yang berubah, Ayah si Olan kini lebih sering diam dan agak kurus. Isterinya terus-menerus dihantui rasa cemas melihat perubahan suaminya, karena itu ikut kurus. Sarimin si monyet kini lebih besar serta kuat dan lebih sering bergantung di ketiak Olan, sedangkan anak itu juga agak kurus karena perhatiannya kini terbagi kepada kerbau dan monyetnya. Kian hari keluarga itu makin terkucil saja dari kehidupan kampungnya. Selain karena tidak tahan oleh gunjingan, juga karena semakin menarik diri dari pergaulan. Hanya Ibu si olan saja yang tetap ke pasar untuk menjual dan membeli keperluan yang benar-benar dibutuhkan, kadang disertai bonus umpatan gratis.

“Si Olan dengan kerbau-kerbaunya sudah kelas berapa?” atau “Si Olan dapat nilai berapa hari ini dari gurunya si kerbau?”. Ia hanya menjawab bahwa jumlah kerbau si Olan kini enam ekor ditambah empat anaknya yang masih menyusu. Begitulah, keluarga itu sudah menjadi bahan olok-olok yang nikmat. Dijamin, bahkan oleh tukang cerita yang terburuk sekalipun akan sanggup membuat perut terkocok sampai keram sehingga saraf-saraf yang tegang setelah seharian berburu kesempatan dalam persaingan bagaimanapun ketatnya akan kembali santai.
---
Pada suatu hari Olan mulai jenuh dengan seragamnya yang mulai lusuh, karena itu ia meminta dibelikan yang baru. Maka Ibunya pun membelikannya pada keesokan harinya. Seragamnya yang lama kini dikenakan oleh Sarimin si monyet. Tetapi hanya beberapa lama kemudian Olan mulai merajuk lagi minta disekolahkan bersama kawan-kawannya, si Sarimin ikut-ikutan. Ibunya hanya mengatakan kepadanya agar bersabar, bahwa ia akan bersekolah juga seperti yang lain bila sudah waktunya. Olan malah merengek, ia merajuk sampai ayahnya tiba. Mata Ayahnya merah oleh amarah melihat Olan dan si Sarimin yang berseragam itu minta sekolah dan ia lebih marah lagi karena mendengar langsung permintaan itu dari anaknya sendiri. Sekelebat ia meraih rotan lalu mencambuki dan mencincang-cincang tubuh anaknya itu bagai kesetanan sambil menumpahkan kekesalan yang sekian lama tertumpuk di hatinya:

“Bahkan kau anakku sendiri, hendak menjadi bahagian dari mereka? Tidakkah kau lihat mata mereka menatap kita seperti kotoran, Hah? Kau anakku hendak minta sekolah lalu setelah berpendidikan maka kembali mengumpat kami yang tak tahu apa yang kau tahu? Kalianlah yang mengadakan kedunguan lalu meletakkannya di wajahku sambil terbahak-bahak dengan telunjuk di hidungku! Aku tidak dungu, Ibumu tidak bodoh, keluargaku bukan keluarga binatang!”

Disepaknya jauh-jauh Sarimin si monyet yang terjatuh dari ketiak Olan, binatang itu menjerit melengking karena kesakitan. Olan berteriak ampun. Ia tenggelam dalam lautan pedih dan ketakutan melihat keberingasan ayahnya. Tubuhnya lunglai tak bertenaga, terhempas telentang ke lantai. Seragamnya sobek-sobek terkena sabetan rotan. Ibunya hanya bisa histeris sedari tadi, tak mampu melindungi anaknya. Ayahnya kemudian menyudut di pojok bertelekung lutut, dan menangis. Amarah yang sekian lama dipendamnya, akhirnya tumpah pada anak yang ingin dijaganya dari yang menurutnya kejahatan sekolah. Beberapa tetangga yang mendengar keributan itu berseliweran di jalan, mengintai. Mereka mulai bergunjing lagi bahwa keluarga dungu itu mulai sakit gila.

Orang-orang di rumah itu diliputi nelangsa, sendiri merasai penderitaannya.

Keadaan sunyi senyap, sudah malam. Lengang. Hanya sesekali terdengar suara sesengukan. Sariminlah yang pertama kali membuat gerakan dengan mengorek-ngorek tubuh Olan yang akhirnya siuman. Ia tersadar tengah terbaring di pangkuan ibunya. Ayahnya di sudut ruangan, mulai menyadari dirinya.

