Kamis, 22 November 2007

Beton Tambun

Palem, sepupu nyiur
Tambur dikau dihimpit beton
Tak bebas, menyuntai daunmu terkulai

Palem, sepupu nyiur
Ada kulihat sedikit keanggunan
Meski tersamar keangkuhan tembok kota - dream blog -

Sabtu, 17 November 2007

Ngidam (cerpen)

Sisa-sisa keramaian belum terlihat jejaknya berangkat pulang. Kekagetan retina akibat kilat kamera bahkan masih memeluk urat-urat mata. Tetapi angin dingin sudah tak sabar hendak menjadi saksi atas malam kebahagiaan sang pengantin, lewat kisi-kisi bilik yang telah disiapkan untuknya sejak awal mula sebuah rumah. Keinginannya adalah mendahului sang perjaka menghirup aroma selaput keperawanan sang dara, aroma kembang tujuh rupa. Kelenjar kencingnya seolah-olah hendak meledak oleh kedongkolan yang tak sabar melihat wajah-wajah sumringah hadirin. Tidak seperti wajah kedua mempelai yang nampak kuyu akibat kelelahan yang dipanggulnya sejak pagi.

Ketika roda-roda malam mulai merambat miring melampaui siku-siku, akhirnya keramaian itupun lenganglah sudah sebab kedua mempelai telah diarak ke rumah mempelai perempuan. Langsung ke bilik pengantin. “Nah…akhirnya tiba juga yang ku inginkan, gumam sang bayu dalam jerit dedaunan akibat terinjak olehnya di samping bilik.

Kepalanya sudah menyembul dari kisi-kisi bilik itu ketika Bahrul, sang mempelai pria, minta obat gosok ke orang rumah. Bahrul bilang isterinya pegal-pegal, sang mertua hanya manggut-manggut. Sang bayu tak setuju lalu menyenggol daun jendela, menggoyang-goyangkannya bersungut. Tak mau ia bila keindahan malam pertama ini dinodai oleh bau menyengat ramuan minyak yang menusuk hidung itu. Apa daya, ia hanyalah samun yang hendak menyambar dalam pertolongan tenggat.

Tetapi tenggat yang dinantikannya tak kunjung tiba, malah kini justeru si bahrul yang meloroti gaun pengantinnya sendiri lalu lelap dalam usapan isterinya.
“Dasar pembual!” umpatnya dari balik bilik.

Dalam waktunya yang sekarat karena dipatuk kokok ayam, ia meronta-ronta lalu mencubit daun jendela agar berteriak membangunkan si Bahrul. Tetapi usahanya sia-sia sebab yang diterimanya hanyalah dengkur. Ia tumpas dalam penantiannya, terpanggang matahari lapar.


Si Bahrul pulas, seluruh badannya basah berkilap minyak. Sementara isterinya, terbangun paksa oleh genit matahari timur yang merangsang bulir-bulir air dari kelopak-kelopak kainnya.

“Lha, Widya... Bahrul bilang badanmu pegal-pegal minta dipijat, kok gaunnya belum dicopot juga?” suara ibunya menyergap dari meja makan yang terletak di sudut lain ruang keluarga mereka. Ia hanya menjawab dengan menyodorkan botol obat gosok sambil memijat-mijat lehernya sebagai isyarat agar dipijat.
“Memangnya suami kamu tidak bisa?”
“Bisa, tapi mijit yang lain”, katanya genit.
Ibunya tersenyum, “Dasar laki-laki” katanya.
Bahrul pun bangun, kemudian langsung mandi. Wajahnya lebih segar sekarang. Sarapan sudah disediakan isterinya, tetapi ia hanya mengangkat gelas kopi. Setelah berpakaian rapi, Ia pamit hendak keluar. Kepada mertuanya yang mencegatnya dengan tanda tanya, ia cuma bilang mau ke kampus, tanpa mengharapkan reaksi reaksi apa-apa.

Pada sebuah restoran, Ia memarkirkan kendaraanya lalu berhenti dan langsung mencari sebuah meja. Seseorang sudah menunggunya.

“Pagi!” katanya.
“Bagaimana kabar isteri kamu?” sambut orang itu.
“Biasa saja.” Katanya sambil menyulut sebatang sigaret pada mulutnya, menghembuskannya kuat-kuat.
“Apa selentingan yang aku dengar itu benar?”.
“Yang mana?” bahrul balik bertanya seolah bingung.
“Yang...” katanya sambil memperagakan sebuah gerak tangan di depan perutnya, tapi Bahrul langsung menimpali:
“Yang benar itu, aku belum tidur dengannya sejak akad nikah sebab selalu ingat sama kamu” katanya sambil memencet hidung orang itu.
“Ih! Sudah punya isteri masih genit, soal kamu sudah tidur dengannya atau belum bukan urusanku.”
“Kalau begitu urusan kamu apa?”
“Jatahku!” jawabnya bengis.

Sepeninggal Bahrul suaminya, Widya tampak gelisah dan uring-uringan sebab tak ada tempat berkeluh kesah. Semua orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Tak ada seorang pun yang tahu kegundahan hatinya, tak ada seorang pun yang mau memahami apa yang diinginkannya, juga ayah dan ibunya. Kalau tidak tiduran, ia mondar-mandir atau menatap kosong dari balik jendela. Hatinya memendam kuatir dari ketakpastian yang sedang menderanya. Ia pernah berpikir bahwa hanya dengan pernikahanlah maka Bahlul akan dapat ditaklukkannya. Tapi kenyataannya? Saat ini memang sudah menjadi suaminya yang sah namun bukannya semakin perduli dan sayang padanya, malah semakin liar dan acuh.
”Jalan yang kupilih inikah buntu? Ahh.. walau buntu bagaimanapun aku harus bertahan, aku tak akan pernah mau diceraikan. Sudah kepalang basah sejak mula, Bahrul harus tetap bertanggung jawab. Tanggungannya tak akan terlepas oleh apapun.” gumamnya.

Menjelang sore hari Bahrul baru pulang, bersiul-siul ceria dan lebih cerah yang disambut mata merah dan sembab isterinya.

“Dari mana saja kamu seharian?” Isterinya bertanya dengan nada kesal.
Bahrul tak mengacuhkannya dengan gumam sebuah lagu yang sedang hits.
“Kamu pasti dari menemui perempuan itu.” isterinya mulai menangis.
“Memang kenapa kalau aku menemui dia, hah? Kan, sebelum kita nikah aku sudah bilang kalau aku tidak mencintai kamu dan karena itu sebaiknya kita putus saja. Tetapi kamu malah mau mati kalau aku tidak bertanggung jawab dengan segera menikahi kamu.” damprat Bahrul.
”Kalau begitu, sekarang akupun akan mati!” isterinya mengancam.
”hah?”Bahrul kaget mendengar ancaman itu, ancaman yang sama yang membuatnya kehabisan akal dan membuatnya takluk oleh perempuan itu. Beberapa hari selanjutnya Ia tak kemanapun, giliran Bahrul yang uring-uringan dan tampak lesu, kuyu seperti kehabisan tenaga.
Tiga hari kemudian, Widya muntah-muntah. Tetapi Bahrul terlihat santai saja, hanya keluarga isterinya yang terlihat sibuk. Mertuanya bilang mungkin cuma masuk angin saja karena terlalu sering mandi. Tapi sudah seharian mual-mual saja kerjanya dan belum makan apapun. Segala macam obat masuk angin sudah diberikan tapi hasilnya nihil.

Orang rumah yang selalu sibuk dengan kegiatannya masing-masing mulai kuatir melihat keadaan Widya pada suatu Minggu pagi. pada hari itu, Mertua si bahrul bangun lebih pagi dan menunggu saat-saat keluarnya Bahrul dari kamarnya. Hanya beberapa saat, yang ditunggu sudah keluar dengan tampang yang lebih parlente dari biasanya.
“Bagaimana tesis kamu?”.
“Eh, Ayah! Anu, sudah beberapa hari saya urus tapi belum kelar-kelar, maklum, dosen pembimbing saya sedang sibuk proyek” Bahrul menjawab gagap.
“Ada baiknya isteri kamu diperiksakan ke dokter, sudah beberapa hari saya amati ia tersiksa.” Bahrul ingin membantah, Tapi lidahnya kelu. Ia merasa ditegur lalu buru-buru ke kamarnya lagi tanpa sepatah kata pun.
“Ayahmu mau kita ke dokter, bersiap-siaplah! Saya masih punya banyak urusan.” katanya pada isterinya dengan kasar.
Dengan sempoyongan, isterinya bangkit dari pembaringan dan berhias seadanya lalu menyandang tas tangannya. mereka berangkat. Pada waktu tengah hari yaitu sekembalinya dari dokter dengan membawa jambu keprok yang dibelinya, Bahrul yang telah berada pada puncak kedongkolannya akhirnya kambuh dengan kebiasaan lamanya, hanya saja waktunya paling-paling dua sampai tiga jam. Sudah lima hari kejadian yang sama sepertinya hanya terulang saja, sedangkan ’masuk angin’ isterinya kadang berhenti kadang kambuh.

Pada suatu hari bahrul pulang membawa sekeranjang mangga muda.
“Pesanan isterimu ?” Tanya mertuanya yang menyambutnya dengan wajah sumringah.
Bahrul hanya mengangguk karena disergap gugup.
“Tidak usah gugup, santai saja. Mengetahui kita akan menjadi ayah untuk pertama kalinya memang mendebarkan, tapi itu hal yang wajar saja.”
Bahrul mengangguk lagi seolah membenarkan lalu segera berlalu ke kamar dengan pisau dapur
“Loh,…jambu keprok saya mana?” Sergah isterinya.
Bahrul keluar lagi, hendak mencari yang diminta isterinya, beberapa saat kemudian Ia kembali dengan sekeranjang jambu keprok.
Di hari lain masih dalam bulan itu, Bahrul tetap larut dalam kebiasaan ‘keluar beberapa jamnya,’ sementara kian hari tubuh isterinya kian tipis sebab tiap hari makan hati, dimulai sejak malam pertama resepsi pernikahan mereka. Bayang-bayang kelesuan dan kelelahan pada hari yang melelahkan itu seolah belum hilang juga hingga saat ini entah sampai kapan.
“Kamu suka betul makan mangga, Kira-kira seperti apa nantinya cucu saya ya?” Kata ibunya pada suatu hari ketika melihat mangga di keranjang tinggal tiga biji. Mendengar itu, isteri bahrul mengerutkan dahi tak mengerti.
“Cucu ?”
“Ya, cucu. Kamukan sedang hamil toh ?”
Isteri bahrul makin mengerutkan dahinya tak mengerti, ia menggeleng.
“Ya ampun, saya makan jambu keprok itu karena kawan saya bilang kandungannya ada yang mirip zat pada tomat, bisa menetralisir asam lambung. Tempo hari dokter bilang saya menderita maag kronis.”
“Maag kronis kok makan mangga muda banyak begitu ?” Ibunya ganti bingung.
“Mangga muda itu, bukan aku yang makan, tapi suamiku”
“Lho? Jadi kamu tidak hamil? Benar? Kalau begitu, apa yang terjadi dengan Bahrul?” Ibunya masih tidak percaya. Wajah yang sumringah hendak menimang cucu sudah sirna ganti kecewa.

Lewat magrib, Bahrul pulang menenteng mangga muda dan langsung ke kamar, disambut oleh amarah dan tangis histeris isterinya. Ribut-ribut dan cek-cok terjadi semalaman. Pagi-pagi betul, tatkala belum satupun orang rumah yang terjaga Bahrul keluar tergesa sehingga mertuanya tak sempat menyapanya. Pada sore harinya, Bahrul tak pulang. Juga ketika hari telah pagi kembali.

Pagi itu, Isteri bahrul mengunci diri di kamar dan tak pernah keluar lagi, sesekali mengerang-ngerang lalu suaranya hilang. Pada pukul 08:00 rumah lengang, orang rumah berangkat kerja, tinggal pembantu saja yang berada di rumah. Pukul 13:00, pembantu rumah menggedor-gedor kamar isteri Bahrul untuk makan siang tapi tak ada jawaban, ia mengintip dari celah daun jendela dan melihat isteri bahrul tengah tertidur. Pukul 16:00, mertua Bahrul laki dan perempuan pulang dari kantor, gelisah karena anaknya masih mengunci diri dan pembantu bilang belum makan apapun. Pukul 18:00 Mertua si bahrul menggedor-gedor pintu, tetapi sia-sia. Akhirnya, diputuskanlah untuk membuka pintu secara paksa. Mertua si bahrul meraung histeris menyaksikan anaknya terlentang di pembaringan, urat nadinya putus. pembantu rumah menghubungi pak RT. Sesaat kemudian, polisi tiba. Begitulah kesaksian pembantu rumah tangga dalam kesaksiannya kepada polisi yang memeriksanya.