“Kerbauku belum kuantar pulang” kata Olan sambil merintih. Ayahnya yang mendengar itu lalu menyergapnya tiba-tiba dengan pelukan, tangisnya pecah lagi, ibunya juga.

“Maafkan ayah nak, ayah tak bermaksud menyakitimu”

“Tapi ayah mencambukiku sangat keras” Olan protes.

Ayahnya tak tahu harus mengatakan apa, ia memang tak bermaksud dan tidak pernah mau menyakiti anak yang dicintainya, tapi kenyataannya ia menyakitinya.

“Ayahmu tidak sadar” kata ibunya, ayahnya mengangguk membenarkan tetapi anak-anak tak paham apa itu sadar dan tidak sadar. Ia terdiam sementara nafasnya masih tersengal sesengukan. Keesokan harinya matahari datang seolah tak terjadi apa-apa. Semua terlihat biasa saja kecuali luka di sekujur tubuh si Olan.
---
Ibunya sudah pulang dari pasar, mereka baru saja usai makan siang ketika disodorkannya sebuah seragam baru kepada anak semata wayangnya itu, tetapi ditolaknya.

“Aku tak mau sekolah lagi, seragamnya kasih ke Sarimin saja”

“Tidak apa-apa kalau tidak mau sekolah, belajar tidak harus sekolah. Ibu bisa mengajarimu apa saja, bapakmu juga.”

“Bapak dan ibu jadi guruku?” katanya girang.

Ibunya mengangguk.

“Kalau begitu, aku dengan Sarimin jadi muridnya”

Olan mulai riang lagi. Diceritakannya pada kawan-kawanya kalu ia pun akan segera sekolah, ibu dan bapaknya yang jadi gurunya. Kawan-kawannya yang masih berseragam sebab baru saja pulang dari sekolah terbahak-bahak mendengar itu.

“Ibumu jadi guru apa, bapakmu bisa mengajar apa?”

“Ibuku pandai membaca, menulis dan bernyanyi seperti guru yang kalian ceritakan, bapakku bisa mengajariku olahraga berenang, berburu, memanjat, menombak, lari. Semua itu olahraga juga, bukan?”

“Tapi di sekolah kami bermain bola, kami punya seragam olahraga.” Kata seorang anak.

“Aku dan Sarimin bakal dibelikan, juga bola. Apa di sekolah kalian juga belajar berenang di sungai dan berburu di hutan?”
Anak-anak itu terdiam menggeleng.

“Kalau begitu, sekolahku nantinya lebih baik dari sekolah kalian. Kalian musti minta agar diajari berenang dan berburu.”
Anak-anak itu mengangguk setuju.

Sejak hari itu kawan-kawan Olan lebih banyak mendengarkan Olan dan tidak lagi menjadikannya bahan olok-olok. Kadang ketika sedang bercengkrama dengan keluarga mereka masing-masing tak jarang mereka melontarkan pujian pada Olan yang disambut protes dari orang tua mereka.

Kini Olan benar-benar sudah berhenti menginginkan untuk sekolah bersama kawan-kawannya. Ia benar-benar menikmati kesibukan barunya itu. Pelajaran yang paling disukainya adalah berenang dan berburu. Ia kembali ke keriangan-keriangan lamanya yang tanpa seragam. Hanya si Sarimin saja yang seolah sudah kepincut menjadi anak sekolahan, sebab seragam yang dikenakannya tak mau dilepaskannya sama sekali meskipun telah kumal dan kotor. Bila sesekali saat bermain Olan berusaha mengambil seragam itu, Sarimin akan marah.

Seperti itulah, kemana pun mereka pergi si Sarimin tak pernah alpa dengan seragamnya. Si Sarimin pulalah yang seolah-olah sedang mengusik kebanggaan orang-orang kampung pada sekolah. Dalam kepala mereka timbul pula kejengkelan pada keluarga Olan yang dungu itu. Sebab menurut mereka, Ayah si olan sengaja mengolok-olok mereka dengan monyet berseragamnya. Beberapa kali orang-orang kampung mencoba melucuti pakaian si Sarimin tapi monyet itu melakukan perlawanan sehingga selalu saja bisa menyelamatkan diri dan makin jengkellah mereka.

Ayah si olan, sekarang menjadi lebih menahan diri, hal-hal yang tak disukainya ditelannya saja. Tak pernah lagi ditanggapinya cacian orang-orang kampungnya, juga tentang protes mereka atas seragam si sarimin. Ia menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan-kegiatannya. Ia larut dalam semua kegiatan-kegiatan itu sehingga terlihat jelas keseriusannya dan melimpahlah hasil yang didapatkannya lebih dari yang diharapkannya.

Ia memiliki semangat, yaitu semangat untuk menunjukkan kepada anak dan isterinya bahwa menjadi orang ‘dungu dan bodoh’ bukanlah sesuatu yang buruk. Lebih dari itu sedari kecil di dadanya sudah terpatri semangat kegeraman terhadap pandangan orang-orang kampungnya yang picik dan kerdil.
---
“Sedikit-sedikit keadaan ini tak tertahan lagi olehku.” Katanya kepada isterinya pada suatu ketika.
“Aku ingin menyerah, aku tahu selama ini kalian menanggungkan penderitaan yang dialamatkan kepadaku.”
Isterinya hanya terdiam.

“Lumbung kita dipenuhi makanan, kerbau-kerbau Olan selalu bertambah sepanjang tahun. Tak akan pernah habis lalu membuat kita mati dalam kekurangan kecuali kita tak mampu menjaganya. Tetapi apa arti semua itu bila hati ini tak tentram?”

Isterinya tetap diam, ia juga diam. Kini hanya suara Olan dan si Sarimin saja yang memecah keheningan rumah itu, mereka bergulingan sambil cekikikan geli tertusuk rumput halaman.

“Lihatlah keceriaan anak itu, seperti tak menanggungkan apa-apa. Tetapi aku tahu ia mengetahui semuanya. Ia tahu kenapa kawannya yang paling akrab hanyalah si Sarimin. Andai monyet itu tak ada, aku tak akan sanggup melihat kemurungan di wajahnya.”

“Ia sudah tak menginginkan sekolah bersama kawan-kawannya lagi.” Kata isterinya.

“Ia mencintaiku. Aku pernah seperti dirinya, makanya aku tahu. Aku lebih memilih ayahku ketimbang keinginan mereka atasku untuk menjadi seperti mereka meskipun akhirnya terenggut dariku.”

“Apa rencanamu?”

“Membuat orang-orang kampung berhenti membenci kita.”

“Si Olan boleh sekolah?“ Tanya isterinya.
Suaminya hanya menggeleng.

“Sepanjang hidupku telah kuhabiskan membuat mereka tidak mengolok-olok kita dengan memperlihatkan bahwa kita sungguh tidak bodoh dan dungu melalui apa yang kita punya. Tapi keadaannya tetap sama. Meskipun begitu, Olan tetap tidak boleh sekolah selama aku masih sanggup membuat kita mampu menghindarkan diri dari kehidupan mereka.”
---
Beberapa hari kemudian, di suatu pagi ketika ia hendak berangkat ke hutan mencari kayu, seseorang berseragam muncul dan memberitahukan agar semua orang kampung berkumpul di balai desa. Awalnya ia urung hendak ikut. Tetapi isterinya membujuknya, maka ia pun berangkatlah. Di sana orang-orang kampung telah hadir di depan Pak Camat yang baru saja mulai berpidato.

“Di kampung ini ada yang suka berburu?” Tanya Pak Camat dalam pidatonya.

“Ada Pak!!!” koor penduduk kampung sambil menunjuk Ayah si Olan dengan mata. Ayah si olan mukanya merah padam.

“Kalau Penebang kayu?”

“Ada Pak!!! Ini orangnya, sedang bawa kampak.” Teriak salah seorang penduduk lagi. Wajah Ayah si olan semakin gelap saja.

“Akhir-akhir ini, daerah kita banyak dilanda bencana. Kalau bukan banjir, kekeringan. Betul tidak?”

“Betuuul!” koor hadirin lagi.