Hasil visum dokter menyatakan kalau Isteri bahrul meninggal karena kehabisan darah, dipastikan bunuh diri. Dalam rahim korban juga ditemukan janin yang sedang tumbuh, usianya sebulan lebih. Mertua bahrul protes sebab dokter yang pernah memeriksa anaknya cuma mendiagnosis maag kronis. Sang dokterpun diperiksa, ternyata ada persekongkolan antara sang dokter dengan Bahrul maka keduanya ditahan. Sementara mereka ditahan, Bahrul meminta dibelikan mangga muda. Empat bulan kemudian kasus mereka disidangkan. Si Dokter dihadirkan sebagai saksi pada pengadilan dengan Bahrul sebagai terdakwanya, demikian juga sebaliknya. Dalam persidangan, terlihat perut sang dokter buncit sedangkan Bahrul tak tahan ingin makan mangga muda.

Sabtu, 08 September 2007

Kirimi Aku Bunga Kamboja*

Dok,...
Rumahmu terlalu putih, tak mampu aku menatap
Lihatlah, mataku silau bahkan telah buta
Hingga tak kutemukan jalan, agar boleh sekedar menyapamu
Kakiku terasa berat lagi lamban
Tanganku kurus, terlalu tipis
Tak mampu menjabat tanganmu, ganti terima kasih
Aku pulang saja ya?
Jangan lupa jenguk aku
Tak perlu bawa jarum suntik
Aku lebih suka bunga kamboja

*

Rabu, 05 September 2007

Selamat Buat Sarjana baru

"Jangan bermimpi untuk menjadi apa-apa sobat. Karena dunia di luar sana tidak membutuhkan orang yang cerdas dan banyak tanya, tetapi orang yang penurut dan dungu!!!" kata sebuah tulisan di koran kampus.

Selamat buat Aslam Fatwa, Andi Muhidin, Rinto Budiman, dan semua yang kini sedang menikmati gelar baru di belakang namanya. Ya, sebuah SE yang telah dibayar mahal. Selamat.

Traktirannya mana? - dream blog -

Sabtu, 18 Agustus 2007

Sang Pemburu

Baca sebelumnya: Sang Pemburu (Prolog)

Nafasnya tersengal-sengal, jantungnya berdegup hebat. Rasa lelah mulai menjalari pikirannya. Ingin rasanya ia segera tiba dan terlelap di pembaringan yang hangat. Ah, aku harus bergegas, ia bergumam. Sebentar lagi hari akan gelap. Ia memacu langkahnya. Matahari telah tersangkut di pepohonan, cahayanya menerobos menembus sela-sela dedaunan. Sementara itu kabut mulai turun, udara dingin menyeruak ke paru-parunya, menekan selaput hidung dan tenggorokannya hingga terasa perih. Sesekali giginya gemeletukan tanpa diinginkannya namun ia telah terbiasa, ia tetap berjalan bahkan semakin cepat. Keinginannya untuk segera berdiang di depan api hampir tak tertahankan lagi.


Jalan setapak yang dilaluinya mulai menanjak, langkahnya melambat bahkan semakin lambat saja. “Aku harus segera tiba di puncak tanjakan ini.” Begitu pikirnya. Dipindahkannya tungkai pemikul ke bahu sebelah kirinya, lalu setelah beberapa langkah dipindahkannya lagi ke bahu kanannya. Ketika tinggal beberapa langkah lagi ia segera tiba di puncak, bebannya dihempaskannya ke tanah. Tubuhnya di rebahkannya, bersandar ke sebatang pohon. Ia kembali mengatur nafas. Menghirup udara kuat-kuat, lalu menghembuskannya perlahan-lahan. Hal itu dilakukannya beberapa kali. Matahari sudah hilang tetapi semburat cahayanya masih menghiasi langit di sebelah barat.

Selang beberapa saat, anjing-anjingnya, yang beberapa hari ini menyertainya muncul dari semak-semak. Mereka juga nampak kelelahan, namun tetap lincah dan awas. Ekornya dikibas-kibaskan, lidahnya menjulur-julur. Anjing-anjing itu menghampiri dan menggosok-gosokkan badannya ke kaki tuannya dengan akrab. Dari puncak bukit itu, ia memalingkan pandangannya kearah selatan. Dari kejauhan, kelap-kelip seperti cahaya mulai terlihat, rumah-rumah terlihat samar dan tampak kecil. Kampungnya sudah cukup dekat dan tak beberapa lama lagi ia sampai.

Ia duduk sejenak, bebannya diletakkannya di samping. Tombak yang dijadikannya tungkai pemikul dipancangkannya ke tanah. Dipandanginya barang pikulannya; beberapa kerat sarang madu, seekor babi jantan tambun dan seekor anoa. Ia menghela nafas, lalu tersenyum puas. Isteriku musti bangga bersuamikan aku, anakku musti merengek minta diceriterakan bagaimana aku menaklukkan kedua binatang hebat ini. Semua itu terlintas dalam pikirannya, ia menghela napas lagi.

Dipandanginya kepala Anoa yang legam itu, tanduk runcingnya hampir saja mengambil nyawanya. Ia bergidik membayangkan pergulatannya dengan binatang lincah itu. Binatang yang tetap beringas meski tengah sekarat. Tetapi ia kemudian tersenyum bangga, Anoa adalah gambaran dari kehandalan seorang pemburu. Selain binatang itu sulit ditaklukkan, larinya juga sangat kencang dan hanya keberuntunganlah yang membuatnya dapat disentuh. Ia teringat saat pagi tadi, hari masih gelap dan ia masih terlelap kemudian terbangun oleh riuh suara anjing-anjingnya. Secepat kilat ia segera menyambar senjatanya dan berlari ke arah datangnya suara.

Di sebuah ceruk tebing, ia melihat anjing-anjingnya sedang bergumul dengan seekor binatang berwarna hitam. Anjing-anjingnya terpental ke kiri dan ke kanan, tapi gigi-gigi mereka mencengkeram kuat kulit binatang itu. Setelah sangat dekat dan dirasanya bahwa lemparan tombaknya tak akan meleset lagi, dilepaskanlah tombaknya ke arah jantung binatang itu dengan sekuat tenaga. Bret! Darah tersembur keluar dari celah-celah lubang yang dibuat oleh tombaknya diikuti jerit sang anoa. Tetapi tidak roboh, malah semakin beringas. Anjing yang masih menahannya terpental lepas dengan keras terkena tendangan kaki belakangnya.