“Itu semua disebabkan oleh rusaknya lingkungan kita, yaitu habisnya pohon-pohon di hutan akibat penebangan liar seperti yang dilakukan oleh bapak ini. Selain kerusakan itu, satwa-satwa liar juga semakin punah oleh banyaknya perburuan liar.” Katanya sambil mengarahkan pandangannya ke arah Ayah si Olan dengan maksud supaya kata-katanya dicamkan. Tetapi, ekspresinya terlalu kelihatan sehingga membuat hadirin mentertawakan Ayah si Olan sebagai tanda setuju akan makna tatapan itu ditambah kejengkelan mereka terhadapnya.

Ayah si olan semakin merah padam, ia marah lalu berdiri, katanya:
“ Kalian orang-orang sekolahan, melihat kebodohan dan kedunguanku, aku mengenali kecerdikan kalian. Kecerdikan yang sama sejak ayahku dan nenek moyangku. Memang, saya selalu ke hutan hendak mengambil kayu bakar untuk dapur isteriku. Memang, saya sesekali berburu ke hutan untuk makanan anak dan isteriku. Kalian menanggungkan semua kerusakan itu atasku dan saya tidak bisa mengelak. Saya mengambil kayu dan berburu binatang, senjataku kapak dan tombak, tetapi kalian menggunakan mesin dan senapan. Saya hanya mampu mengambil sedikit dengan kapak kecilku ini, kalian mengambil semuanya. Saya mendapatkan satu ekor saja sudah bahagia dan merasa beruntung, kalian mendapatkan sepuluh belum juga puas malah merasa sial. Kalian memang hebat dan pintar.” Katanya marah sambil menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan, tetapi para hadirin malah cengengesan meskipun dipaksakan. “Bisa juga dia bicara.” Begitu bisik-bisik mereka.

“Tenang! Tenang!” Pak Camat menenangkan suasana.

“Aku sudah tahu, ada di antara kalian yang tidak akan terima. Tetapi ini bukan tuduhan tak beralasan, banyak atau sedikit yang kalian ambil, tetap kalian adalah perusak. Karena itu kalian harus berhenti.” Katanya tegas.

Ayah si olan sedang berpikir tentang dengan apa isterinya akan memasak makanan bila ia berhenti mengambil kayu, ketika Pak Camat melanjutkan pidatonya lagi.

“Perusakan hanya pekerjaan orang-orang bodoh dan tolol yang tak berpendidikan sehingga tak mampu berpikir bahwa semua itu tidak hanya merusak dirinya saja tetapi semua orang.” Hujat Pak camat lantang.

Kontan tawa pecah di seluruh ruangan itu mendengar kata-kata ‘bodoh dan tolol’ serta ‘tak berpendidikan’ dari Pak camat, keriuhannya menghujam kehormatan Ayah si Olan. Perasaan terhina yang telah dirasakannya sepanjang hidupnya kembali terluka.

“Dia memang tidak pernah sekolah Pak!” seru salah seseorang melampiaskan kekesalannya pada Ayah si Olan, disambut tawa hadirin. Pak camat manggut-manggut dengan senyum dikulum.

Ayah si olan seperti tersengat kemarahannya yang membuncah. Tanpa kesadaran lagi diayunkannya kapaknya ke arah orang itu sambil menghambur ke arahnya, buk!

Orang itu tersungkur berlumuran darah sebab terkena lemparan tepat di kepalanya. Dengan cepat, Ayah si olan meraih kampak itu lagi lalu mengejar Pak camat yang sedang panik dan bingung menyaksikan peristiwa itu.

Bret!

Sabetan kapak yang keras itu menyobek pipi kanan Pak camat hingga tembus ke sebelah kiri. Kapak itu masih hendak berayun ketika dua orang Pengawal camat menangkapnya dari belakang lalu melumpuhkan Ayah si Olan.

Kejadiannya begitu cepat, hadirin yang tadinya tunggang-langgang kini mengerumuni mobil polisi yang hendak mengangkut Ayah si olan itu. Umpatan dan cacian kembali mengiringinya.

---

EPILOG
Sebelas tahun berlalu sejak kejadian di balai desa itu, gerbang sebuah Rumah Tahanan terbuka dan seseorang dengan tubuh ringkih melangkah gontai. Ia berpikir, mungkinkah anak dan isterinya sedang menanti-nantikan kedatangannya? Angin segar dihirupnya nikmat di sepanjang jalan menuju rumahnya, pulang. Sebelas tahun, tak sekalipun terlihat olehnya wajah mereka, juga rumahnya. Diingatnya, sesekali bila kawan seselnya menerima kunjungan keluarga dan orang-orang yang dicintainya, keinginannya untuk bertemu mereka juga muncul dengan sangat kuat. Tapi akhirnya dimakluminya juga keadaannya, sebab ada begitu banyak kemungkinan yang tak dapat dipahaminya dengan pasti.

“Olan!” serunya di tangga rumah yang samar-samar mulai tak dikenalinya lagi. Seorang perempuan, muncul di pintu diikuti oleh seorang pria pula.

“Ah… aku kira rumah ini bukan rumahku lagi!” serunya senang.
Tapi wanita setengah baya itu tiba-tiba pingsan tak sadarkan diri.

Dari pria yang semula dikiranya anaknya itu diketahuinya kalau perempuan yang dahulu isterinya itu bukanlah isterinya kini, sebab ia sudah bersuami lagi. Ia kaget, tetapi berusaha untuk tetap tenang. Jadinya, tak terlihat kegusaran sedikitpun di wajahnya. Ia sekarang lebih matang. Tetapi ketika diketahuinya bahwa si Olan anaknya tinggal di kota karena sedang bersekolah pada sebuah SMU, ia mulai tak tenang. Wajahnya kuyu oleh kesedihan, lalu menitikkan air mata dan menangis. Ia tak habis pikir kalau inilah buah dari segala pengorbanannya.

Seekor monyet mendekat ke arahnya, Sarimin. Bulu-bulunya ada yang sudah berwarna putih. Seragam yang dikenakannya sudah compang-camping, kumal dan bau karena tak terawat. Ia menjadi semakin sedih menyaksikan keadaan itu, semua telah berubah, tetapi dirasanya seperti baru kemarin. Perasaan hampa memenuhi hatinya, lalu berkata:

“Tak ada alasan lagi padaku atas apapun jua.” gumamnya pada dirinya sendiri.

Sementara perempuan yang sudah asing baginya itu belum sadarkan diri, Ia pun meninggalkan rumah itu dengan membawa beberapa perkakas yang masih dikenalinya sebagai miliknya. Ia berjalan hingga kelelahan menuju sebuah rumah sawah yang sudah mulai rapuh dan lapuk, sebuah gubuk yang berdiri di atas sebidang tanah yang dahulunya menjadi sumber nafkah bagi ia dan keluarganya. Dikibaskannya debu-debu ngengat yang mengotori balai-balai, lalu merebahkan badannya di atasnya.

Dilihatnya kelam menari-nari di ujung hari berpesta bersama rona senja, menyambut malam yang gulita. Dan dilihatnya pula, bayang-bayang kenangan berlari mengarak kebusukan di atas kepala yang kuatir, hendak menggerogoti jiwanya. Sebentuk kerinduan akan semua masa-masa itu menyelinap di antara hati, hati yang telah menjadi pengecut, sebab renta oleh waktu. Tapi dengan sisa-sisa ketegaran masa mudanya, dihempaskannya jua godaan-godaan itu lalu bergumam sendiri:

“Oh, dunia! Bagaimana akan kau tebus semua yang telah kau renggut dariku? Karena bahkan seluruh milikmu tak akan kuanggap cukup untuk menyempurnakan hari-hariku yang mulai ditelan getir... agar kembali kegairahanku, demi keceriaanmu?”

Sarimin tua tiba-tiba muncul dan mengambil tempat di sampingnya. Ia menoleh ke arahnya, lalu tersenyum melihat tingkah sarimin yang kegelian oleh kutu-kutu di punggungnya. Angin gunung berhembus ringan membuai penghuni gubuk yang muram itu dalam mimpi-mimpi yang akan menyata keesokan paginya dan keesokan pagi selanjutnya, setidaknya, di gubuk itu tak akan ada yang mati dalam kesepian kecuali salah satunya...

Sabtu, 31 Maret 2007

Hadiahnya Air Putih

Satu-satu embun menepi
Memberi jalan hari yang tergesa
Hendak kemana hai kembara
Bahkan kasutmu belum lagi terikat?