Sang pemburu kaget bukan kepalang, anoa itu kini menghambur ke arahnya dengan tanduk yang mengacung kepadanya. Hanya refleks saja yang membuatnya membuang diri ke samping. Namun anoa itu segera berbalik dan kembali menyerang ke arahnya. Beruntunglah, saat itu ia sedang rebah ke tanah sehingga tanduk-tanduk anoa itu lewat hanya beberapa ruas jari di atas perutnya. Pada saat itulah ia menangkap tanduk sang anoa lalu menekan bagian kepala dengan memelintirnya ke tanah. Binatang itu meronta-ronta hendak melepaskan diri, tapi keseimbangannya telah hilang. Ia meronta, berputar. Sang pemburu mengikuti arah gerakannya dengan tekanan yang makin kuat. Anjing-anjingnya membantunya, menggigit, menarik pinggul dan kakinya sehingga anoa itupun jatuh ke tanah. Pada saat itulah, dengan kaki kirinya menginjak leher binatang itu, sang pemburu menarik parang di pinggangnya lalu menghunjamkannya tepat ke arah jantung. Sang anoa merejan, mengejang lalu meregang nyawa karena kehabisan darah.

Sementara babi itupun didapatkannya tidak dengan mudah. Kejadiannya kemarin siang, ketika Ia baru saja mengisi perut dengan bekal terakhirnya. Sebenarnya ia telah putus asa karena belum mendapatkan satu ekor binatang pun. Ia berencana untuk segera pulang saja sebab perburuannya kali ini tidak seperti biasanya. Saat beristirahat, rasa sakit yang amat sangat dari balik punggungnya mengagetkannya. Diamatinya keadaan sekelilingnya dan… Ai! Seekor lebah. Teringatlah olehnya, semalam cuaca terang benderang oleh cahaya bulan purnama. Itu pertanda kalau madu setiap sarang sedang melimpah. Ia mendongakkan kepalanya ke cabang-cabang pohon, menoleh ke kiri dan ke kanan. Tetapi tidak didapatkannya jua yang dicarinya.

Ia lalu berjalan membentuk lingkaran, semakin lama semakin besar lingkaran itu dan semakin jauh ia dari tempatnya semula. Tak lama kemudian, samar-samar telinganya menangkap suara dengungan. Ia mencari asal suara itu, berjalan ke arahnya. Semakin lama, suara dengungan itu semakin banyak dan keras lalu terlihatlah olehnya bonggol besar berwarna hitam menggantung pada cabang sebuah pohon. Ia tersenyum senang. Tak ada binatang, madu juga tidak apa-apa, katanya dalam hati. Ia lalu mulai mengumpulkan ranting-ranting kering dan dedaunan, ditumpuknya tepat dibawah sarang lebah-lebah itu. Tak lupa, dikumpulkannya juga daun-daun yang masih segar bersama ranting-rantingnya. Semua itu ditumpuknya menjadi satu.

Ketika ia hendak mengeluarkan batu api dari kantung kulit di pinggangnya, tiba-tiba terdengar olehnya riuh gonggongan anjing-anjingnya. Ia berhenti sejenak, lalu suara-suara itupun terdengar semakin jelas. Ia berjalan lagi, kemudian tampaklah olehnya di tanah, jejak-jejak baru babi hutan. Hm, ternyata kalian berkumpul di sini. Ia bergumam. Ia mulai berlari dengan tombak di tangannya. Parang yang tergantung di pinggangnya berayun-ayun, semak dan belukar tak lagi diperdulikannya. Duri-duri rotan merobek kulitnya, ia tetap tak perduli. Perhatiannya hanya tertuju pada suara anjing-anjingnya.

Semakin lama ia semakin dekat dengan kegaduhan itu, lalu dilihatnya ketiga anjingnya sedang bergulat dengan seekor babi yang besar. Seekor anjingnya mencengkeram leher, sementara dua ekor yang lainnya menggigit kaki dan pinggulnya. Anjing yang mencengkeram leher sang babi mulai kewalahan, kaki belakangnya terlihat sobek. Darah mengalir dari lukanya. Sang pemburu muncul dan mengayunkan tombak ke arah rusuk depan babi itu. Darah mengucur, Ia tidak melepaskan tombaknya tetapi sebaliknya di tekannya. Karena kaget, babi itu meliuk kearah sang pemburu tetapi ia melompat dengan tombak sebagai tolakan. Karena tekanan yang keras, babi itu pun ambruk ke tanah. Tombak menembus badan babi itu dan tertancap ke tanah. Hanya sesaat saja, babi itu lemas dan mati.

Ia memanggil anjingnya dan memeriksanya satu per satu lalu mencari dedaunan obat luka, dikunyahnya dan ditempelkannya pada luka-luka anjingnya. Setelah mengurus anjing-anjingnya, binatang buruannya itu dibereskannya. Bagian terbaik dari daging diirisnya lalu diberikannya kepada mereka satu-satu sebagai hadiah. Setelah itu, ia kembali ke tempatnya mengumpulkan dedaunan tadinya. Sejenak ia tak melakukan apa-apa, kemudian mengambil rotan-rotan kecil yang bertebaran di sekitarnya sebagai tali lalu diikatnya anjing-anjingnya pada sebatang pohon. Anjing-anjing itu dipagarinya dengan ranting lalu ditutupinya lagi dengan daun-daun yang lebar. Setelah dirasanya semua siap, Ia mulai menyalakan api pada tumpukan itu. Ditambahkannya daun-daun yang masih segar, maka asap putih pekat pun membubung menyapu semua yang berada di atasnya. Lebah-lebah berhamburan, panik dan terbang kian kemari mencari sasaran. Sang pemburu merapat ke nyala api sambil terus menambahkan daun-daunan dan ranting. Setelah dirasanya aman, ia mengeluarkan daun-daun basah yang belum terbakar itu sehingga hanya lidah-lidah api saja yang tersisa. Sang pemburu mendongak ke sarang itu dan amboi… sarang yang tadinya berwarna hitam kelam kini hanya berwarna putih kekuningan saja. Kantung kulit bekas wadah bekalnya disiapkannya, kemudian mulai memanjat lalu mengiris sarang itu dengan hati-hati lalu memasukkannya ke kantung kulitnya. Pada saat itu, hari benar-benar telah gelap. Sang pemburu memutuskan untuk menginap saja di tempat itu. Diambilnya segenggam madu, dimasukkannya ke mulutnya beserta sarangnya dengan lahap. Benar-benar nikmat, itulah makan malamnya. Ia kembali mengambil beberapa batang kayu kering, lalu membuat perapian.

.......................

Ia benar-benar bangga mengingat semua itu, nyeri luka dari kaki dan tangannya akibat duri dan belukar ataupun lebam dan memar di badannya akibat bergumul dengan binatang-binatang buruannya tak pernah dirasakannya. Baginya, semua itu adalah hiasan kelaki-lakiannya.

Wuaaah…ia mulai menguap, ia kembali berdiri lalu mulai berjalan lagi. Kali ini ia menuruni bukit itu, anjing-anjingnya mendahuluinya. Salah satu anjingnya yang terluka oleh taring babi di bagian pahanya tidak mengikuti anjing yang lain berlari tetapi berjalan beriringan dengan sang pemburu. Dalam malam yang mulai gelap itu, sesekali kaki sang pemburu terantuk atau juga terhalang oleh anjingnya. Tetapi kini ia berjalan semakin cepat dari sebelumnya bahkan dengan berlari-lari. Jalanan yang dilaluinya memang bukan lagi tanjakan. Barang-barang bawaannya; daging dan madu yang dipikulnya berayun dan bergoyang seolah menari seirama dengan hatinya yang selalu ceria. Cuaca dingin yang dibawa gelap malam tak dirasakannya, tubuhnya kembali berkeringat sementara kerlap kerlip cahaya dari rumah-rumah yang kini jadi panduannya semakin lama semakin jelas dan terang, semakin besar dan semakin dekat.

Bersambung ke Sang Pemburu (Epilog) - dream blog -

Sabtu, 14 Juli 2007

Sang Pemburu [Prolog]

Di suatu kala, waktu dimana titisan To Manurung memerintah tana Luwu’, tersuratlah sebuah kisah dari mereka; orang-orang yang memilih menjadi sekehendak apapun dirinya. Mengingkari takdir yang diletakkan di wajah mereka, orang-orang yang senang membuat takdir sendiri. Mereka adalah orang-orang yang lari dari sepenggal hidup menuju hidup sepenuh hidup: hidup yang menyemesta.

Di bawah keakraban matahari, dibelai sang rembulan, dalam dekapan rimba raya, dipandu bintang gemintang. Dan bila angin musim pun berubah, langit memberi pengajaran, bumi menempa hidup. Lalu jadilah mereka itu, anak-anak matahari. Yang langkahnya seperti siang dan malam, berkulit cuaca. Dinantikannya pagi sepenuh harapan, disongsongnya fajar dengan semangat sesegar embun pagi, dari dilaluinya dengan girang. Lalu terlelap dalam malam-malam kesyukuran.

Ladang-ladang mereka menggeliat di musim tanam, sawah-sawah mereka menarikan tarian ibu mengandung. Ketika musim panen tiba dapur-dapur mengepul sepanjang hari.

Tikar-tikar jamuan dihamparkan. Di setiap rumah Sengo dilantunkan, semua orang; besar-kecil, tua-muda, ma’kuranjen . Kaki-kaki dengan ketukan dan gerak tertentu menghentak lantai sampai rumah seakan hendak rubuh--tarian kesyukuran atas hidup sepenuh hidup.

Lalu hidup pun terus berputar, anak-anak lahir dan menjadi dewasa, orang-orang dewasa menemui kesudahan satu demi satu. Ya! Sesederhana itu. Tak ada kekuatiran, hanya kepolosan yang satu dengan kepolosan yang lain. Bergerak selaras dalam harmoni.

Sampai suatu ketika, kejahatan datang dari tempat-tempat yang jauh. Menghinggapi hati anak-anak matahari itu, membuat jiwa-jiwa mereka menjadi kerdil. Tunas-tunas pun layu sebelum tumbuh, teruna-teruna patah terkulai. Kehidupan pun menjadi suram...

Bersambung ke Sang Pemburu, kemudian Sang Pemburu (Epilog) - dream blog -

Selasa, 03 Juli 2007

Kalau Perempuan Tak Mau Beranak

Kalau perempuan tak mau beranak
Hingga bulunya putih akan bersabar si gagak
Menanti kanak-kanak terbahak riang
Di balik semak saat petang

Kalau perempuan tak mau beranak
Bau asap tak lagi mengganggu wangi pepagi
Sebab hari-hari lengang tak bertepi
Dalam cengkeraman hasrat menjadi lelaki

Tetapi ayam-ayam tak berhenti berkotek
Karena diinginkannya langit dalam asyik masyuk
Agar susunya tetap memasung mabuk
Lalu dimintanya lembu membuat tetek

Menghianati bayi-bayi bukanlah amanah emansipasi
Melainkan lahir oleh berkaratnya hati
Dalam takluk jerat ambisi
Sampai kodrat diumpat, tak mengerti
- dream blog -

Sabtu, 09 Juni 2007

Balada Negeri Jangkrik

Padang ilalang bermahkota bulan
Pada waktu senja menjadi liar dan egois
Memangsa terang satu persatu
Di negeri jejangkrik suatu ketika

Ekor-seekor terpekik kaget
Undur selangkah beringsut cerewet
Di pohon ampun tungkai tersodor
Malahan jempolnya remuk terinjak laknat,
Rumah yang ramai sepilah sudah
Sebab tinggallah jangkrik seekor
Jarinya remuk kakinya rusak
Tak lagi mampu meloncat, mengungsi

Sedikit-sedikit ia merayap
Dengan sungut di setiap ingsut
Dalam kesepian ia meratap
Dengan ratapan yang juga sepi
Padang ilalang bermandi air mata,
Saling tusuk anaknya sendiri
Beberapa tumpas pasrah paksa
Di atas trotoar padang ilalang
- dream blog -

Sabtu, 26 Mei 2007

Sindrom Menara Babel (selesai)

Sistem Pendidikan Dan Integrasi Bangsa

Bahwa sindrom menara babel menggerogoti manusia, peradaban dan kebudayaannya. Akibatnya mereka tak lagi mengenal dirinya satu sama lain dan karena itu tercerai-berai. Kenyataannya setelah manusia-manusia berpenyakit itu berpencar ke seluruh bumi, insting dan akal yang mereka miliki memungkinkan mereka tetap berkembang biak dengan pesat dan membangun peradaban dan kebudayaan mereka yang juga terinfeksi.