Garang matahari menumis rambut
Peluh meleleh hampir matang
Bebatu blingsatan melabrak jejari
Hidung mendengus, mulut mengumpat

Waktu berjingkrak memeluk malam
Saat pulang, kuda pacu bernyanyi
Cacing menjerit mendera lambung
Saat tiba hadiahnya hanya air putih; asem
- dream blog -

Kamis, 22 Maret 2007

Hakikat Suka & Duka

Sekali waktu kita akan tertawa, di saat yang sama air mata telah menyiapkan dirinya untuk satu bahkan berkali-kali usapan. Di waktu lain, kita akan larut oleh kemalangan, tangan-tangannya yang mengerikan seolah memerangkap kita begitu kuat sehingga kegelian akan sesuatu yang patut atau tidak patut disunggingi senyuman seperti biasanya terasa hampa saja. Di saat-saat seperti itu kerapuhan seolah menunjukkan dirinya. Akan terlihat seperti apa wajah kekuatan dan bagaimana rupa kelemahan.

Sesungguhnya kehidupan adalah parade kerapuhan! Demikian pesan petaka, datang pada kita lewat makna-makna derita yang mengikutinya. Hanya mata yang awas akan dapat menangkapnya.

Lalu tibalah mereka itu, orang-orang yang telah datang dari lembah kemalangan. Ditanggalkannya luka itu, tapi bukan untuk kembali ke rumah duka melainkan tiada kemana-mana. Sebab sejak saat itu, seluruh sudut kini adalah rumah duka baginya dan seluruh makhluk kini adalah kawan berbagi duka. Tetapi tidak juga ia datang membawa dukanya bagi mereka melainkan mengambil dan mengangkat duka-duka mereka ke atas punggungnya sendiri sehingga terlihatlah oleh mereka itu kalau tiada lagi yang pantas mereka sesali dan tangisi.

Aku terlibat dalam sebuah kelompok pecinta alam atau tepatnya penggiat alam bebas. Semula, aku menjalaninya atas dasar minat. Tetapi apa yang kudapatkan lebih dari yang kuharapkan. Di sanalah kesadaranku yang pertama tentang kehidupan kemanusiaan tergelitik. Bahwa kehidupan di alam luas tidak semata-mata ada kegembiraan, tetapi juga ada kepedihan; kepedihan yang lahir dari kegembiraanku.

Beberapa kali kami melakukan ekspedisi ke gunung-gunung dan pedalaman. Beberapa kampung yang pernah kami datangi akhirnya lenyap tersapu longsor dan banjir. Aku berduka dan sangat menyesalinya.

Di beberapa tempat yang dahulunya kuakrabi itu, aku mendapati sisa-sisa kemalangannya di lembar-lembar koran, berita, di TV, manusia. Sementara aku mengabunginya, ada kulihat empati dan simpati yang mengalir. Tetapi semua itu tak mampu menggantikan rasa yang hilang pada diriku, terlebih pada mereka. Dan hati kita memang sudah busuk, dalam keadaan seperti itu kita masih ingin mengambil manfaat untuk kepentingan diri dan kelompok kita sendiri; promosi dan pencitraan, bisnis dan politik. Bahkan dengan kejam kita masih sempat membuat tuduhan dari balik lembaran-lembaran kertas kerja kita, bahwa petaka itu akibat dari kesalahan mereka sendiri.

Aku berada di antara kehidupan kotaku yang modern dan kehidupan mereka yang sederhana dan bersahaja. Untuk kembali ke kehidupan lamaku yang penuh optimisme dan ambisi kubaui kesia-siaannya, tetapi menjalani kehidupan seperti orang-orang desa aku belum mampu.

Sungguh, hidup ini saling jalin menjalin dan tak ada satupun yang benar-benar lepas satu dengan lainnya; bahwa dalam sepotong kebahagiaanmu terkandung duka derita setiap mahluk, di setiap sudut kepedihanmu ada kepuasan dan kegembiraan semesta. Kebahagiaan dan penderitaanmu adalah masa depan kehidupan, nikmat dan pedihmu itulah kebahagiaan, nikmat dan pedihmu itulah penderitaan. Yang perlu kau kuatirkan hanyalah bila kau sudah mati rasa, sebab itulah petakamu yang sesungguhnya, petaka kemanusiaan.

Maka seyogyanya setiap kegembiraanku tidak membawa penderitaan bagi mahluk lain, atau biarkan kesukaranku merekahkan senyum bagi mereka yang menderita dan lagi, biarkan kesenanganku terbagikan menjadi kesenangan setiap makhluk. Bukankah ini semangat yang telah lenyap itu? - dream blog -