Dalam sejarah kemanusiaan, selalu ada manusia yang berhasil membebaskan dirinya: dari Musa sampai Muhammad (nabi-nabi), dari Gautama sampai Kong Fu Tze, dari Gandhi, Lincoln sampai Sukarno (negarawan), para filsuf besar dan banyak lagi. Mereka adalah manusia-manusia luar biasa yang menjadi cahaya bagi setiap zamannya dan berusaha menjadi penyembuh. Namun bagaimanapun usaha mereka, untuk bebas dari sindrom ini tetap bergantung pada manusianya sendiri.

Hanya pengetahuanlah obat dari penyakit ini; kesadaran (consentia) yang tanpa akhir yang hanya diperoleh melalui proses belajar tanpa akhir pula. Zaman kita mengenal sistem pendidikan, dibentuk oleh manusia untuk tujuan pengetahuan, tersusun dari elemen-elemen yang bekerja menurut fungsinya masing-masing menurut kaidah-kaidah tertentu. Tetapi iapun dapat terkontaminasi, karena dilahirkan oleh manusia yang juga terinfeksi. Ilustrasi tentang seorang penderita yang pernah saya tulis sebelumnya mencerminkan realitas, fakta dan empirikal sifatnya. Ia sudah melihat penyakit itu dan karena itu ia meratapinya. Halaman-halaman ini tak akan mampu menampung keluhan-keluhan lainnya. Belum lagi bila memakai referensi dari belahan dunia lain, misalnya pandangan tokoh–tokoh sampai kritikan-kritikan para pemikir besar. Pandangan-pandangan mereka telah cukup menyinari lubang-lubang dalam sistem pendidikan di dunia mereka namun belum menghasilkan apa yang kita harapkan. Penyakit ini hanya berubah bentuk ke bentuk yang lain. Lubang-lubang tetap menganga seolah dengan sengaja dipertahankan. Bukan tanpa alasan, saya kira memang tak ada satupun saat ini yang bebas dari sindrom ini. Bahkan agama atas nama moralitas pun sering dijadikan alat kejahatan. Di negara ini, tidak jauh berbeda bahkan lebih parah.

Berikut ini, saya mencoba menyoroti sindrom yang mengakar kuat itu.
Di sebuah negara yang cendekiawannya/ intelektualnya/ para jeniusnya/ tokoh-tokohnya intens menyoroti soal-soal pendidikan bahkan secara keras, masih terdapat banyak bolong-bolong, apalagi di negara kita di mana orang-orang yang berkecimpung pada soal itu hanya mulai berpikir saat menjelang pemilu dan penyusunan anggaran. Memang kita melihat ada beberapa perubahan yang menarik perhatian dewasa ini, antara lain peningkatan anggaran pendidikan dalam APBN dan kontroversi Ujian Akhir Nasional (UAN). Soal perubahan nominal anggaran pendidikan itu, hendaknya tidak disebut peningkatan, kesannya terlalu politis. Saya justru melihat bahwa perubahan itu lebih didasari oleh perubahan kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) dan belum merupakan usaha yang serius untuk melayani masalah-masalah pendidikan. Betapapun besarnya anggaran yang kita alokasikan apabila sistem yang menjadi roh pendidikan menutup mata terhadap ketidak-beresan dirinya maka itu adalah sebuah kesia-siaan, sebut saja misalnya masalah ketidak-beresan itu adalah ketidak-adilan. Siapa yang memiliki hak atas pendidikan bila pendidikan sudah menjadi satu komoditi ekonomi? Inilah salah satu bentuk yang diambil oleh sindrom itu.

Perubahan anggaran dapat kita jadikan indikasi betapa modal telah menjadi kekuatan utama yang menggerakkan pendidikan kita dewasa ini, bukan lagi rasa ingin tahu kebenaran sebagaimana hakikat manusia. Fenomena menjamurnya institusi-institusi pendidikan swasta telah menunjukkan keberadaannya sebagai salah satu komoditas ekonomi prospektif ataupun perubahan status Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menjadi Badan Hukum Pendidikan (BHP). Motif ekonomi telah menjadi titik tolak dan tujuan pendidikan, di masyarakat ada ungkapan "Apa guna pendidikan bila tidak ada uang? Apa guna uang bila tak berpendidikan?" Sebuah jargon, manipulatif dan hegemonik dan sayangnya telah menjadi kesadaran masyarakat secara umum. Apa lacur, toh masyarakatlah yang menilai, membentuk dan menghakimi; 'penguasa sejati' kata demokrasi, tapi benarkah?

Massa manusia seperti binatang, mendekati ciri simpanse tidak tahu apa-apa. Namun unit-unit pembentuk massa ini adalah makhluk netral, ratu lebah yang terhormat, hukumnya: kita dimanfaatkan sebagai atom-atom kasar jika kita belum berfikir. Sesudah kita berfikir maka kita manfaatkan massa itu. (Ralph Waldo Eemerson, Alam dan manusia)


Dewasa ini apakah kita sudah berpikir? Kita sudah berfikir tapi pikiran kita terberi, terprogram, dibentuk. Ada yang menguasai kita, itulah makhluk netral yang menjadi ratu lebah. Ia memang menguasai kita, tetapi iapun dikuasai oleh apa yang dipikirkannya. Lalu bagaimana bila yang dipikirkannya dikuasai oleh kekuatan yang lebih besar dari dia seperti pikiran kita(masyarakat) dikuasai olehnya (sang ratu lebah)? Maka kitalah yang harus menjadi ratu lebah; yang belajar terus-menerus agar tersadar terus-menerus.

Polemik ujian akhir nasional jangan dikira terlepas dari prinsip-prinsip yang digariskan oleh sang ratu lebah yang terhormat dan yang mengendalikannya, iapun bagian dari sistem. Kebijakan ini memang ditelurkan oleh wakil-wakil kita di Dewan Rakyat, tapi mereka pun bukannya tanpa penguasa. Disanapun ada kekuatan dominan.

Agar kritik ini tak berkesan ideologis (kiri, kanan, poros tengah) baiklah kita tinjau menurut kapasitas kita. Apabila alasan penerapan UAN adalah Uji Kompetensi atau Uji kemampuan siswa maka tidak bisa tidak, pertanyaan yang mendasarinya adalah sudah sampai sejauh mana siswa menyerap jenis-jenis pengetahuan yang diberikan? Tentu saja indikator-indikator dari sejauh mana serapan/penguasaan dan jauh yang harus diserap/dikuasai harus jelas.

Bila alasan penerapannya adalah proses saringan maka alasan itu tidak memiliki landasan sama sekali. Saringan untuk apa? Yang berkompeten menyaring dan memberikan penilaian adalah masyarakat, lingkungannya ataupun komunitas di mana ia ingin menjadi bagian. Bila alasannya adalah proses saringan untuk keluar dari institusi pendidikan maka tuduhan bahwa sekolah adalah penjara benar adanya dan sekolah adalah pelanggar HAM yang paling keji, sekolah akan menjadi momok, betapa tidak? Proses itu telah mengambil alih tanggung jawab terhadap integritas manusia yang telah dihakiminya secara paksa.

Kecuali tujuannya tak lebih sebagai fungsi ke dalam untuk menilai, mengevaluasi kualitas persekolahan maka UAN tak bisa diterima. Bila sebuah keharusan (setelah semua prasyarat-prasyarat dipenuhi) penerapan UAN demi penerapan ataupun standarisasi kualitas siswa dari Sabang sampai Merauke maka Ujian Nasional sekolah dapat dilakukan pada tingkat-tingkat atau kelas sebelumnya(I & II) dan sama sekali bukan untuk menentukan lulus tidaknya ia dari sekolah. Karena sekali lagi, lulus atau tidaknya mereka dalam hidup tidak akan ditentukan oleh 'penguasa pendidikan' tetapi oleh masyarakat dan lingkungannya. Toh proses belajar tak pernah berhenti bukan?

Sistem pendidikan memiliki peran yang sangat sentral dalam usaha penyembuhan bangsa kita dari sindrom ini, alasan-alasannya telah dipaparkan sebelumnya. Meski demikian, sistem juga berpotensi mencerai-beraikan bila ia terkontaminasi karena tak ada satu hal pun yang benar-benar bebas di luar kesadaran yang terus menerus. Kita mesti berjaga-jaga selalu. Sindrom ini semacam bahaya laten, ia bisa kambuh kapan saja, yaitu pada saat kesadaran mengalami anti klimaks. Tak ada satu hal pun yang boleh dimapankan, apalagi dikultuskan kecuali kemanusiaan yang mengetahui hakekatnya.

Dalam sejarah berbangsa kita, Soekarno adalah salah seorang tokoh yang pernah terbebas. Ia pernah menjadi ratu lebah kita. Disayangkan, bahwa di akhir hayatnya ia kehabisan tenaga melawan sindrom ini dan kembali tergerogoti. Meski begitu, pada masa-masa kesembuhannya ia melahirkan sebuah konsep: Pancasila, yang sampai saat ini masih tetap merengkuh kita semua meskipun tengah sempoyongan. Timor Timur tak lagi mampu di peluknya, Aceh dan Papua sedang meronta-ronta, potensi-potensi lain di sekitar kita juga sedang mengatur siasat. Bagaimanapun, Pancasila hanyalah sebuah konsepsi yang juga dapat dikuasai oleh sindrom itu. Harus ada yang tetap membuatnya terjaga dari tidur agar tak berakhir Nusantara tercinta ini.

Proses mencari kebenaran sudah menjadi perhatian utama manusia dari segala zaman, itulah fitrah manusia. Amat tak bijak bila tujuan mulia itu dibelokkan dari tujuannya yang semula, maka kitalah pengkhianat-pengkhianat terhadap kemanusiaan kita sendiri yang seharusnya bertanggung jawab atas hal ini.

Kalian yang di istana-istana gading, keluarlah dari persembunyian kalian, tugas memanggil! Kalian yang serakah, menyingkirlah dari jalan-jalan pengetahuan dan sadarlah bahwa kalian tengah bunuh diri tanpa kalian sadari!


Pengetahuan yang memanusia, kita tahu bukankah pengetahuan untuk pengetahuan itu sendiri tetapi pengetahuan yang memaslahatkan segala umat dan membawa rasa syukur segala manusia tanpa kecuali.

Bila tugas pemerintah terlalu banyak atau bila pemerintah tak mampu menangani pendidikan dan persoalan-persoalannya dan ataupun bila pemerintah tak mampu melepaskan diri dari "nafsu-nafsu" (sindrom) yang menguasainya maka kembalikanlah otoritas pengetahuan itu pada para bijak (yang telah sembuh). Siapa para bijak? Para bijak ada di antara kita, bukan di gedung dewan yang terhormat, bukan di istana negara, juga bukan di menara gading tapi yang bijak ada di jalanan, di kolong-kolong jembatan, di rumah-rumah sakit, sedang bersama orang-orang yang lari dari hidup, di sekitar kita berbagi pengetahuan dengan tulus tanpa pamrih, yang berkata bahwa pengetahuan bukan miliknya seorang, bahwa temuan-temuannya bukanlah hak kekayaan intelektualnya (HAKI) sendiri tetapi telah digalinya dari semua manusia dan seluruh alam yang oleh karena itu adalah milik bagi semua semua.

Para bijak akan menerangi kita dengan pengetahuannya tanpa tekanan dari apapun dan siapapun. Mereka takkan menginginkan hidup kita karena mereka telah memiliki hidup sendiri. Mereka juga tak akan menentukan apakah kita lulus atau tidak dengan lembar jawaban pada suatu saat, karena kita sendirilah yang akan mengetahui dan menanggung resiko dari semua itu, maka kitalah yang akan memacu diri untuk meluluskan diri. Tidak akan ada seremoni perpisahan di sekolah-sekolah karena kita akan terus bersama setiap waktu. Kita dapat berjumpa dengan mudah saat membutuhkan mereka ataupun ketika mereka membutuhkan kita. - dream blog -

Senin, 21 Mei 2007

Sindrom Menara Babel (II)

Inilah salah satu penderita syndrom itu, penderita yang mulai menyadari dirinya dan sedang berusaha melihat batas-batas yang mengungkungnya, juga harapan harapan kesembuhannya:


“Satu-satunya alasanku untuk tetap tidak mengambil jarak dengan dunia kampus dan sekolah -Pendidikan- hanyalah karena soal akses. Hal apa yang terkait dengan pengetahuan yang tidak kita dapati di sana? Bukannya aku tak tahu menghargai, aku hanya tak dapat menerima penghargaan yang tak layak aku dapatkan. Aku menyebut itu penghinaan. Akses, sekali lagi soal Akses, akar kesempatan-bukan berarti aku mencuri dari mereka. Aku percaya di dalam diriku ini membara potensi dari segala, gagasan-gagasan meronta minta penyaluran tetapi katupnya seolah tersumbat (syndrom menara babel). Tetapi cukup sudah, aku tak ingin lagi. Aku akan tertunduk di mata mereka selama beberapa masa dan setelahnya, yaitu ketika aku siap, mereka akan kubuat malu melihat masa lalunya.

Lihatlah lepasan-lepasan sekolah itu... Tengoklah sarjana-sarjana itu, bisa apa sekerup tanpa mesin? Tanpa daya? Toh sebuah mesin tetap membutuhkan programmer dan operator.

“Individu kehilangan hakekat dirinya sendiri, namun secara sadar ia anggap dirinya bebas dan hanya tunduk pada dirinya sendiri saja alias terbenam dalam khayal tentang kejayaan individualitas” Erich Fromm, Mendidik si Automaton (manusia-manusia yang terinfeksi syndrom Menara Babel)


Ketika kau tengok pula ke rumahnya, di sana terpampang ijazah dan foto wisuda, sebagai kebanggaan. Tapi benarkah mereka bangga? Yang kulihat hanya rasa malu yang ditutupi dengan make up tebal. Mereka kemudian dicibir oleh masyarakat sendiri, membuat pendidikan tersipu-tersipu dan ketersipuannya itu menghina pengetahuan. Andai pendidikan hari ini surut ke titik nadirnya sekejap saja, maka kita boleh mengharapkan era baru kebangkitan pengetahuan. Ledakan-ledakan kreasi dan penciptaan akan menghiasi hari-hari, struktur masyarakat akan terlepas tak berkait lagi, terombak sampai tak dikenali lagi. Maka akan terlihat bahwa pendidikan sama sekali tak hubung-menghubung dengan status sosial. Saya sama sekali tak sedang mengusung gagasan baru, inilah gagasan usang yang saya angkat kembali dari tumpukan-tumpukan frustasi anak-anak sekolahan, sebagai bentuk protes. Kami tak butuh tanggapan apa-apa, saya hanya sedang menyemangati diri saya sendiri. Tanpa larangan itu pun kami tak akan mengambil apa-apa dari kue masa depan kalian karena kami menginginkan kue kami sendiri, kue yang berasal dari tangan kami sendiri. Mungkin kadang-kadang tak terasa enak tetapi kami akan menikmatinya dengan sangat puas.

Diantara kami ada yang akan bunuh diri, membakar sekolah, mendendam para guru dan dosen, menjadi penjahat di jalan, mengganggu nyenyak tidur kalian, mengendap-ngendap di ruang kerja kalian, menaklukkan anak-anak gadis kalian. Bila tidak maka kamilah yang akan menentukan berapa besar gaji kalian, berapa besar bonus kalian, berapa besar uang belanja isteri dan pacar kalian, proyek-proyek yang kalian tangani, buku-buku yang harus kalian benci dan yang harus kalian baca, dan banyak lagi yang lain. Nantikanlah beberapa masa lagi, sebab itulah cambuk bagi kami, yang akan menjadi pengungkit bagi keputusasaan kami di masa lalu. Maka kita pun telah terhubung dalam sebuah lingkaran setan yang sama, kami adalah bayang-bayang dalam mimpi-mimpi kalian.

Pendidikan kalian melahirkan apa yang kalian sukai dan menggilas siapapun yang tak pantas menerima kesukaan kalian. Jangan menganggap hal ini terlalu mengada-ada; teliti dan amatilah lebih dulu bersama-sama buktinya lalu sesalilah. Pendidikan bagi kalian adalah soal layak atau tidak layaknya kami memperolehnya, tetapi bagi kami adalah bahwa setiap manusia pantas dan berhak. Segala yang kami miliki untuk pendidikan telah kami berikan dan apa yang kembali kepada kami ? Robot-robot bernyawa yang tidak berguna, yang di kepalanya hanya ada uang dan hidup nikmat, tetapi juga frustasi dan terasing. Bukankah kalian telah mengambil hidup anak-anak kami dan menggantikannya dengan ambisi kalian? Dan kalian masih ingin mengutip penghormatan? Bila pada masa kolonial dan sesudahnya (dimana orang-orang yang memegang peranan sesudahnya adalah produk kolonial), kami frustasi oleh sistem ganjaran, sekarangpun masih sama seolah waktu bergerak mundur dengan tata nilai yang samar-samar tak berbeda. Kalau pada masa itu ganjaran adalah cambuk rotan, tinju dan rasa rendah diri sebagai pribumi, maka hari ini ganjarannya adalah nilai yang sentimentil, gilasan sistem penilaian ujian, dan rasa tak berguna sebagai manusia. Maka bila pada masa revolusi amarah dan frustasi kami tersalur di medan perang, hari ini tersalur lewat tawuran di jalanan, narkoba sampai todongan terhadap rasa berkuasa kalian.

Biarkan pendidikan menemui titik baliknya, maka kita boleh mengharapkan era kejayaan ilmu pengetahuan yang baru. bukankah sudah terlalu lama kita hanya mendalami pengetahuan zaman baheula yang mulai mengering? Lambat laun semua itu mulai menjadi mandul diterpa masalah-masalah muthakir. Tetapi rasa-rasanya itu akan sangat sulit sebab telah dipastikan siapa yang boleh membuat temuan baru dan siapa yang hanya berhak menggunakan; juga siapa yang tak punya hak apa-apa, tapi berkewajiban menyukseskan dengan ikhlas ataupun terpaksa bila dibutuhkan.”


Kita berada di suatu masa di mana pendidikan menjadi tiran (oleh dominasi satu kekuatan tertentu); yang tidak berpengetahuan akan dilindas oleh hidupnya sendiri, dunia akan berbalik menaklukkannya. Di alam sadar kita -yakni masyarakat- siapa yang tak butuh pendidikan? Yang tidak berarti telah bersiap untuk tersingkir (baca: mati) secara perlahan-lahan dari kehidupannya di masyarakat. Mengingat nilai sosialnya di masyarakat, setiap keluarga berusaha mengerahkan seluruh sumber dayanya untuk mendapatkan itu dan bahkan membuat eksistensi keluarganya menjadi terancam. Belum lagi dengan tidak adanya jaminan bahwa setelah semua yang dikorbankannya ia akan mendapatkan harapannya meskipun itu hanyalah selembar ijazah. Maka masyarakat dan ilmu pengetahuan pun menjadi pembunuh berdarah dingin (lihat fakta di sekitar kita) dan telah menjadi akar dari beberapa kejahatan.

Demikian kisahnya, pada detik inipun dia masih terus bergelut dengan penyakitnya. Entah sampai kapan...

(mungkin bersambung) - dream blog -